Feeds:
Tulisan
Komentar

SEKEPING MALAM

Heidelberg, 1 Februari 2010

Sahabatku Sayang,

Jam berdentang sebelas kali beberapa menit yang lalu..

Apa kau suka suara dentang jam? Aku benar-benar tidak menyukainya. Kalau sedang bersama orang lain atau melakukan aktivitas yang menyenangkan suara itu menjadi semacam perusak kesenangan, seperti seorang nanny yang memperingatkanmu kalau kau sudah terlalu lama bermain dan sudah tiba waktunya untuk pergi tidur. Kalau sedang mengerjakan sesuatu, bunyi dentang itu menegaskan akan adanya waktu yang tak bosan-bosan mengejar. Kalau sedang sendirian suaranya mengundang datangnya rasa sepi.

Suara dentang itu berasal dari lantai satu. Jam tua itu umurnya barangkali beberapa kali lipat umurku. Sepertinya hampir semua rumah bangsawan eropa bahkan yang berada di pedesaan memiliki jam yang seperti itu. Jam itu sepertinya terbuat dari pewter, tapi ada kemungkinan bahan perak juga. Aku tidak tahu banyak tentang logam-logam. Dulu seseorang meletakkan jam itu di pojok, di dekat lukisan (reproduksi) Sunflower-nya Van Gogh, kemudian seseorang yang lain memindahkannya ke koridor di parlor dan tetap ada disana sampai sekarang. Jam itu tidak terlalu besar tapi suaranya dapat terdengar di seluruh rumah, bahkan sampai ke kebun. Aku tidak suka jam itu. Seringkali aku terdorong untuk menyabotasenya, mungkin menaruh sepotong logam di roda-roda mesinnya, tapi aku tidak pernah tega merusak sebuah karya seni jadi kubiarkan saja dan mencoba bertoleransi dengan suaranya yang tidak kusukai. Aku tahu di dalam hidup terkadang orang harus menerima apa yang tidak disukainya.

Sahabatku sayang

Aku sedang mendengarkan Clair de Lune-nya Debussy. Claire de Lune dalam bahasa Perancis berarti cahaya bulan.

Dari tadi aku mencari-cari bulan di langit. Tidak tampak di sisi langit yang kulihat dari jendela kamarku, mungkin bulan sedang berada pada sisi lain. Yang terlihat malah bintang-bintang yang jumlahnya banyak sekali. Di musim dingin bintang-bintang terlihat lebih hidup, sinarnya lebih terang dari musim-musim yang lain. Seolah-olah langit malam yang kelam bergerak menjauhi bintang-bintang itu sehingga mereka tampak mendekati kita dengan sinarnya yang sangat cemerlang. Sewaktu kecil ada bintang yang kusukai. Namanya Lintang Panjer Sore. Dia sudah muncul walaupun hari belum terlalu malam. Ketika sudah agak besar aku tahu bahwa ternyata itu bukan bintang melainkan sebenarnya adalah planet Merkurius yang memang kadang-kadang tampak di langit. Aku ingat sebuah syair lagu yang lucu, aku sudah lupa lagunya, hanya ingat sepenggal syairnya. Bunyinya kira-kira begini “Jika kau meninggalkan aku maka aku akan menghabiskan malam dengan menghitung bintang-bintang” Lucu sekali bukan? Tapi sepertinya kelihatannya hal itu masuk akal. Konon, Hamengku Buwono II pernah tertarik pada seorang wanita, begitu tertariknya sampai-sampai dia melupakan permaisurinya. Permaisuri yang patah hati karena suaminya memiliki kekasih lain menghabiskan malam dengan memandangi langit, lalu karena dia suka membatik maka hal itu memberinya inspirasi untuk menggambar bintang-bintang, jadilah apa yang kita kenal sekarang dengan motif truntum itu. Dia membuat motif itu dengan begitu indahnya sampai menarik kembali perhatian sang raja. Mungkin karena itulah truntum dianggap melambangkan kesetiaan.

Bintang-bintang yang banyak sekali sepertinya memberi gambaran yang agak ganjil bagi salju yang menumpuk di tanah. Semacam komposisi yang menggetarkan. Sesuatu yang kadang-kadang membuatku berpikir bahwa aku sedang berada jauh dari kenyataan.

Sahabatku sayang,

Apakah yang disebut sebagai kehidupan yang sesungguhnya itu? Kehidupan yang singkat namun diisi dengan banyak hal ataukah hidup berdasarkan apa yang kita yakini sepenuh hati? Keduanya tampak sangat berbeda bukan?

Aku merasa tidak pernah berubah. Cermin barangkali dapat menangkap perubahanku secara fisik. Dulu sepertinya aku dapat melihat cahaya di kulitku ketika aku tersenyum pada cermin. Sekarang aku melihat cahaya itu hanya tinggal sesuatu yang tampak samar-samar saja. Garis-garis tubuhku tidak berubah sama sekali sejak sepuluh tahun yang lalu, aku masih bisa memakai baju-baju lama. Terkadang aku berpikir aku membekukan waktu di dalam badanku. Waktu bagiku, seolah angin semilir yang hanya melewatiku saja dan tidak memberikan pengaruh apa-apa kecuali sedikit sekali. Aku telah mengabaikan waktu sejak lama dan sepertinya itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya. Saat aku sangat yakin aku telah menjadi tua adalah saat aku membaca buku dan novel, tiba-tiba saja, entah bagaimana, tokoh-tokoh yang ada di dalamnya terasa terlalu muda bagiku. Tapi itu sesuatu yang bukan apa-apa, bukan sesuatu yang bisa merisaukan aku. Apakah itu karena aku merasa nyaman dengan hidupku ataukah karena sebenarnya hidupku itu hampa? Aku sendiri tidak mengerti.

Aku sedang menerjemahkan sebuah buku tentang tari modern. Memikirkannya bersama bintang-bintang membuatku teringat sebuah kata ‘kesia-siaan’. Sebuah riset (aku melakukannya akhir-akhir ini, dan buku ini juga merupakan sebuah hasil riset) terasa seperti jatuh cinta pada seseorang yang tidak kukenal. Seseorang yang tidak pernah kutemui namun berada sangat nyata dalam imajinasiku. Sesuatu semacam khayalan yang kubiarkan bergerak semaunya sendiri. Jika aku merenungkan tentang hal itu, kata ‘kesia-siaan’ itu berayun-ayun seperti gema lonceng jam di kepalaku, dan kemudian aku merasa akan terbenam dalam sebentuk perasaan sentimentil yang melahirkan rasa iba. Ini adalah hal yang entah bagaimana terasa sangat ganjil sekaligus sangat biasa untuk dipikirkan pada malam-malam di musim dingin. Barangkali orang yang memikirkannya memang sudah benar-benar tercerabut dari kenyataan atau jika tidak, dia memang menyukai hal-hal yang demikian.

Penuh cinta

YKP

SUARA HUJAN DAN SALJU

Heidelberg, 18 Januari 2010

Sahabatku sayang,

Suhu di luar minus satu derajat Celcius. Itu kata thermometer tua kami. Menurut Yahoo suhu sekarang minus tiga derajat Celcius. Aku lebih percaya pada thermometer itu. Semacam rasa percaya pada sesuatu yang dianggap lebih kompatibel hanya karena telah begitu akrab.

Salju jatuh berderai tipis-tipis, walau begitu aku sama sekali tidak melihat adanya kemungkinan untukku bisa berjalan-jalan di luar. Aku tidak diijinkan untuk pergi lebih jauh dari halaman berubin. Kalau aku bersikeras turun dari tempat tidur aku akan mendengar omelan “You are tireder than you think you are”

Sekarang jam sembilan pagi. Menu hari ini adalah bubur beras dan kacang-kacangan yang dimasak di dalam susu dan sup kental berwarna kemerahan terbuat dari tomat yang dipanggang sebentar lalu diblender dan dimasak selama satu jam bersama potongan-potongan daging sapi dan daun basil. Tolong jangan bertanya bagaimana rasanya, karena ini sungguh menu yang tidak romantis untuk dipikirkan apalagi dimakan. Tapi mungkin aku harus memakannya dengan rasa terima kasih karena sepagian ini aku belum melakukan satu pun hal baik yang membuatku pantas menerima kasih sayang yang demikian.

Sahabatku sayang

Seperti apakah waktu dalam pandanganmu? Apakah seperti tirai jendela yang membuka dan menutup dengan cepat jika kita menariknya? Ataukah seperti tetesan air, perlahan-lahan, terus menerus, diam-diam lalu tanpa terasa telah menghancurkan sebuah batu?

Aku merasa waktu telah menghancurkan aku tanpa kusadari. Aku merasa retak, nyaris pecah seperti kepingan-kepingan puzzle yang terkena benturan dengan keras dan terbalik. Setiap kali terbangun di pagi buta, aku bertanya pada diriku sendiri, siapakah diriku dan apa artinya diriku dalam semesta ini. Sebuah pertanyaan yang dalam sekejap selalu bisa menghilangkan keinginanku untuk kembali tidur. Pada umur delapan belas tahun Ali ra telah memimpin pasukan, menganggap nyawanya terlalu murah dibanding apa yang dia imani. Pada umur tiga puluh aku masih saja mengeluhkan hidupku dan terkadang menganggapnya sangat penting, bahkan mungkin tanpa sadar telah meletakkannya di atas keimanan. Sebuah perbandingan yang jauhnya nyaris seperti timur dan barat, bukan?

Sahabatku sayang

Aku sedang mengerjakan thesisku. Aku sudah mengerjakannya sejak tahun lalu dan berencana menyelesaikannya sebelum bulan Maret tapi sepertinya lagi-lagi aku harus menundanya. Dikelilingi buku-buku, opini-opini dan data-data aku merasa seperti anak kecil yang terkunci di dalam toko permen. Pada mulanya sangat bersemangat, bingung memilih permen mana dulu yang akan dicicipi, namun kemudian perlahan-lahan merasakan akibat permen-permen itu di perutku, menjadi bosan dan mulai rewel. Aku selalu tertarik pada banyak hal tapi ketertarikanku tidak pernah berumur panjang. Dan tidak seperti anak-anak itu, aku tidak memiliki energi yang demikian besar. Walau sering merasa resah tentangnya tapi kupikir barangkali yang paling cocok bagiku adalah musim dan cuaca yang selalu berganti-ganti dan tidak bisa diduga.

Sahabatku sayang

Sekarang aku sedang mendengarkan enka. Musiknya sangat kaya dan liriknya puitis seperti gending Jawa. Lagu yang sedang kudengarkan berjudul “Amagi Goe” dinyanyikan oleh Sayuri Ishikawa. Lagu ini bercerita tentang seorang wanita yang dikhianati suaminya namun demikian dia masih tetap mencintainya. Lagu ini sungguh seperti membiarkan diri berjalan di malam berkabut, membuat seseorang lupa jalan pulang.

Seorang bibiku menikah dengan pria Jepang. Mereka tinggal di Kobe. Aku pernah tnggal besama mereka selama hampir satu tahun untuk menghibur hatiku akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh seorang yang kucintai. Waktu itu sup konbu, pohon momiji dan enka mengobati luka hatiku. Sayangnya aku tidak ingat lagu yang sering kudengarkan dari piringan hitam waktu itu, hanya bisa kuingat kata-kata ‘angin bertiup dari hutan’ yang ada di dalamnya. Gara-gara seorang teman aku kembali mendengarkan enka.

Aku mendapatkan nama jepang Amane Takenaga. Amane berarti suara hujan, sedang Takenaga adalah nama keluarga pamanku. Aku tidak tahu kenapa aku diberi nama itu. Barangkali suara hujan telah dengan baik sekali menyembunyikan suara tangisku.

Suara hujan itu hampir serupa dengan salju ini, keduanya sama-sama menggambarkan keindahan yang berasal dari kesedihan. Kau tahu, aku tidak pernah takut untuk menangis. Air mata akan sama indahnya bagiku seperti sebuah kesedihan yang melahirkan puisi-puisi yang menyentuh hati, sama romantisnya seperti suara hujan dan salju yang turun ini. Aku akan dengan senang hati menerima kesedihan-kesedihan dalam hidup dengan cara yang sama antusiasnya dengan aku menikmati kebahagiaan-kebahagiaan yang ada di dalamnya.

Penuh cinta

YKP

隠しきれない 移り香が
いつしかあなたに 浸みついた
誰かに盗られる くらいなら
あなたを殺していいですか
寝乱れて 隠れ宿
九十九折り 浄蓮の滝
舞い上がり 揺れ堕ちる肩のむこうに
あなた山が燃える
何があっても もういいの
くらくら燃える 火をくぐり
あなたと越えたい 天城越え

口を開けば 別れると
刺さったまんまの 割れ硝子
ふたりで居たって 寒いけど
嘘でも抱かれりゃ あたたかい
わさび沢 隠れ径
小夜時雨 寒天橋
恨んでも 恨んでも 躯うらはら
あなた山が燃える
戻れなくても もういいの
くらくら燃える 地を這って
あなたと越えたい 天城越え

走り水 迷い恋
風の群れ 天城隧道
恨んでも 恨んでも 躯うらはら
あなた山が燃える
戻れなくても もういいの
くらくら燃える 地を這って
あなたと越えたい 天城越え


kakushi kirenai utsuri gaga
itsushika anata ni shimitsuita
dare ka ni torareru kurai nara
anata o koroshite ii desu ka
nemidarete kakure yado
tsuzuraori joren no taki
mai agari yure ochiru katana no mukou ni
anata … yama ga moeru
nani ga attemo mou ii no
kurakura moeru hi o kuguri
anata to koetai amagi goe

kuchi o hirakeba wakareru to
sasatta manma no ware garasu
futari de itatte samui kedo
uso demo dakarerya atatakai
wasabizawa kakure michi
sayo shigure kanten bashi
urandemo urandemo karada urahara
anata … yama ga moeru
modorenakutemo mou ii no
kurakura moeru chi o hatte
anata to koetai amagi goe

hashiri mizu mayoi koi
kaze no nure amagi zuido
urandemo urandemo karada urahara
anata … yama ga moeru
modorenakutemo mou ii no
kurakura moeru chi o hatte
anata to koetai amagi goe

The woman’s scent which cannot be concealed
Since when did it cling onto you?
If others are able to get you
Can I kill you?

Having gotten messed up while sleeping
The secret house
Tsuzura Ori Pass
Jouren no Taki

Dancing and rising up, falling while swaying
In the direction of my shoulders, dear…
The mountain burns

It no longer matters regardless of what happens
Crossing the burning flame
I want to pass it with you
Amagi Goe

If you open your mouth, we will part
The broken glass cut into me
While we two were together, it was cold, but
Even if it was a lie, you embraced me and it was warm

Wasabi swamp
The hidden path
The night winter rain
Kanten Bridge

Even if I hate, even if I hate
My body acts otherwise, dear…
The mountain burns

It no longer matters even if I cannot go back
Crawling on this burning ground
I want to pass it with you
Amagi Goe

The running waters
The hesitant love
The cluster of wind
Amagi Tunnel

Even if I hate, even if I hate
My body acts otherwise, dear…
The mountain burns

It no longer matters even if I cannot go back
Crawling on this burning ground
I want to pass it with you
Amagi Goe

SEBUAH PERTANYAAN

Frase ‘Bila kata bisa membunuh’ mungkin mengandung arti lebih nyata dari yang saya sadari. Saya percaya kata-kata merupakan hal yang sangat bermakna. Dunia tercipta pada mulanya adalah karena kata-kata dari Tuhan. Kemampuan untuk tata jalma (= berbicara/menggunakan bahasa) pun adalah bukti yang besar akan kasih sayang Tuhan pada manusia.

Saya, dalam taraf tertentu, percaya kalau kata-kata memang bisa membunuh dalam arti harfiah. Atau setidaknya membuat orang gelisah dan menjauhkan tidur dari malam-malam yang dia miliki.

Beberapa waktu lalu seorang teman memberi saya pertanyaan yang masuk dalam kategori menguatkan arti frase itu. Pertanyaan itu adalah seperti ini:

Sampai sejauh mana aku boleh mencintaimu karena kau milik orang lain?”

Saya tidak bisa menghilangkan pertanyaan itu dari kepala saya untuk waktu yang lama. Terutama karena pertanyaan itu diajukan dengan maksud untuk mendapat jawaban yang serius dan bertanggungjawab sementara saya merasa saya tidak mampu memberikan jawaban yang demikian.

Ada tiga unsur dalam pertanyaan itu yaitu ‘sejauh mana’, ‘boleh mencintai’, dan ‘milik orang lain’ yang saya merasa tidak bisa melihat titik kesetaraan dari ketiganya yang memungkinkan mereka untuk digunakan dalam sebaris kalimat yang padu.

‘Sejauh mana’ menuntut jawaban dalam satuan jarak atau paling tidak sebuah batas. Bagaimana sesuatu yang nirinderawi dapat diberi jarak dan batas? Apakah apabila saya menjawab “Seperti cinta yang kau gunakan untuk mencintai dirimu sendiri” akan dikatakan lebih besar nilainya daripada jawaban “Yah, kira-kira cukup untuk membuat hatimu tidak merasa sepi”? Tentu saja tidak. Sebuah jarak atau batas dapat menjadi sangat absurd dan ambigu dalam sudut pengertiannya.

‘Boleh mencintai’ membuat saya berpikir apakah teman saya itu berpikir kalau saya telah melakukan kesalahan dengan mengatakan kalau saya mencintai dia. Saya selalu mengaitkan antara kata-kata ‘boleh dan tidak boleh’ dengan ‘terhormat dan tidak terhormat’. Kalau saya melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan saya merasa saya sedang melakukan sesuatu yang tidak terhormat. Entah bagaimana bisa demikian saya sendiri tidak tahu, mungkin terpengaruh dengan bagaimana saya dibesarkan.

Suatu ketika Umar ra mendengar seseorang bercerita kepadanya bahwa seseorang sedang dilanda cinta. Umar ra berkata “Itu bukan hal yang bisa dihindari. Itu merupakan ketetapan dari Ar Rahman.”

Saya membawakan hadits ini bukan sebagai pembelaan bahwa cinta itu selalu benar dan diperbolehkan. Ada banyak cinta yang dipandang dan ditunjukkan dengan cara yang salah dan merusak. Tapi saya tidak sedang membicarakan masalah yang demikian. Cinta itu berbeda dengan rasa yang lain. Cinta bukanlah sebuah pilihan. Seseorang dapat saja memilih untuk tidak marah-marah tapi dia tidak bisa memilih untuk tidak mencintai ketika sedang ada cinta di hatinya. Cinta itu semacam tanaman yang hanya bisa ditanam dan dicabut oleh yang memberikannya yaitu Tuhan. Seseorang tidak bisa dilarang atau disuruh untuk mencintai. Saya pribadi berpendapat cinta itu bukan sesuatu yang terlarang atau tidak baik. Tidak selama kita tidak membenturkannya dengan nilai-nilai, atau angan-angan, atau rasa memiliki, atau mengambil tindakan untuk menunjukkan secara nyata ketiga hal itu.

‘Milik orang lain’ adalah frase yang paling tidak saya pahami dari kalimat itu. Memiliki orang lain adalah sesuatu yang rasanya menyinggung sisi kemanusiaan saya. Betapapun besar cinta seseorang kepada orang lain, hal itu tetap saja bukan alasan baginya untuk merasa memiliki orang itu. Memiliki yang saya maksud disini adalah memiliki dalam pengertian mendasar bagi sebuah klaim kepemilikan, bukan pengertian secara umum. Karena kalau misalnya ada orang yang bertanya pada saya “Are you single?” maka sudah jelas saya akan menjawab “No, I belong to him.” Klaim kepemilikan mutlak hanya boleh dinyatakan oleh Tuhan saja.

Pertanyaan yang menggelisahkan itu tidak hanya membuat saya berpikir keras tetapi juga membuat saya memandang pada diri saya sendiri. Barangkali itulah gunanya teman. Memicu timbulnya kesadaran kita untuk memperbaiki diri. Saya berterimakasih untuk pertanyaan itu, untuk kegelisahan saya dan juga untuk beberapa pemahaman yang datang pada saya berkaitan dengan hal itu. Saya merasa saya diberkati walaupun rasanya masih perlu waktu yang lama sebelum saya bisa memberikan jawaban yang serius dan bertanggungjawab terhadap pertanyaan itu.

SATU HAL TENTANG KESETIAAN

Saya menderita insomnia dan malam bagi saya mempunyai arti semacam perpanjangan waktu dari siang hari. Salah satu hal yang sering menemani saya menghabiskan malam hari saya adalah rekaman pertunjukan wayang kulit. Saya mempunyai beberapa buah. Dalang yang saya suka adalah Ki Narto Sabdo dan Ki Anom Suroto.

Saya sangat suka wayang, wayang kulit dan wayang orang. Sejak kecil saya akrab dengan wayang. Eyang dan ayah saya biasa mendengarkan wayang kulit di radio, biasanya siarannya dimulai sejak jam sembilan malam sampai sesaat sebelum adzan subuh. Acara itu biasanya berlangsung seminggu sekali. Saya menikmati sekali acara itu. Ketika saya masih sangat kecil saya menikmati bunyi-bunyi gamelan dan tembangnya saja tetapi bersamaan dengan bertambahnya usia saya juga menyukai karya sastranya. Saya dapat memahami bahasa yang digunakan dalam pertunjukan wayang itu meski saya sering mengalami kesulitan untuk mencari padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bahasa Jawa, terutama yang kawi, adalah bahasa teromantis dari bahasa-bahasa yang saya kuasai.

Lakon kesukaan saya adalah Salya Gugur dan Anggraeni-Palgunadi.

Saya terutama sekali menyukai tokoh Setyawati, istri Prabu Salya. Dia seorang istri yang sangat setia kepada suaminya. Diceritakan dia pernah menawarkan dirinya untuk mati menggantikan suaminya. Kata-kata yang selalu diucapkan dalam hubungan cinta kasih mereka adalah ‘kita diciptakan dari asal yang sama, kita hidup bersama dan kita pun akan pergi bersama-sama’. Tentu saja kata-kata itu dalam bahasa jawa kawi sehingga keromantisannya mengalahkan Soneta 17-nya Pablo Neruda atau dramanya Shakespeare.

Dari perkawinan itu mereka memperoleh lima anak, dua anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ketiga puteri Setyawati semuanya memperoleh kesetiaan dari suami mereka: Erawati menikah dengan Prabu Baladewa, Banowati menikah dengan Prabu Duryudana dan Surtikanthi menikah dengan Karna. Ketiga pria itu tidak diceritakan memiliki istri lain atau selir. Ketiganya memiliki kisah cinta yang mengharukan, dan kadang-kadang saya terdorong untuk berpikir secara romantis barangkali Duryudana menjadi jahat dan mengobarkan perang Baratayudha salah satu alasannya adalah untuk mempertahankan Banowati. Saya pribadi tidak suka dengan tokoh Banowati but who knows?

Saya sangat suka pada adegan Salya hendak pergi berperang. Setyawati menangisinya dan membujuknya untuk mengurungkan niatnya pergi berperang membela Kurawa dan melawan Pandhawa. Pandhawa sendiri adalah keponakan Salya, karena Madrim, ibu si bungsu Pandawa, Nakula-Sadewa, adalah adik perempuannya. Salya berpura-pura mengurungkan niatnya dan menghabiskan malam dengan memadu kasih dengan istrinya. Setyawati sejak awal malam telah mengikatkan selendang di tubuh suaminya supaya dia tidak ditinggal pergi tetapi kemudian dia tertidur. Pagi harinya Salya memutus selendang itu dengan kerisnya, meninggalkan surat untuk istrinya dan pergi berperang. Salya terbunuh oleh Yudisthira yang berhati tulus dan murni. Setyawati yang menyusul ke medan perang dan menyaksikan suaminya meninggal melakukan bela pati, bunuh diri untuk membela kehormatan dan cintanya. Saya selalu meneteskan air mata begitu sampai pada adegan ini.

Saya juga menyukai tokoh Anggraeni.

Anggraeni adalah permaisuri Prabu Ekalawya atau lebih dikenal dengan nama Palgunadi, raja dari kerajaan Nisada atau Paranggelung. Dia adalah puteri dari bidadari bernama Warsiki. Dia sangat cantik, berbudi luhur, selalu penuh sopan santun dan sangat setia kepada suaminya. Pada suatu hari saat dia pergi memetik bunga di hutan dia diganggu oleh raksasa jahat. Dia melarikan diri hingga bertemu dengan Arjuna yang sedang bertapa. Arjuna membunuh raksasa itu untuk menolongnya. Melihat kecantikannya Arjuna jatuh cinta kepadanya. Karena setia kepada suaminya Anggraeni menolaknya walau Arjuna memiliki lebih banyak kebaikan dan keunggulan dibanding suaminya. Arjuna yang benar-benar ingin memilikinya memaksanya untuk menjadi istrinya. Anggraeni melarikan diri darinya hingga terperosok ke dalam jurang. Dia diselamatkan oleh ibunya yang sedang terbang di atas kerajaan itu karena merasa rindu kepadanya dan dia pun dikembalikan kepada suaminya. Anggraeni melaporkan tentang Arjuna kepada suaminya. Palgunadi sangat murka dan menantang Arjuna bertarung. Dia adalah seorang yang sangat sakti sehingga Arjuna dapat dikalahkan olehnya. Arjuna mengadu kepada gurunya Resi Drona. Akibat dari bujuk rayunya Resi Drona dapat membunuh Palgunadi yang sangat menghormatinya dengan memotong jarinya yang memakai cincin Mustika Ampal. Palgunadi pun tewas. Sepeninggal Palgunadi, Anggraeni melakukan bela pati. Arjuna sangat menyesalkan hal itu. Karena rasa cintanya kepada Anggraeni dia memakai nama Palgunadi sebagai salah satu dasanama (=nama lain)nya.

Setyawati dan Anggraeni melakukan hal yang sesuai dengan angan-angan romantis saya: kesetiaan. Seseorang yang mengikhlaskan dirinya dan berniat dengan sungguh-sungguh untuk berada dalam sebuah hubungan yang suci apabila tidak memiliki kesetiaan maka dia ibaratnya aji godhong garing (=lebih tidak berharga dari selembar daun kering). Walaupun saya sendiri tidak begitu bisa dengan tepat memberi definisi pada kata ‘kesetiaan’ itu.

Kesetiaan barangkali mempunyai arti berbeda bagi laki-laki dan bagi wanita. Sungguh, ini adalah lelucon yang sangat lucu yang pernah saya baca di sebuah novel romantis.  Setidaknya pada wanita kesetiaan lebih mudah dirumuskan, barangkali sebagai semacam ‘tidak tergoda oleh sesuatu yang kelihatan lebih baik dari apa yang telah dimilikinya’. Sementara bagi laki-laki hal yang seperti itu mengandung pengertian yang ambigu. Misalnya pada seorang yang memiliki beberapa istri, dia tidak bisa dengan serta merta dikatakan tidak setia atau telah melakukan pengkhianatan.

Kemungkinan besar kesetiaan adalah masalah kejujuran. Kalau kita sudah mempunyai keberanian untuk mengakui apapun yang kita rasakan pada saat itulah barangkali kita akan memahami secara benar apa artinya kesetiaan.

God created both men and women

To men He entrusts justice

To women He entrusts loyalty

 

From a man justice is demanded

From a woman loyalty is expected

The greatest honour a man can receive

Is the loyalty of his wife.

 

A woman’s most expensive ornament

Is the justice shown by her husband

(‘God Created Both Men and Women’, by Cecep Syamsul Hari)

UNLUCKY PERSON IN QUEUE

Saya adalah orang yang sepertinya tidak ‘diijinkan’ untuk memilih. Setiap kali saya memilih ‘dengan sengaja’ saya pasti mendapat hasil pilihan yang tidak beres. Sebaliknya, jika saya ‘menerima dengan rela’ suatu pilihan di depan mata saya maka biasanya pilihan itu baik-baik saja.

Yang dimaksud dengan kata ‘dengan sengaja’ itu misalnya seperti ini: jika ada dua mesin ATM dari bank yang sama dan saya ‘dengan sengaja’ memilih yang kanan dibanding yang kiri maka biasanya saya akan menemui ketidakberesan, misalnya uang di mesin itu ternyata habis atau mesinnya sedang out of order, bisa diperkirakan sebelumnya akan menjadi seperti itu tidak peduli apakah saya sudah berdiri mengantri selama satu jam atau cuma lima menit.

Sementara yang dimaksud dengan ‘menerima dengan rela’ itu misalnya begini: ada pohon jambu yang sedang berbuah lebat, kalau saya mengambil buah yang paling dekat dengan saya, biasanya saya mendapat buah yang manis sekali. Berbeda apabila saya dengan ributnya mencari bilah bambu untuk mengambil buah yang jauh.

Kejadian seperti itu sangat sering terjadi sampai saya bisa menarik kesimpulan bahwa saya adalah seorang unlucky person in queue. Beberapa cerita dibawah ini adalah beberapa bukti yang mendukung pernyataan itu.

Suatu hari, beberapa tahun lalu, saya harus pergi ke Tiki untuk mengirimkan barang. Saya tiba pukul tiga sore sementara kantornya tutup pada pukul empat namun anehnya orang yang datang justru banyak sekali. Di kantor yang sempit itu ada tiga petugas yang melayani sehingga terdapat tiga baris antrian. Ketiga baris itu panjangnya kira-kira sama. Perasaan saya langsung tidak enak. Saya tidak pernah beruntung dalam memilih antrian. Dengan terpaksa saya memilih antrian yang di tengah, di belakang seorang pria yang tampaknya seorang seniman, dia membawa bungkusan pipih lebar yang katanya lukisan. Lima menit saya mengantri, pria itu ditanya seseorang dari arah ruangan dengan tulisan selain karyawan dilarang masuk di pintunya. Ternyata benda seni yang dia bawa membuatnya harus dilayani petugas lain dan tentu saja keluar dari baris antrian saya. Di depan pria itu (tadinya) dan kini di depan saya adalah sepasang anak muda. Awalnya saya biasa-biasa saja, tapi kemudian saya yang mengharapkan akan mendengar (walau kemampuan saya menguping pembicaraan orang nyaris nol) percakapan seru tentang keadaan politik atau ekonomi dari mereka berdua (mengingat saya sendiri punya kebiasaaan ngobrol seru dengan teman saya dan saya cenderung berpikir kalau semua orang melakukannya) merasa kecewa dan bosan setengah mati karena ternyata mereka bukannya bercakap-cakap melainkan flirting. Gedubrak!!!! Saya tidak bisa bilang kalau yang mereka lakukan itu salah, setiap orang menanggung sendiri perbuatannya, tidak juga saya ingin mengatakan kalau flirting di depan umum itu adalah tata karma yang buruk, ataupun ingin menulis diri saya sendiri dalam tulisan saya sebagai orang yang meributkan hal itu, tapi yang jelas perasaan saya waktu itu tidak bisa dibilang enak. Mungkin merupakan campuran antara muak dan bosan. Rasanya menunggu giliran saya seperti menunggu lewatnya waktu seminggu tanpa melakukan apa-apa. Namun cerita ini tidak mengandung ide pokok pada masalah itu. Sewaktu tiba giliran saya, setelah tanya jawab singkat tentang isi paket dan kilat tidaknya proses pengiriman yang saya inginkan, tiba-tiba saya merasa kok sepertinya hujan sedang turun. Lengan baju saya basah. Saya menoleh ke atas dan ternyata ada tulisan Mohon maaf AC rusak. Mohon untuk tidak berdiri di bawah AC persis di langit-langit yang berbentuk lengkungan kubah di atas kepala saya. Dueng! Karena tahu kalau itu ‘hanya air’ dan bukannya ‘air bercampur hal-hal lain yang tersembunyi di plafon’ maka saya tidak terlalu meributkannya. Flirting dan air ternyata masih punya teman dalam babak cerita yang ini yaitu saat hendak mengepak paket saya ternyata isi staplesnya habis dan petugasnya harus mengambil pesediaan di ruangan lain, lalu sewaktu saya mau menandatangani kuitansinya ternyata tinta ballpoint-nya habis juga. Begitu saya keluar dari kantor itu saya benar-benar memasang mata dan telinga siapa tahu misalnya tanpa alasan yang jelas masih ada teman-teman dari flirting, air, staples dan ballpoint yang mengikuti saya hingga sampai di rumah.

Kejadian terakhir adalah di toko buku. Saya biasa pergi ke toko buku setiap hari Rabu bersama seorang teman yang khusus datang mengunjungi saya pada hari itu. Ada tiga buku yang ingin saya beli waktu itu: The Secret Life of the Bees, The Last Concubine dan buku ketrampilan merajut berbahasa Jepang. Dua buku pertama saya yakin tidak bermasalah karena disusun dalam tumpukan ke atas dan saya memilih buku yang paling atas. Buku terakhirlah yang membuat perasaan saya tidak enak. Buku itu disusun menyamping sehingga saya bingung apakah yang disebut paling atas itu adalah yang paling kanan atau justru yang paling kiri. Saya mengambil yang kira-kira ada di tengah-tengahnya. Dan perasaan tidak enak itu terbukti benar adanya. Sore harinya, di rumah, saya menemukan bahwa ada dua halaman dalam buku itu yang kosong tidak ada tulisan maupun gambarnya. Saya menelepon toko buku itu dan mencaritahu apakah saya bisa menukarkan buku itu. Saya diberitahu kalau buku yang sama masih tersedia beberapa dan saya bisa menukarkannya. Sewaktu saya datang keesokan harinya saya merasa tidak enak hati dengan senyuman wanita pemilik toko buku itu. Sangat mungkin dia melakukannya karena pribadinya yang ramah atau karena menghadapi konsumen tapi saya mengartikannya sebagai sebuah senyuman maklum. Saya telah dua atau tiga kali menukarkan buku padanya karena alasan yang sama. Dan dia sepertinya memaklumi hal itu. Sekarang, setiap saya mau membeli buku disana wanita itu selalu berkata ‘Mau memeriksanya lebih dulu?’

Saya sendiri tidak begitu yakin bahwa hidup itu adalah masalah keberuntungan dan ketidakberuntungan. Itu barangkali semacam kejutan tertentu dari Tuhan dengan maksud yang barangkali mengejutkan juga. Hidup lebih merupakan perjalanan panjang yang harus dilalui bagaimanapun keadaannya, mengingat cuti hidup itu adalah suatu kemustahilan kalau tidak bisa dibilang sebuah pertanda keputusasaan, orang harus terus menapak walaupun dia menemui banyak kejadian yang tidak membuatnya senang. Dan siapa tahu keberuntungan dan ketidakberuntungan itu barangkali hanya masalah cara pandang saja.

KOTA DAN SEJARAH

Selama beberapa bulan terakhir, saya berjalan, hampir setiap hari, di atas jalan batu tua yang ditata rapi membentuk pola-pola geometris, yang katanya dibangun sejak abad ke-9.

Di kota ini masa silam datang kepada kita dan seolah-olah kitalah yang menjadi tamu. Tiap pagi saat pengantar koran dan tukang susu pergi dari rumah ke rumah dan para pengendara sepeda roda dua mulai menyusuri jalan-jalan, kota ini terlihat sebagaimana normalnya kota-kota di dunia pada abad ke-21, tetapi semua kelaziman itu kemudian akan segera diletakkan terpaut dengan kehadiran sejarah.

Tak ada yang tampak aus dari kota ini, bangunan-bangunan tua dari bata merah mungkin masih sama sebagaimana sewaktu orang-orang dari berabad-abad lampau itu membangunnya. Ada menara jam yang tinggi berdiri di tengah-tengah trotoar tepi sungai. Tiap jam akan terdengar bunyi lonceng yang menirukan nada eine kleine nachtmuziek.

Di kota ini masa silam hadir secara rutin dan bangga. Ada pawai-pawai dan festival-festival untuk merayakan hari-hari tertentu yang bermula dari suatu kejadian di masa silam. Dengan demikian mereka menyusun sebuah katalog kenangan yang rapi. Di hari seperti itu, berbagai masa silam yang ruwet dan panjang pun diringkas lurus. Dan dengan itu kenangan itu pun menjadi tapal batas identitas.

Di kota ini masa silam terlihat tidak lekang oleh cuaca. Tapi tentu saja bukan masa silam saya. Tiap aku berjalan melewati trotoar tepi sungai, sebagian kadang digunakan sebagai pasar, aku sadar: ada orang-orang yang mustahil jadi “orang Eropa”. Seandainya pun saya akhirnya menjadi seorang warga kota ini, yang diterima dengan sikap paling tulus sekalipun, saya tidak akan pernah menjadi bagian yang sah dari kenangan yang disimpannya. Saya tetap akan menjadi seorang “orang luar”. Di situlah menjadi sadar bagaimana sejarah membuat faksi-faksi: sejarah telah jadi sebuah ruang yang eksklusif, menunjukkan ras dan menegaskan biologi.

Tapi terlepas dari itu semua, kota ini adalah sebuah kota yang cantik seperti benda museum.

GM

krupuk

Sesuatu disebut lucu bila mampu membuat orang tertawa, tersenyum atau setidaknya ingin melakukan salah satu dari keduanya. Sebuah definisi singkat dan sederhana. Namun bagaimana sesuatu bisa menjadi lucu tidaklah sesederhana itu menjelaskannya. Dan bagaimana selera humor seseorang bisa begitu membingungkan memerlukan penjelasan yang lebih tidak sederhana lagi.

Salah satu orang yang saya kenal memiliki selera humor yang baik adalah eyang saya. Bukan karena beliau senang tertawa. Beliau orang yang lebih suka melakukan sesuatu yang bersifat non verbal daripada yang bersifat verbal. Itu membuat apa yang beliau tertawakan bisa dipastikan adalah sesuatu yang lucu secara substansial. Bila seseorang bercerita padanya mengenai jumlah uang yang banyak, beliau biasanya berkata, ”Kuwi upama ditukokne krupuk gek oleh piro?” Bahwa uang beliau pandang hanya sebagai sarana untuk membeli benda yang begitu sederhana seperti krupuk, itulah yang sangat lucu menurut saya.

Apa yang good dan apa yang ill dari sebuah lelucon sampai sekarang saya tidak begitu bisa memahaminya dengan baik. Barangkali yang good itu bersifat universal dan yang ill bersifat partikular. Entahlah.

Di antara teman-teman, saya sering dibilang memiliki ill humour.

Misalnya pada suatu hari seorang teman saya bertanya pada saya, ”Why I heard nothing about you for this fortnight? Where have you been?”

Saya tidur sebentar saja di malam hari, saya menderita insomnia, dan kalau pada waktu dini hari saya meng-available-kan yahoo messenger saya dan melihat ada teman yang available juga biasanya saya akan mengajaknya chatting.

Teman saya yang bertanya itu adalah teman kuliah saya, seorang partner in crime yang sesungguhnya, belahan jiwa saya yang nomor enam belas (saya memiliki setidaknya tiga puluh dua orang belahan jiwa dan sama sekali tidak keberatan apabila jumlah itu bertambah) Dia sering menemani saya chatting, mengobrol kesana kemari tentang berbagai hal, secara tidak sadar menciutkan dunia hingga menjadi seakan-akan hanya urusan kami berdua saja.

Saya merasa tidak enak dengan pertanyaan why itu apalagi ketika why itu kemudian bersambung dengan where. Apakah eksistensi saya telah begitu identiknya dengan sebuah bulatan kuning kecil di list yahoo messeger? Tapi karena itu jenis pertanyaan yang biasa saja saya pun menganggapnya sebagai humor dan hendak menanggapinya dengan humor juga.

Jawaban saya atas pertanyaan itu adalah seperti ini (sepertinya) “Kalau terlalu sering menghubungimu nanti aku dikira lintah yang terus menempel padamu.” Saya tahu saya tidak pernah membuka percakapan dengannya dengan pertanyaan-pertanyaan standar seperti ‘apa kabarmu hari ini?’ atau ‘apakah kau sedang sibuk?’ dan langsung memulainya dengan apa yang sedang ada di dalam kepala saya. Dia tidak pernah protes, dia terlalu sopan untuk melakukannya, meskipun bukan berarti dia tidak punya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Waktunya untuk bercakap-cakap dengan saya barangkali terselip di antara jadwalnya untuk ‘berbuat baik pada orang lain’. Terhadap jawaban saya itu saya mengira dia akan tertawa terbahak-bahak. Bersamanya saya dapat tertawa membaca novelnya Kundera, bahkan ketika saya berbuat seperti yang diperbuat Jean Claude pada sahabatnya F teman saya itu tidak menganggapnya aneh. Seringkali saya berpikir selera humor kami sama. Tapi ternyata dia ‘mendiamkan’ saya selama beberapa lama akibat kata-kata humor saya itu. Jika dia punya kesempatan untuk bicara dengan saya tapi dia tidak melakukannya maka kemungkinannya cuma dua, dia sedang sakit atau dia sedang marah. Selama berhari-hari saya mencari-cari dimana letak tidak lucunya dari kata-kata saya itu. Saya kesulitan mencarinya karena itu sebuah kalimat lucu bagi saya. Teman saya itu baru mau ’berdamai’ setelah saya ’mendiamkan’ dia mengatakan bahwa saya memiliki ill humour.

Entah saya memiliki bagian yang ill atau yang good saya tidak begitu merisaukannya. Saya akan tertawa menanggapi sebuah lelucon asal saya punya alasan untuk menganggapnya lucu.

HUBUNGAN SEPIHAK

opening a love letter by simonneti

Kira-kira sebulan yang lalu saya melihat surat-surat pribadi saya dipublikasikan di sebuah blog milik seorang teman saya. Pertama melihatnya saya tidak merasakan apa-apa. Mungkin karena terkejut saya bereaksi mirip denial. Ketika melihat untuk kedua kalinya saya dapat menjelaskan apa yang saya rasakan sebelumnya dengan lebih baik: saya merasa sedih.

Saya senang sekali menulis surat. Berkorespondensi adalah sebuah budaya yang baik menurut saya. Menulis surat seperti menelusuri sebuah jalan yang ada di dalam peta yang tidak dikenal sebelumnya, menjadikan sebuah masalah kelihatan lebih jelas dan masuk akal.

Saya menulis surat untuk banyak keperluan. Tetapi seringkali saya menulis surat hanya karena terdorong oleh perasaan sentimental belaka atau akibat sebuah gagasan romantis yang sedang melintas di benak saya.

Namun, sekalipun saya suka sekali menulis surat tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar punya kewajiban untuk menulis surat kepada siapapun kecuali hanya sedikit sekali. Saya tentu saja punya ‘kewajiban’ untuk menulis surat terima kasih apabila seseorang mengirimi saya hadiah. Ketika tetangga mengirim undangan saya berkewajiban untuk menulis surat pemberitahuan apakah saya akan datang atau tidak. Setiap minggu saya harus menyerahkan esai tugas kuliah pada dosen. Dia punya kebiasaan menyertakan selembar surat evaluasi yang selalu dimulai dengan Dear Yuni….meskipun kritikannya dapat membuat orang mempertanyakan arti kata dear. Entah bagaimana saya berpikir saya seharusnya meninggalkan selembar surat juga untuknya. Selain ‘kewajiban’ semacam itu tidak ada hal yang mengharuskan saya untuk menulis surat. Tidak pernah ada orang yang meminta saya untuk menulis surat untuknya. Dalam arti harfiah, maksud saya adalah surat yang bukan berisi ucapan terima kasih, tidak mengandung pemberitahuan tidak juga memberi penjelasan akan sesuatu. Sayangnya saya amat menyukai menulis jenis surat yang demikian.

Saya ingat dengan jelas bahwa saya tidak mendapatkan satu pun balasan dari surat-surat maupun kartu pos-kartu pos yang saya kirimkan kepada teman saya yang kemudian dia publikasikan itu. Saya tidak merasa sedih karena hal itu. Apa yang membuat saya sedih adalah sebuah pemahaman yang saya peroleh setelah kejadian itu, bahwa saya selalu menjalin hubungan yang bersifat sepihak.

Hubungan semacam itu dapat digambarkan seperti seorang yang menyusuri jalan, atau sungai untuk lebih dramatisnya, untuk sampai pada sebuah tempat yang dipilihnya. Dia dan jalan atau sungai itu tidak mempunyai hubungan yang bersifat mengharuskan dan stabil. Tidak juga sesuatu yang bersifat dua arah. Dia dapat berubah karena melalui jalan atau sungai itu, misalnya menjadi lebih bisa memaknai keindahan atau lebih menghargai kerja keras, tapi jalan atau sungai itu tidak, atau hanya sedikit sekali, berubah karenanya. Jalan atau sungai itu akan terus membentang dan mengalir tak peduli dia melaluinya atau tidak. Keberadaan seseorang itu disana bisa jadi hanyalah sebuah riak kecil yang melintas, sesuatu yang mengganggu dan membisingkan. Sama seperti saya yang terus mengirim surat walau saya tidak mendapatkan balasannya. Karena satu surat yang saya tulis sama seperti surat sebelumnya adalah seperti sebuah sapaan semacam ‘masihkah kau ingat padaku?’ Surat-surat berikutnya pun, secara esensial, tetap mengandung muatan yang sama sehingga bisa dibilang keberadaannya adalah refleksi keinginan saya untuk menghidupkan dan memoles kembali masa lalu, dimana saya dan teman saya pernah bersama, dan mengabaikan bahwa waktu sebenarnya sudah mengubah semuanya.

Satu-satunya yang bagus dari hal ironis menyedihkan itu adalah dalam hubungan yang demikian jika saya memutuskan untuk menyerah dan berhenti maka tidak ada seorangpun yang akan terluka ataupun merasa kehilangan. Kecuali barangkali saya sendiri.

PATAH HATI

Secara rasional saya tahu hati saya yang cuma satu-satunya itu tetap di tempatnya, tidak pernah mengalami perubahan bentuk, sejak dulu hingga sekarang masih tersusun dari sel-sel heksagonal paling indah yang pernah saya lihat. Tapi entah kenapa setiap kali saya berkata ‘aku patah hati’ saya tidak merasa sedang berada di luar jalur rasionalitas bahasa. Pada saat saya berkata begitu saya memang merasakan hati saya mengalami perubahan bentuk, barangkali menjadi keping-keping kecil seperti es batu yang diserut dalam es setrup yang saya minum ketika kecil.

Saya cukup sering mengalami patah hati, walaupun saya, secara hiperbolis, bisa dibilang hidup mengubur diri bersama buku-buku, komputer dan bahan-bahan penelitian (kalau sedang ingin) tapi saya juga mempunyai keluarga, sahabat-sahabat, teman-teman dan kenalan-kenalan. Bukannya saya ingin menegaskan bahwa merekalah sumber patah hati saya walaupun sebagian memang benar demikian.

Di semesta ini, saya meyakininya seratus persen, tidak akan terjadi sesuatu yang tidak Tuhan kehendaki. Apa yang Dia kehendaki untuk terjadi pasti akan terjadi dan apa yang tidak Tuhan kehendaki untuk terjadi pasti tidak akan terjadi. Karena itulah saya biasanya patah hati oleh sebuah pilihan. Barangkali ini sebuah kebodohan, tetapi saya selalu mengaitkan antara pilihan-pilihan yang dibuat seseorang dengan idealisme yang dimilikinya.

Saya, entah karena saya menyayanginya atau bagaimana, selalu memandang sahabat-sahabat saya dengan pandangan positif. Dalam pandangan saya, mereka itu selalu berusaha untuk, seperti kata Pram, ‘bersikap adil sejak di dalam pikiran’. Mereka memiliki etika moral yang mereka patuhi dengan taat. Mereka adalah oran-orang yang akan menjadi tokoh protagonist di dalam novel. Saya senang mengacu pada kebaikan mereka karena sesuatu yang baik ‘mengobati’ saya, memberi saya inspirasi dan dorongan untuk tetap yakin bahwa melakukan hal yang baik pada saat sekarang ini bukanlah sebuah lelucon yang bernasib ironis meskipun biasanya memang demikian.

Ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangan itu saya merasa patah hati. Sewaktu seorang yang saya kenal, a lady born and bred, memutuskan untuk secara sadar masuk dalam hubungan yang tidak bermartabat dengan seorang pria, sebuah pikiran pesismis mengelilingi saya bahwa barangkali pada tahap tertentu cinta itu terlalu mulia untuk sesuatu yang fana. Ketika seorang yang saya kenal, seorang yang pada awalnya saya merasa his vibrations linked with mine ternyata menyebut proyek orang lain sebagai hasil pekerjaannya, dan ironisnya, mendapat penghargaan dari proyek itu. Biasanya setelah mengalami hal itu maka selama berhari-hari saya nyaris seperti mendengar bunyi krak-krak-krak, sesuatu yang retak, di dalam dada saya. Kemudian jika pada saat seperti itu seseorang menyebutkan sebuah kemalangan kepada saya maka saya, secara mengherankan dan di luar dugaan, akan berkomentar sinis ‘orang baik memang bernasib buruk sekarang-sekarang ini’.

Orang bilang ‘apa yang tidak membunuh kita menjadikan kita lebih kuat’. Saya tidak tahu apakah benar demikian. Mungkin saja setelah mengalami patah hati itu hati saya menjadi lebih kuat, mengingat saya tidak patah hati dua kali untuk hal yang sama, tetapi mungkin juga hati saya hanya menjadi lebih kebas dari sebelumnya.

Dari semuanya, saya belajar satu hal lagi tentang kejelekan dan kenaifan saya, yaitu terkadang saya membiarkan hati saya seperti oloturia. Ketika diserang oloturia mengeluarkan seluruh organ tubuhnya untuk membela diri. Oloturia yang sehat akan mampu membentuk pengganti yang sempurna bagi isi tubuhnya yang hilang itu. Sedangkan saya tampaknya tidaklah demikian.

Tulisan Sebelumnya »