Feeds:
Tulisan
Komentar

krupuk

Sesuatu disebut lucu bila mampu membuat orang tertawa, tersenyum atau setidaknya ingin melakukan salah satu dari keduanya. Sebuah definisi singkat dan sederhana. Namun bagaimana sesuatu bisa menjadi lucu tidaklah sesederhana itu menjelaskannya. Dan bagaimana selera humor seseorang bisa begitu membingungkan memerlukan penjelasan yang lebih tidak sederhana lagi.

Salah satu orang yang saya kenal memiliki selera humor yang baik adalah eyang saya. Bukan karena beliau senang tertawa. Beliau orang yang lebih suka melakukan sesuatu yang bersifat non verbal daripada yang bersifat verbal. Itu membuat apa yang beliau tertawakan bisa dipastikan adalah sesuatu yang lucu secara substansial. Bila seseorang bercerita padanya mengenai jumlah uang yang banyak, beliau biasanya berkata, ”Kuwi upama ditukokne krupuk gek oleh piro?” Bahwa uang beliau pandang hanya sebagai sarana untuk membeli benda yang begitu sederhana seperti krupuk, itulah yang sangat lucu menurut saya.

Apa yang good dan apa yang ill dari sebuah lelucon sampai sekarang saya tidak begitu bisa memahaminya dengan baik. Barangkali yang good itu bersifat universal dan yang ill bersifat partikular. Entahlah.

Di antara teman-teman, saya sering dibilang memiliki ill humour.

Misalnya pada suatu hari seorang teman saya bertanya pada saya, ”Why I heard nothing about you for this fortnight? Where have you been?”

Saya tidur sebentar saja di malam hari, saya menderita insomnia, dan kalau pada waktu dini hari saya meng-invisible-kan yahoo messenger saya dan melihat ada teman yang invisible juga biasanya saya akan mengajaknya chatting.

Teman saya yang bertanya itu adalah teman kuliah saya, seorang partner in crime yang sesungguhnya, belahan jiwa saya yang nomor enam belas (saya memiliki setidaknya tiga puluh dua orang belahan jiwa dan sama sekali tidak keberatan apabila jumlah itu bertambah) Dia sering menemani saya chatting, mengobrol kesana kemari tentang berbagai hal, secara tidak sadar menciutkan dunia hingga menjadi seakan-akan hanya urusan kami berdua saja.

Saya merasa tidak enak dengan pertanyaan why itu apalagi ketika why itu kemudian bersambung dengan where. Apakah eksistensi saya telah begitu identiknya dengan sebuah bulatan kuning kecil di list yahoo messeger? Tapi karena itu jenis pertanyaan yang biasa saja saya pun menganggapnya sebagai humor dan hendak menanggapinya dengan humor juga.

Jawaban saya atas pertanyaan itu adalah seperti ini (sepertinya) “Kalau terlalu sering menghubungimu nanti aku dikira lintah yang terus menempel padamu.” Saya tahu saya tidak pernah membuka percakapan dengannya dengan pertanyaan-pertanyaan standar seperti ‘apa kabarmu hari ini?’ atau ‘apakah kau sedang sibuk?’ dan langsung memulainya dengan apa yang sedang ada di dalam kepala saya. Dia tidak pernah protes, dia terlalu sopan untuk melakukannya, meskipun bukan berarti dia tidak punya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Waktunya untuk bercakap-cakap dengan saya barangkali terselip di antara jadwalnya untuk ‘berbuat baik pada orang lain’. Terhadap jawaban saya itu saya mengira dia akan tertawa terbahak-bahak. Bersamanya saya dapat tertawa membaca novelnya Kundera, bahkan ketika saya berbuat seperti yang diperbuat Jean Claude pada sahabatnya F teman saya itu tidak menganggapnya aneh. Seringkali saya berpikir selera humor kami sama. Tapi ternyata dia ‘mendiamkan’ saya selama beberapa lama akibat kata-kata humor saya itu. Jika dia punya kesempatan untuk bicara dengan saya tapi dia tidak melakukannya maka kemungkinannya cuma dua, dia sedang sakit atau dia sedang marah. Selama berhari-hari saya mencari-cari dimana letak tidak lucunya dari kata-kata saya itu. Saya kesulitan mencarinya karena itu sebuah kalimat lucu bagi saya. Teman saya itu baru mau ’berdamai’ setelah saya ’mendiamkan’ dia mengatakan bahwa saya memiliki ill humour.

Entah saya memiliki bagian yang ill atau yang good saya tidak begitu merisaukannya. Saya akan tertawa menanggapi sebuah lelucon asal saya punya alasan untuk menganggapnya lucu.

HUBUNGAN SEPIHAK

opening a love letter by simonneti

Kira-kira sebulan yang lalu saya melihat surat-surat pribadi saya dipublikasikan di sebuah blog milik seorang teman saya. Pertama melihatnya saya tidak merasakan apa-apa. Mungkin karena terkejut saya bereaksi mirip denial. Ketika melihat untuk kedua kalinya saya dapat menjelaskan apa yang saya rasakan sebelumnya dengan lebih baik: saya merasa sedih.

Saya senang sekali menulis surat. Berkorespondensi adalah sebuah budaya yang baik menurut saya. Menulis surat seperti menelusuri sebuah jalan yang ada di dalam peta yang tidak dikenal sebelumnya, menjadikan sebuah masalah kelihatan lebih jelas dan masuk akal.

Saya menulis surat untuk banyak keperluan. Tetapi seringkali saya menulis surat hanya karena terdorong oleh perasaan sentimental belaka atau akibat sebuah gagasan romantis yang sedang melintas di benak saya.

Namun, sekalipun saya suka sekali menulis surat tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar punya kewajiban untuk menulis surat kepada siapapun kecuali hanya sedikit sekali. Saya tentu saja punya ‘kewajiban’ untuk menulis surat terima kasih apabila seseorang mengirimi saya hadiah. Ketika tetangga mengirim undangan saya berkewajiban untuk menulis surat pemberitahuan apakah saya akan datang atau tidak. Setiap minggu saya harus menyerahkan esai tugas kuliah pada dosen. Dia punya kebiasaan menyertakan selembar surat evaluasi yang selalu dimulai dengan Dear Yuni….meskipun kritikannya dapat membuat orang mempertanyakan arti kata dear. Entah bagaimana saya berpikir saya seharusnya meninggalkan selembar surat juga untuknya. Selain ‘kewajiban’ semacam itu tidak ada hal yang mengharuskan saya untuk menulis surat. Tidak pernah ada orang yang meminta saya untuk menulis surat untuknya. Dalam arti harfiah, maksud saya adalah surat yang bukan berisi ucapan terima kasih, tidak mengandung pemberitahuan tidak juga memberi penjelasan akan sesuatu. Sayangnya saya amat menyukai menulis jenis surat yang demikian.

Saya ingat dengan jelas bahwa saya tidak mendapatkan satu pun balasan dari surat-surat maupun kartu pos-kartu pos yang saya kirimkan kepada teman saya yang kemudian dia publikasikan itu. Saya tidak merasa sedih karena hal itu. Apa yang membuat saya sedih adalah sebuah pemahaman yang saya peroleh setelah kejadian itu, bahwa saya selalu menjalin hubungan yang bersifat sepihak.

Hubungan semacam itu dapat digambarkan seperti seorang yang menyusuri jalan, atau sungai untuk lebih dramatisnya, untuk sampai pada sebuah tempat yang dipilihnya. Dia dan jalan atau sungai itu tidak mempunyai hubungan yang bersifat mengharuskan dan stabil. Tidak juga sesuatu yang bersifat dua arah. Dia dapat berubah karena melalui jalan atau sungai itu, misalnya menjadi lebih bisa memaknai keindahan atau lebih menghargai kerja keras, tapi jalan atau sungai itu tidak, atau hanya sedikit sekali, berubah karenanya. Jalan atau sungai itu akan terus membentang dan mengalir tak peduli dia melaluinya atau tidak. Keberadaan seseorang itu disana bisa jadi hanyalah sebuah riak kecil yang melintas, sesuatu yang mengganggu dan membisingkan. Sama seperti saya yang terus mengirim surat walau saya tidak mendapatkan balasannya. Karena satu surat yang saya tulis sama seperti surat sebelumnya adalah seperti sebuah sapaan semacam ‘masihkah kau ingat padaku?’ Surat-surat berikutnya pun, secara esensial, tetap mengandung muatan yang sama sehingga bisa dibilang keberadaannya adalah refleksi keinginan saya untuk menghidupkan dan memoles kembali masa lalu, dimana saya dan teman saya pernah bersama, dan mengabaikan bahwa waktu sebenarnya sudah mengubah semuanya.

Satu-satunya yang bagus dari hal ironis menyedihkan itu adalah dalam hubungan yang demikian jika saya memutuskan untuk menyerah dan berhenti maka tidak ada seorangpun yang akan terluka ataupun merasa kehilangan. Kecuali barangkali saya sendiri.

PATAH HATI

Secara rasional saya tahu hati saya yang cuma satu-satunya itu tetap di tempatnya, tidak pernah mengalami perubahan bentuk, sejak dulu hingga sekarang masih tersusun dari sel-sel heksagonal paling indah yang pernah saya lihat. Tapi entah kenapa setiap kali saya berkata ‘aku patah hati’ saya tidak merasa sedang berada di luar jalur rasionalitas bahasa. Pada saat saya berkata begitu saya memang merasakan hati saya mengalami perubahan bentuk, barangkali menjadi keping-keping kecil seperti es batu yang diserut dalam es setrup yang saya minum ketika kecil.

Saya cukup sering mengalami patah hati, walaupun saya, secara hiperbolis, bisa dibilang hidup mengubur diri bersama buku-buku, komputer dan bahan-bahan penelitian (kalau sedang ingin) tapi saya juga mempunyai keluarga, sahabat-sahabat, teman-teman dan kenalan-kenalan. Bukannya saya ingin menegaskan bahwa merekalah sumber patah hati saya walaupun sebagian memang benar demikian.

Di semesta ini, saya meyakininya seratus persen, tidak akan terjadi sesuatu yang tidak Tuhan kehendaki. Apa yang Dia kehendaki untuk terjadi pasti akan terjadi dan apa yang tidak Tuhan kehendaki untuk terjadi pasti tidak akan terjadi. Karena itulah saya biasanya patah hati oleh sebuah pilihan. Barangkali ini sebuah kebodohan, tetapi saya selalu mengaitkan antara pilihan-pilihan yang dibuat seseorang dengan idealisme yang dimilikinya.

Saya, entah karena saya menyayanginya atau bagaimana, selalu memandang sahabat-sahabat saya dengan pandangan positif. Dalam pandangan saya, mereka itu selalu berusaha untuk, seperti kata Pram, ‘bersikap adil sejak di dalam pikiran’. Mereka memiliki etika moral yang mereka patuhi dengan taat. Mereka adalah oran-orang yang akan menjadi tokoh protagonist di dalam novel. Saya senang mengacu pada kebaikan mereka karena sesuatu yang baik ‘mengobati’ saya, memberi saya inspirasi dan dorongan untuk tetap yakin bahwa melakukan hal yang baik pada saat sekarang ini bukanlah sebuah lelucon yang bernasib ironis meskipun biasanya memang demikian.

Ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangan itu saya merasa patah hati. Sewaktu seorang yang saya kenal, a lady born and bred, memutuskan untuk secara sadar masuk dalam hubungan yang tidak bermartabat dengan seorang pria, sebuah pikiran pesismis mengelilingi saya bahwa barangkali pada tahap tertentu cinta itu terlalu mulia untuk sesuatu yang fana. Ketika seorang yang saya kenal, seorang yang pada awalnya saya merasa his vibrations linked with mine ternyata menyebut proyek orang lain sebagai hasil pekerjaannya, dan ironisnya, mendapat penghargaan dari proyek itu. Biasanya setelah mengalami hal itu maka selama berhari-hari saya nyaris seperti mendengar bunyi krak-krak-krak, sesuatu yang retak, di dalam dada saya. Kemudian jika pada saat seperti itu seseorang menyebutkan sebuah kemalangan kepada saya maka saya, secara mengherankan dan di luar dugaan, akan berkomentar sinis ‘orang baik memang bernasib buruk sekarang-sekarang ini’.

Orang bilang ‘apa yang tidak membunuh kita menjadikan kita lebih kuat’. Saya tidak tahu apakah benar demikian. Mungkin saja setelah mengalami patah hati itu hati saya menjadi lebih kuat, mengingat saya tidak patah hati dua kali untuk hal yang sama, tetapi mungkin juga hati saya hanya menjadi lebih kebas dari sebelumnya.

Dari semuanya, saya belajar satu hal lagi tentang kejelekan dan kenaifan saya, yaitu terkadang saya membiarkan hati saya seperti oloturia. Ketika diserang oloturia mengeluarkan seluruh organ tubuhnya untuk membela diri. Oloturia yang sehat akan mampu membentuk pengganti yang sempurna bagi isi tubuhnya yang hilang itu. Sedangkan saya tampaknya tidaklah demikian.

Cinta barangkali adalah sebuah kelelahan yang tak terkatakan

Kalimat itu adalah sms yang dikirim seorang mahasiswa di kelas creative writing saya. Ada semacam idiom di kelas kami. Idiom yang kira-kira berisi gabungan antara kata-kata ‘cinta’, ‘kusam’, ‘sunyi’ dan ‘lelah’ dengan berbagai variasinya.

Saya sendiri, saya bisa mengatakannya dengan nada penuh syukur, sangat sering menyaksikan cinta yang melelahkan itu.

Saya mengenal seseorang yang menempuh perjalanan jauh, setiap minggu, tanpa menghiraukan keadaan cuaca, hanya untuk mengunjungi temannya. Sama sekali bukan untuk urusan apa-apa kecuali semacam saling menghangatkan hati masing-masing.

Saya juga mengenal seseorang yang sepertinya selalu mengorbankan waktu tidurnya agar dapat menenangkan istrinya, yang sedang sakit dan punya kebiasaan menangis dalam tidurnya, kalau-kalau istrinya itu terbangun di tengah malam.

Saya mengenal seseorang yang senantiasa mengatakan hal-hal yang baik dan menyenangkan pada setiap obrolan mayanya dengan seorang temannya. Selalu sopan dan manis walau temannya itu hanyalah seorang yang egois yang mengatakan apapun yang ingin dia katakan dan sama sekali tidak peduli pada apapun yang tidak ingin dia pedulikan, bukan karena hal lain tetapi karena standar moralnya yang tinggi tidak mengijinkannya berbuat hal lain selain kebaikan.

Rasanya saya tidak memiliki cukup pemahaman tentang hal-hal yang demikian. Itu seperti mendengarkan sebuah lagu yang sangat indah tanpa mampu menjelaskan dimana persisnya letak keindahan itu. Barangkali dari sinilah munculnya kalimat lucu ”belahlah dadaku”, bahwa sesuatu yang dirasakan di dalam hati tidak akan mudah dipahami orang lain kecuali orang lain itu membelah dadanya dan masuk ke dalam hatinya.

Dalam hidup saya mencintai seseorang, barangkali sudah hampir separo umur saya cinta itu ada tapi saya baru menyadarinya, benar-benar menyadari dan memahaminya, setelah saya tua.

Dia bagi saya seperti sebuah magnet. Magnet dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan saya adalah logam-logam rongsokan yang rombeng. Bukan hanya karena masalah fisika saja kalau kemudian logam-logam itu mendekat pada magnet.

Saya, logam-logam rongsokan yang bunyinya pating glodak pating krompyang ini pun menyeret-nyeret diri mengikuti kemana pun dia bergerak. Jika dia bergeser ke barat saya pun menggeserkan diri saya ke barat. Jika dia berhenti maka saya pun tidak mungkin bisa memaksa-maksa untuk terus bergerak.

Dalam setiap pergerakan, berdasarkan gaya gesek, tentu saja ada luka-luka dan goresan-goresan tapi logam-logam rongsokan yang pating glodak pating krompyang itu terus saja menyeret-nyeret diri mendekati magnet itu.

Jika saya punya waktu sedikit, saya bisa melihat bahwa saya merasa lelah, luka-luka dan goresan-goresan itu menjadi bukti tak terbantahkan tapi apakah saya mampu membujuk diri saya untuk berhenti. Ternyata sama sekali tidak.

Ini barangkali adalah romantisme khas wanita. Jika seorang wanita hidup selama tiga puluh hari bersama kekasih yang dicintainya dan mengalami dua puluh sembilan hari dua puluh tiga jam dalam kesengsaraan dan penderitaan dan hanya satu jam saja merasakan kebahagiaan maka wanita itu akan menganggap kesengsaraan dan penderitaan itu sebagai bagian dari kebahagiaan.

Orang barangkali akan melihat wanita semacam itu patut dikasihani, bahwa dia tidak mendapatkan yang sepadan nilainya dengan semua kelelahan yang dialaminya. Tapi wanita itu, dalam hal ini saya, melihat dengan cara sebaliknya, bahwa semua definisi yang lazim memudar jika berurusan dengan cinta, bahwa memang demikianlah lazimnya seorang yang mencintai.

Tanpa ragu saya pun membalas sms itu dengan

Namun kelelahanlah yang membuat cinta demikian menikmatkan

 

HOMELAND

Secara harfiah kampung halaman diartikan sebagai  tempat dimana seseorang dilahirkan, tempat pertama yang diatinggali dalam hidupnya.

Kampung halaman sering dihubungkan dengan kata rumah, keluarga dan bahkan akar.

Awal tahun ini saya, setelah sekian lama baru sempat,  membaca buku yang sedikit banyak memaknai kata akar itu dalam kaitannya dengan kata kampung halaman. Buku itu berjudul Ascolta La Mia Voce. Buku itu merupakan buku kedua sementara buku pertama berjudul Va’ Dove Ti Porta Il Cuore telah saya baca beberapa tahun yang lalu. Buku itu sangat bagus, membuat saya merenung  juga mencucurkan air mata.

Akar jikalau tidak dipandang sebagai tempat bertumbuh maka ia adalah apa yang menghubungkannya dengan masa lalu. Kata rumah , saya sendiri sedikit memelencengkan artinya menjadi tempat dimana hatimu berada dan keluarga adalah mereka yang menempati ruang-ruang di dalam hatimu.

Kampung halaman dalam dunia gagasan memiliki gambaran ideal ketiga pengertian tadi. Namun bagaimana apabila orang tidak menemukan rumah, keluarga dan akar-nya disana?

Pertanyaan itu berada dalam pikiran saya belakangan ini. Sebagian karena saya sudah lama tidak kembali ke tempat dulu saya tinggal (setelah seseorang berkata kepada saya “Hatimu adalah rumahku” saya tidak lagi bisa bermain-main dengan kata pulang) Sebagian yang lain karena sahabat saya bersikeras ingin melihat dan mengunjungi kampung halaman tempat saya dilahirkan, keinginan yang mungkin mirip dengan Alice yang ingin tahu isi Wonderland. Seperti umumnya orang-orang yang memulai persahabatan setelah dewasa kami sekali waktu saling bercerita tentang masa kecil. Mungkin dari situ berawal ide untuk melihat tempat seperti apa yang telah membesarkanmu.

Saya tidak suka dengan keinginannya itu dan saya sudah menyatakannya dalam bahasa Indonesia. Saya heran bagaimana sahabat saya men-tidak-kan kata-kata saya. Kebetulan saat ini saya sedang sakit. Dokter dan keluarga biasanya bersabar hati untuk tidak menentang kata-kata, keinginan maupun pendapat saya apabila saya sedang sakit sebab mereka mengira pertentangan membuat saya gelisah tidak bisa tidur di malam hari dan itu mempengaruhi catatan medis saya saat dokter memeriksa saya keesokan harinya. Walaupun bagi saya tidak ada beda yang signifikan, saya memang memikirkan banyak hal, dan lagipula saya jarang merasa sakit walaupun sedang dirawat di rumah sakit, tapi catatan medis dan hasil laboratorium selalu dianggap lebih nyata dan ilmiah dibanding perasaan saya. Dan karena dokter dan keluarga saya tidak menyukai keadaan saya yang tidak membaik maka mereka pikir tidak ada pertentangan itu perlu dimasukkan dalam menu makanan saya.

Namun alasan saya tidak suka pada keinginan sahabat saya itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kondisi kesehatan saya. Hal itu lebih pada kekhawatiran akan tumbuhnya pesepsi yang salah. Saya sering menulis cerpen dengan latar belakang kampung halaman  saya sewaktu saya masih kecil. Saya selalu merasakan perasaan yang susah dijelaskan tentang tempat itu. Cerita yang paling mendekati gambaran perasaan saya adalah cerpen saya yang berjudul Pulang.

Terakhir kali saya kembali, tempat itu rasanya seperti tempat yang berbeda. Jalan di pematang sawah tempat dulu saya berjalan kaki pergi-pulang ke sekolah sejauh 2-3 kilometer telah sepenuhnya tertutup rerumputan, jembatan bambunya telah roboh, karena tidak ada lagi orang yang sudi melewatinya. Warung-warung kecil berdinding anyaman bambu di bagian-bagian tertentu dari desa tempat saya biasa diajak minum dawet atau cemoe telah berganti bangunan berdinding tembok semen tempat orang menjual pulsa telepon genggam. Rumah-rumah joglo yang nyaman dan sebenarnya paling sesuatu untuk daerah tropis telah berubah menjadi rumah-rumah dengan arsitektur model Eropa, rumah-rumah yang dibangun dari hasil merendahkan diri di luar negeri yang tidak menambah apa-apa kecuali sekolah-sekolah menengah yang menjadi sepi karena orang tua anak-anak itu lebih suka mereka menjadi TKW daripada memperoleh pendidikan yang layak. Pinus-pinus telah ditebang. Capung-capung tinggal beberapa spesies saja, seharian saya mencari capung merah dan tidak menemukan seekor pun. Dan orang-orang mulai berbicara dengan bahasa sinetron, menjadi sangat mudah membenci dan menyakiti orang lain dan sangat susah merasa bahagia.

Hal yang membuat saya berpikir apakah keindahan yang dahulu itu, romantisme kanak-kanak saya itu, benar-benar pernah eksis atau tidak, juga apakah akar saya menghunjam di tempat itu. Pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya selalu berakhir pada kata-kata “Orang dewasa dapat membenci sesuatu sebanyak dia mencintainya.”

Saya tidak mampu memikirkan keindahan macam apa yang akan dinikmati seorang asing di tempat seperti itu. Satu-satunya yang mampu saya pikirkan adalah ini:

Waktu yang berjalan memudarkan segalanya.

aku, kamu dan semuanya tanpa sadar berubah perlahan menjadi kenangan

dan itu sangat menyakitkan

walaupun begitu sama sekali tidak dapat kuhentikan.

MALAM-MALAM TERBAIK

Dalam Twilight Saga Series, favorit saya belakangan ini, pada buku ketiga Eclipse, Bella bertanya kepada Edward tentang malam-malam terbaiknya. Sebuah percakapan yang manis menurut saya mengingat vampir tidak bisa tidur apalagi bermimpi. Vampir menjalani malamnya sementara manusia melewati malamnya.

Berpikir tentang malam-malam terbaik saya bertanya kepada sahabat-sahabat saya tentang bagaimana malam-malam yang disebut malam-malam terbaik itu.

Sahabat saya menganggap concord pertamanya sebagai salah satu malam terbaiknya. Selama hampir dua tahun gurunya selalu mengkritiknya tiap kali dia memainkan Bach. Bach cenderung formal dan pakem tapi dia selalu membuatnya menjadi terkesan sangat flamboyan. Tanpa ijin dia ikut concord. Dia tidak menang juga tidak mendapat tawaran ikut dalam sebuah orkestra tapi concord itu memperbaiki rasa percaya dirinya.

Seorang sahabat saya yang lain merasa malam terbaiknya adalah suatu malam di akhir musim dingin dua tahun lalu. Malam itu dia baru bangun dari pengaruh pesta kimia kecil-kecilan yang dia lakukan. Disebut kecil-kecilan karena hanya mengisap ganja sementara biasanya heroin. Dia bangun di balkonnya. Sungguh ajaib dia tidak berjalan satu langkah lebih ke depan karena itu berarti dia akan terjatuh dari lantai tujuh. Dia melihat langit begitu gelap dengan bulan sabit yang anehnya terlihat sangat indah. Entah kenapa dia teringat ibunya dan menangis. Sejak itu dia memikirkan kehidupannya yang berantakan dan sedikit demi sedikit memperbaikinya. Saat ini sahabat saya itu telah menjadi salah satu orang paling saleh yang pernah saya temui.

Seorang sahabat saya menceritakan tentang salah satu malam terbaiknya. Dia sudah tidak tidur selama 3 hari 2 malam dalam sebuah kegiatan semacam camping. Pada malam ke-3 dia begitu capeknya sehingga berbaring di tengah jalan, jalan yang bersih di pegunungan, seorang gadis cantik menawarinya supaya tidur di pangkuannya. Sahabat saya itu tidur tidak lebih dari 1 jam tetapi dia merasa itu adalah salah satu malam terbaiknya.

Malam-malam terbaik kelihatannya selalu berkaitan dengan hal-hal spektakuler atau perasaan yang mendalam. Namun kalau ditanya tentang malam terbaik saya bingung menjawabnya. Saya menderita insomnia sehingga saya dapat menikmati malam seperti saya menikmati siang. Setiap malam terlihat istimewa di mata saya, saya kadang-kadang melewati malam dengan menikmati susunan konstelasi bintang atau memotret bulan. Hal sederhana yang secara aneh mampu membuat saya merasa bahagia.

Meski setiap malam tampaknya indah bagi saya tapi ada malam yang selalu saya kenang-kenang. Malam-malam itu adalah malam-malam ketika saya masih anak-anak. Malam-malam ketika musim panen cengkeh tiba.

Kebun cengkeh keluarga saya lumayan luas. Musim panen adalah musim yang lama ditunggu. Bunga cengkeh lama tumbuhnya. Bunganya mulai bertunas pada musim penghujan dan baru pisa dipanen pada musim kemarau, kira-kira 5-6 bulan. Cengkeh-cengkeh itu dipetik dengan menggunakan tangga dari batang bambu yang diikat dengan 3 buah tali (1 tali diikat pada batang cengkeh, 1 tali diikat pada sisi kiri dan 1 tali diikat pada sisi kanan) Tali-tali itu menjadi semacam pengaman bagi pemetik cengkeh karena pohon cengkeh di kebun kami tingginya lebih dari enam meter. Dalam sehari kami bisa memanen cengkeh sampai lebih dari 1 kwintal (cengkeh yang masih dalam gagangnya) apabila cuaca cerah dan tidak berangin kencang.

Pada malam hari sehabis isya ayah dan kakek saya akan menggelar tikar-tikar pandan di lantai rumah kami dan menumpahkan cengkeh-cengkeh itu dari karung-karung ke tengah-tengah tikar, membentuk semacam gundukan raksasa, kemudian kami sekeluarga, kadang bersama tetangga dan kerabat, akan duduk mengelilinginya, memisahkan bunga-bunga cengkeh itu dari gagangnya. Karena saya menyukainya saya sampai hafal bunga cengkeh itu berasal dari pohon yang mana. Tidak ada 2 pohon cengkeh yang menghasilkan bunga yang sama. Saya ingat ada bunga cengkeh yang memiliki warna merah yang sangat indah dan bentuk yang feminin yang berasal dari satu pohon yang berada pada deretan nomor 3 dari ujung kebun bagian utara dan nomor 2 dari ujung kebun bagian timur. Saya kadang-kadang memisahkan bunga-bunga berwarna indah itu tetapi setelah dijemur bentuknya ternyata tidak berbeda dengan yang lain. Sewaktu saya bertanya kenapa bunga itu begitu indah kakek saya mengatakan bahwa pohon itu sepertinya kekurangan air. Rupanya kakek saya melihatnya dari segi bentuknya yang mungil.

Kami bekerja di bawah penerangan lampu petromaks, kadang sambil makan ketela rebus dan mendengarkan para orang tua bercerita. Cerita itu kadang terlalu spektakuler untuk dipercaya. Misalnya cerita tentang kakek buyut saya. Orang-orang suka datang kepada beliau untuk meminta obat. Tiap kali orang datang beliau berkata “Aku ora duwe tamba. Nduweku mung banyu genthong. Kae njupuka.” (= aku tidak punya obat. aku cuma punya air di genthong. itu ambillah) Orang yang datang mengambil air itu dan meminumnya dan ndilalah kersaning Allah orang itu jadi sembuh. Pada suatu hari beliau dan kawan-kawannya mengantar pengantin ke desa tetangga. Di desa itu ada orang yang sombong sekali, saat itu dia mengadakan wayangan dan berkata di desa kakek buyut saya tidak mungkin bisa mengadakan hajatan sebesar itu. Kawan-kawan kakek buyut saya marah sekali tapi kakek buyut saya hanya mengatakan apa gunanya wayangan kalau tidak ada yang menonton. Beliau mengambil dua buah alu dan ndilalah kersaning Allah alu itu menjadi hidup dan menari-nari seperti Arjuna melawan Buta Cakil. Akibatnya orang-orang lebih sibuk menonton alu itu dibanding melihat wayangan. Sewaktu saya kecil saya lebih menganggapnya sebagai cerita yang lucu daripada sebuah cerita yang bermuatan magis.

Kegiatan memisahkan cengkeh dari gagangnya itu kadang juga disertai semacam kehebohan  seperti ketika salah seorang sepupu menemukan apa yang disebutnya uler heleman, ulat yang hidup di pohon cengkeh dan menjadi hama, berwarna kuning kehijauan, badannya kecil tapi kepalanya besar dan apabila terkena kulit terasa menyengat sehingga disebut juga uler srengenge.

Musim cengkeh waktu itu hanya satu kali setahun pada awal musim kemarau. Pohon-pohon itu berbunga secara serempak sehingga bisa dipanen secara serempak juga. Berbeda dengan sekarang. Global warming membuat iklim berubah dan mempengaruhi tanaman. Musim panen cengkeh itu berlangsung kira-kira dua minggu tergantung mudah atau tidaknya kami memperoleh pekerja yang mau memetik cengkeh.

Meskipun hanya sebuah keindahan yang sangat sederhana tapi malam-malam di musim panen itu meninggalkan kesan yang mendalam di hati saya.

FACEBOOK AND ME

According Google, Facebook is a free-access social networking website that is operated and privately owned by Facebook, Inc. Users can join networks organized by city, workplace, school, and region to connect and interact with other people. People can also add friends and send them messages, and update their personal profiles to notify friends about themselves. In february 4, 2004 Mark Zuckerberg founded Facebook with  his roommates Dustin Moskovitz and Chris Hughes while he was a student at Harvard University Facebook was then opened on September 26, 2006 to everyone of ages 13 and older with a valid e-mail address.

Facebook is supposed to make me happy.

But istead, Facebook allowed me to see her, every woman I even know, and her baby/es.

I begin to wonder. Have I become weird, that I am only 28 but obsessed with the idea of having a child? I’m in a relationship with the most beautiful creature in the world, and I AM happy. 

Facebook has made me somewhat reconnected to my old friends in other parts of the world. The pretty ones, the ugly ones, the rich ones, the poor ones, ect. Strangely, I don’t care about the pretty, the ugly, the rich or the poor. I only care about the happily married ones, with their children.

Why are they so blessed?

How does God pick people to be happy?

Am I even in the picking system of luckiness?

Or have I been eliminated from to-be-happy queue?

Or have I blamed technology for being too vulgar in exposing others’ happiness?

Or is it fake as well?

Well, in my own conclusion, a real shocker perhaps, Facebook is butterflies in my stomach.

Based on “3some” by NoRiYu

SAYA DAN PUZZLE

puzzle kayu bikin pusing

Salah satu permainan yang saya suka adalah menyusun puzzle.

Sewaktu saya sakit teman saya membawakan puzzle supaya saya tidak bosan. Gambarnya rumit, lukisan hitam putih atap-atap rumah sebuah kota dengan pemandangan langit dan awan-awan yang bergulung-gulung, entah siapa pelukisnya, saya perlu waktu berhari-hari untuk bisa menyelesaikannya. Sejak itu saya suka puzzle.

Saya ingat dulu saya pernah membuat puzzle. Salah satu sahabat saya hendak lulus kuliah. Saya diserang perasaan sentimentil yang aneh terhadap berita yang seharusnya menggembirakan itu. Hal itu karena saya pikir satu-satunya alasan masuk akal kenapa kami bersama, selain karena rasa cinta, adalah karena kuliah -saya sudah lulus satu semester sebelumnya tapi saya selalu punya alasan untuk tetap tinggal di Malang sementara dia kelihatannya sudah muak dengan kota itu- dan kelulusan menjadi seperti ucapan selamat tinggal yang harus diucapkan suka atau tidak. Saya menulis semacam surat perpisahan dalam bahasa Inggris yang isinya kira-kira “terima kasih sudah menjadi temanku” di selembar karton lalu saya mengguntingnya menjadi bagian-bagian kecil, memasukkannya dalam kantong dan menyuruh teman saya membacanya. Saya tidak mengguntingnya dalam potongan yang simetris, seperti seharusnya sebuah puzzle, sehingga pesan itu mudah dibaca. Sahabat saya itu hanya tersenyum saja. Senyum yang tidak bisa diartikan dengan seluruh kosakata dalam kamus. Meskipun mungkin pada saat dia tersenyum dia tidak sedang memikirkan apa-apa tapi itu adalah senyum yang sangat saya suka.

Yang paling ironis dari menyusun puzzle adalah begitu selesai menyusunnya kita biasanya atau barangkali akan menguraikannya kembali.

Puzzle adalah semacam permainan yang selalu bisa diulang dari awal. Atau memang seperti itulah yang namanya permainan.

Melihat puzzle saya sering membayangkan hal mengerikan.

Saya membayangkan diri saya, atau orang lain kadang-kadang, seperti sebuah puzzle. Keping demi keping tersusun dalam sebuah pola khusus. Saya memikirkan seandainya terjadi sesuatu, entah apa, yang menyebabkan puzzle itu terbalik dan susunannya berantakan. Saya pasti akan mengerahkan segenap upaya untuk menyusunnya kembali, barangkali akan menghabiskan banyak waktu dan mungkin juga melibatkan perasaan dan kesetiaan. Lalu apabila ternyata saya tidak mengenali atau mengetahui pola khusus itu, tidak saja karena saya tidak punya ingatan fotografis yang bagus tapi juga karena saya tidak memahami pola khusus itu, saya sangat yakin jika itu terjadi maka saya pasti akan mengalami apa yang menjadi pengertian paling harfiah dari kesengsaraan.

Bayangan itu begitu mengerikannya bagi saya sehingga saya dengan sangat yakin akan memilih untuk berkata kepada siapapun “Saya tidak akan membagimu dalam potongan-potongan puzzle” daripada mengatakan sebaliknya.

KEBETULAN DAN SUBSTITUSI

Selama beberapa bulan ini saya, seperti yang saya harapkan, mencoba untuk bersikap lebih dewasa: mensyukuri hidup, menjaga kesehatan, mengontrol emosi, bekerja dengan dedikasi dan mencintai dengan keikhlasan.

Saya sudah berusaha tapi ternyata tidak selalu berhasil.

Ketidakberhasilan saya terlihat beberapa waktu lalu gara-gara satu kata yaitu “kebetulan”. Kata itu membuat saya kembali kepada sifat asli saya, yang ingin saya buang, yaitu temperamental, impulsif dan suka bereaksi berlebihan.

Masalahnya bukan pada apa yang diucapkan sahabat saya ketika dia memakai kata “kebetulan” itu dalam percakapan kami, tapi pada apa yang saya pikirkan tentang apa yang dia katakan itu. Kalau terhadap hal yang penting dalam hidupnya saja dia memakai kata “kebetulan” maka bagaimana lagi dengan hal yanga tidak penting. Itu membuat saya tidak enak hati. Bukan karena saya berada dalam golongan hal yang tidak penting itu, saya memang berada dalam golongan itu dan itu bukan masalah sama sekali. Bukan juga karena saya dikatakan sebagai sebuah kebetulan, sahabat saya tidak menyebut saya begitu, tidak secara spesifik. Tetapi saya melihat pada implikasi dari pemikiran itu.

Ketika dia berbicara tentang anaknya sebagai akibat dari sebuah “kebetulan” itu terasa di hati saya sama seperti ketika seorang wanita kehilangan anaknya dan orang-orang berkata kepadanya “Kau masih muda. Kau masih bisa punya anak lagi. Kalau kau punya anak lagi kau akan melupakan kesedihanmu ini” seakan-akan anak-anaknya itu hanya seperti semacam gaun satin yang dapat diproduksi secara massal asal ada kain satin dan polanya. Entah bagaimana hal itu membuat saya marah.

Sebuah eksistensi menurut saya tidak berkaitan dengan apakah dia tinggal sebentar atau lama.

Dulu saya percaya semua orang bisa dicari substitusinya. Tapi aku sadar keyakinan itu lebih karena aku merasa kecewa pada kenyataan dan bukan karena benar-benar meyakininya. Misalnya saja saya sudah ratusan kali mengingkari diri sebagai Yuni binti….bin Ken Arok, karena mungkin saja ada darah comberan ikut mengalir darah saya juga karena saya tidak terlalu menyukai diri saya sendiri yang impulsif dan meledak-ledak. Ratusan kali saya membayang-bayangkan diri sebagai Yuni of Somewhere binti…. bin A Gentleman of Quality yang mempesona, melakukan hal-hal terpuji dan bertingkah laku tiada tercela. Tapi Yuni yang semacam itu tidak pernah bisa benar-benar mensubstitusi Yuni binti… bin Ken Arok yang impulsif, bodoh dan meledak-ledak.

Saya pikir alasan utamanya adalah karena saya hanya hidup satu kali dan tidak bisa berganti peran. Barangkali dalam hidup memang terbentang banyak pilihan tapi pada kenyataannya begitu seseorang memilih satu pilihan maka dia berada dalam pilihan itu dan tidak berada pada pilihan yang lain.

Kenapa orang harus berbuat baik pada sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan mungkin juga karena berkaitan dengan hal itu. Karena kita hidup pada masa sekarang, di tempat ini, bersama orang-orang yang ini, mengalami kejadian-kejadian ini, merasakan perasaan-perasaan ini, menjadi begini dan bukannya hidup pada masa yang lain, di tempat lain, bersama orang-orang yang lain, mengalami kejadian-kejadian lain, merasakan perasaan-perasaan lain, tidak juga menjadi hal lain selain begini.

Mensubstitusikannya, dalam bentuk apapun, hanya akan tampak sebagai sebuah tindakan kekanak-kanakan.

PURPLE RHAPSODY

forget me not

Oleh Yuni Kristianingsih Pramudhaningrat

Hujan turun dengan tiba-tiba, menimbulkan keributan sebentar yang sebenarnya lebih karena kaget -mengingat mendung yang menghiasi langit hanyalah jenis awan yang tipis dengan sedikit sekali warna kelabu- daripada karena air yang jatuh . Tetes-tetes air itu tidak berupa tetesan yang besar melainkan hanya kecil saja dan jatuhnya pun dengan keteraturan yang mengagumkan. Suaranya seperti suara piano dalam denting-denting nada minor yang mengharukan.

Dia memperhatikan semua itu dari tempat duduknya. Dia pelanggan coffe shop itu. Dia datang hampir setiap hari selama satu atau dua jam. Semua pegawai disana mengenalnya sebagaimana dia pun mengenal mereka sehingga tampaknya tidak ada yang berkeberatan jika dia mengklaim meja di dekat jendela itu sebagai mejanya. Di depannya, di atas meja ada nampan berisi peralatan minum teh gaya Inggris yang terbuat dari porselen: teko, cangkir, tempat gula, tempat creamer, piring kue dan sebuah vas berisi setangkai bunga gerbera merah. Cammomile tea dan almond muffin adalah menu kesukaannya. Dia tidak pernah mengganti pesanannya dan kelihatannya dia merasa itu bukan sebuah masalah. Saat itu, di atas meja, laptopnya menyala, memperlihatkan sebuah halaman untuk menulis e-mail tapi tak tertulis sebuah huruf pun di sana kecuali alamat penerima dan bagian subject yang diisi dengan kalimat bagaimana kabarmu?

Alamat e-mail itu tidak pernah dengan sengaja dihafalnya. Tapi barangkali justru karena itu dia mengingatnya. Hati lebih mudah menyimpan sesuatu dibanding otak. Masalahnya kemudian adalah apa yang diingat dari proses di luar sadar itu lebih sulit untuk dilupakan. Dia tahu bagaimana rasanya ingin melupakan sesuatu yang tidak bisa dilupakan. Beberapa waktu yang lalu dia sangat ingin melupakannya. Alamat e-mail itu dan juga semua tentang pria itu. Sebab mengingatnya membuat dia merasa begitu sengsara. Tetapi ketika semua usaha dan bentuk-bentuk penyangkalan yang dia lakukan terasa sia-sia dia menyadari bahwa tidak mengingatnya justru membuatnya jauh lebih sengsara. Akhirnya dia membiarkan dirinya mengingat pria itu.

Dia senang mengirim e-mail kepadanya tak peduli akan mendapat jawaban atau tidak. “Terkadang aku suka mengabaikan,” kata pria itu suatu hari dulu.

“Aku sudah biasa diabaikan,” jawabnya ketika itu. Meskipun kemudian pria itu juga melakukan hal yang sama kepadanya. Mengirim e-mail tanpa mengharapkan balasan.

Sekarang dia berpikir betapa bodohnya dirinya. Waktu itu dia belum tahu bahwa diabaikan dapat membuatnya terdampar di tempat itu. Menghirup teh, memandangi hujan, mendengarkan Chopin lalu diam-diam menangis. Ketika cinta bergabung dalam satu komposisi dengan kesetiaan yang konyol dan harapan yang naif maka yang timbul kemudian adalah kisah tentang kebodohan yang sangat layak ditertawakan.

Kadangkala dia berpikir tentang jodoh. Dia merasa dirinya cukup mampu menerima hal-hal di luar logika. Menurutnya jodoh adalah sebuah keutuhan dari potongan-potongan adegan dalam sebuah skenario besar bernama kehidupan. Di dalamnya menampung pertemuan dan perpisahan serta hal-hal yang kelihatan sepele dan sama sekali tidak penting yang disebut orang sebagai kebetulan. Tetapi meskipun kelihatan sepele sebuah kebetulan tetap adalah sesuatu.

Pada bagian yang disebut kebetulan itulah dia dan pria itu bertemu. Kalau dipikirkan kembali barangkali itu adalah kebetulan yang paling tidak diinginkannya.

Pria itu masih begitu muda ketika bertemu dengannya untuk pertama kali. Pria muda dengan begitu banyak idealisme, kegilaan dan keresahan yang memenuhi kepalanya. Tipikal dari masa muda yang penuh warna. Sementara dia sendiri merasa masa muda telah meninggalkannya perlahan-lahan dan meskipun dia telah mampu mendapatkan warna alami dan citra dirinya dari masa itu tapi kenyataan bahwa kemudaan hampir-hampir telah menjadi semacam kenangan saja baginya membuatnya merindukan masa itu

Dia mengajar kelas creative writing pada semester itu. Sebenarnya dia benar-benar memaksakan diri untuk mengajar. Dia punya banyak pekerjaan. Harian umum tempatnya bekerja didirikan oleh kakeknya dengan penuh perjuangan. Harian umum itu seolah telah menjadi bagian dari sejarah keluarganya dan dia secara genetik maupun fisik terikat pada sejarah itu dan dia tidak diharapkan melakukan hal yang lain. Sebelumnya dia telah menolak beberapa tawaran resmi untuk mengajar di universitas. Dia menerima pekerjaan itu semata hanya karena yang memintanya adalah sahabat terkasihnya.

Pria itu ada di kelasnya. Pada awalnya dia tidak menyadarinya, memandangnya nyaris hanya sebagai salah satu dari sekian banyak karakter manusia yang harus dia hadapi dalam satu masa tertentu. Hingga pada suatu hari dia membaca tulisan pria itu. Aku Tidak Tertarik Pada Manusia adalah sebuah cerpen yang berisi surat seseorang kepada sahabatnya. Dia membacanya berulang-ulang, merasa seperti sedang membaca tulisannya sendiri di masa muda, begitu emosional, begitu jujur sekaligus begitu arogan. Semua mahasiswa harus membuat ulang tulisan mereka dan ketika pria itu mengumpulkan tugasnya dia bertanya “Kenapa kau tidak tertarik pada manusia? Bukankah ada begitu banyak keindahan di dunia ini tapi tidak ada yang seindah manusia?”

Pria itu memandangnya dengan heran. “Manusia itu keberadaannya cuma seperti ilusi,” jawabnya dengan raut muka mind your own business.

“Dan itu menyakitimu?”

“Siapa yang tidak?”

Dia memberi A+ pada pekerjaan pria itu dan diskusi semacam itu lebih sering terjadi. Dia tidak pernah menyangka bahwa apa yang semula dikiranya sebagai sesuatu yang cuma akan lewat sekilas, sesuatu yang kelihatan tidak berarti bisa menjadi sesuatu yang mempengaruhi hidupnya. Mungkin begitulah cara takdir berjalan. Diam-diam, perlahan-lahan, mengendap-endap dan mungkin pada waktu yang lain menyergap dengan cepat dan tidak bisa dihindari.

Dia menyaksikannya menjadi dewasa, melalui tulisan-tulisannya, mula-mula dia hanya biji yang jatuh dari pohon, bergulir tak tentu arah oleh kontur lingkungan yang berantakan, ditimbun tanpa rencana oleh tanah, daun-daun kering, ranting-ranting dan segala macam kotoran, disana dia diam, mengumpulkan tenaga untuk memecah kulit bijinya yang keras, menggeliat kesakitan ketika tunasnya yang lemah berusaha menemukan jalan di sela padatnya tanah untuk melihat matahari dan akarnya yang keras kepala menyerap kelembaban. Dia menyaksikan tunas itu tumbuh dari hari ke hari, menggeliat, menggelepar, tapi semakin kuat, semakin keras kepala, tumbuh semakin menjulang sekaligus mencengkeram semakin dalam. Dia menyaksikannya babak belur, menangis dan tertawa menemukan jati diri.

Terkadang, ketika memandanginya yang sedang tidur -biasanya pria itu pamit tidur sambil berkata, “Begitu bangun nanti aku akan memelukmu” biasanya pula dia selalu sudah pergi sebelum pria itu bangun- tapi sebelum pergi dia selalu memandanginya. Dia mengingatkannya pada puteranya.

Dia sering memandanginya seakan pria itu adalah putera yang tidak pernah dia miliki. Dia menderita suatu penyakit di jantungnya. Dia pernah mengandung sekali saat umurnya 24 tahun, anaknya lahir prematur dan meninggal hanya sehari setelah dilahirkan. Dia sendiri tidak tahu tentang kelahiran itu, waktu itu dia sedang sakit, tidak sadar selama beberapa hari, dokter melakukan sesuatu padanya, dia tidak tahu apa, tidak ada yang membicarakan itu dengannya, dan bayi itu lahir. Dia tidak pernah melihatnya, dia tidak tahu apa wajahnya mirip dengan dirinya atau suaminya, dia tidak tahu apa warna rambut dan matanya. Sekeras apapun dia mencoba membayangkannya dia tahu itu hanyalah sosok yang dia reka-reka dan bukan benar-benar puteranya.

Ketika dia sudah bisa memahami apa yang terjadi dia menyadari kenyataan bahwa dia tidak akan bisa melahirkan anaknya sendiri, bahwa selamanya tidak akan ada sesuatu yang menjadi bayangannya, selamanya dia akan selalu menjadi sosok yang utuh tidak terbelah yang dari rongga-rongga tubuhnya tidak akan keluar apa-apa kecuali kekosongan.

Pria itu entah bagaimana mengingatkannya pada anaknya. Melihatnya tidur dia berpikir barangkali seperti itulah puteranya tidur.

Dia sering menatapinya, mengelus rambutnya. “Kamu bayi yang besar,” katanya. Pria itu begitu banyak bicara dan begitu banyak tingkah kalau sedang bangun, dia melakukan segala hal dengan penuh semangat dan energi, termasuk ketika mencumbunya, tapi saat dia tidur dia kelihatan begitu manis dan lucu. Seperti bayi. Pria itu tidak suka disebut bayi tapi dia tetap menyebutnya “bayiku”.

Di lain pihak dia tetap menghormati suaminya, tetap memandang pernikahan mereka sebagai sesuatu yang suci, tapi di sisi lain dia mengambil jarak darinya, memberinya alasan dan kesempatan untuk meninggalkannya. Mereka berbicara dengan bahasa yang sopan satu sama lain. Membiarkan tata karma menutupi pudarnya cinta kasih mereka, sekaligus membantu mengkristalkannya menjadi nyaris abadi. Suaminya tidak dapat meninggalkan dirinya sebagaimana dia juga tidak dapat meninggalkan suaminya. Dia menerima itu sebagai sebuah konsekuensi dari hidup.

Dia melihat pria itu, kekasihnya, mencintainya dengan cara sebagaimana seorang pecinta muda, dengan cinta yang alami, tulus sekaligus begitu berkobar-kobar. Pria itu mengutip percakapan-percakapan mereka dalam tulisan-tulisannya. Puisi-puisinya ditulis untuknya. Dia benar-benar seperti pohon, tumbuh begitu tinggi sekaligus menancap begitu dalam. Kelihatan begitu jauh tapi juga begitu dekat.

Ketika meninggalkannya dia tidak punya niat apa-apa selain memikirkan kebaikan pria itu.

“Kau pergi karena aku membuatmu bosan? Karena aku tidak terlalu cerdas untukmu?” Pria itu bertanya saat dia mengucapkan selamat tinggal.

“Kau luar biasa menarik dan luar biasa cerdas, Sayangku,” jawabnya. “Tidak ada yang salah dengan dirimu. Tapi aku hanyalah pulau kecil. Seorang pria, sepertimu, seharusnya memiliki dataran yang luas untuk berpijak, bahkan kalau perlu dia membangun semestanya sendiri. Di pulau yang kecil kamu tidak akan tumbuh menjadi kuat.”

“Aku tidak mengerti.”

“Kau akan mengerti.”

“Aku cinta padamu. Aku sungguh-sungguh cinta padamu,” kata pria itu sambil memeluknya. Malam itu habis dengan cara yang sama seperti malam ketika mereka pertama kali menjaring cinta. Tapi saat dia pergi di pagi buta, dia melihat pria itu, kekasihnya, menangis dalam tidurnya.

Ketika dia pergi, dia benar-benar hanya memikirkan kebaikannya, sama sekali tidak disadarinya kalau kepergiannya menghancurkan pria itu, mencabut akar-akarnya sehingga dia kehilangan daya untuk tetap hidup. Dia benar-benar tak dapat menduganya.

Semester itu berlalu dengan cepat. Dia tidak lagi melihat pria itu di kampus. Bahkan tidak juga ketika bunga bungur jepang bermekaran. Pria itu sangat suka bunga bungur jepang. Pria itu pernah melukisnya -dia memakai gaun indah berwarna ungu muda, duduk di bawah pohon bungur jepang yang sedang bermekaran- dan menghadiahkannya ketika dia sedang berulang tahun sambil berkata, “Di dalam lukisan seperti inilah aku ingin mati.”

Satu dua kali dalam seminggu pria itu masih mengiriminya e-mail. E-mailnya yang terakhir berbunyi:

Beberapa tahun terakhir, dalam kehidupanku yang sederhana dan mudah, sekaligus sepi dan tanpa kejutan apapun, kaulah satu-satunya kesenanganku. Barangkali, ketika seseorang mengatakan satu-satunya dia tidak mengacu pada arti harfiah kata satu. Ketika seseorang menyebut kekasihnya sebagai satu-satunya, dia toh masih punya hal lain selain kekasihnya sebagai satu-satunya, dia toh masih punya hal lain selain kekasihnya itu, dia punya ayah, ibu, adik, kakak, teman kuliah, teman kerja, teman lama, teman baru, teman ngobrol, si kekasih tidak mungkin satu-satunya baginya, dia hanya satu dalam perannya, bukan satu dalam eksistensinya apalagi entitasnya. Namun ketika aku menyebutmu satu maka benar-benar itulah yang kumaksud. Kamu adalah keluargaku, temanku, sahabatku dan bahkan mungkin kekasihku. Kamu adalah satu dalam kedirianmu, dalam entitasmu.

Setelah itu pria itu tidak mengirim e-mail lagi, tidak pernah terlihat di kampus lagi. Ketika dia mencarinya dia mendapatkan kabar bahwa seseorang telah menemukan pemuda itu terbaring di kamarnya, menggenggam salah satu di antara kertas-kertas berisi puisi-puisinya. Koran-koran dan stasiun televisi menggambarkan bahwa pria itu terbaring dengan indah persis seperti Pyramus yang menikam dirinya sendiri setelah mengira Thisbe kekasihnya mati dimangsa singa. Koran-koran mengutip puisi-puisinya lalu dengan cepat semua orang dapat mengutipnya.

Pada apa yang menjadi tujuan, Pujaan

Sehari aku berhenti

Menunggumu…

 

Atas nama yang lalu jadi bermakna, Adinda

Sekecap aku berucap

Namamu…

 

Bawah mana yang menjadi pijakan, Panutan

Sepenggalah aku goyah

Tersentuhmu…

 

Maka maafkan

Janganlah disembunyikan, perasaan

Di balik sepatu kacamu

 

Biar ini menjadi abadi

Melihat dan mendengar semua itu dia berusaha untuk tidak pingsan. Berusaha untuk tidak meminum obat penenang. Berusaha untuk tetap tersadar. Berusaha untuk merasakan semua kesakitan itu. Dia melakukannya untuk menghukum dirinya sendiri. Dia telah mencabut pohon itu. Dengan cara yang paling tidak dapat dia bayangkan. Dan dia tidak menemukan jalan pengampunan atas dosanya itu.

Hari ini adalah hari peringatan kematian pria itu. Dia masih duduk disana, menikmati tehnya dan membayangkan pria itu mengirim e-mail kepadanya. Sekali waktu dia membuka e-mail pria itu, passwordnya adalah namanya, melihat kembali percakapan mereka yang disimpan dengan rapi oleh pria itu dalam draft seakan sebuah harta yang berharga, sekaligus juga mencegah agar alamat e-mail itu tidak dihapus.

Hujan itu masih turun dan dia membayangkan tandan-tandan bunga bungur jepang yang berwarna merah muda keunguan bergoyang-goyang lembut oleh tetesan hujan itu. Dia menghela napas lalu mulai mengetik.

Aku sedang memakai baju berwarna ungu. Tapi aku sama sekali tidak mirip bunga bungur jepang yang sangat kau sukai itu.

Aku bertanya-tanya kenapa kau memilih pergi. Apa karena kau demikian marahnya atau karena kau sudah bosan? Dan aku selalu tidak dapat memahami jawabannya.

Kematian barangkali telah membuatmu lega. Selamanya kau akan dikenang sebagai seorang yang mencintai dengan sungguh-sungguh, seseorang yang memilih melompat bersama-sama cintanya ke suatu tempat dimana perubahan tak sanggup menjamah dan mempengaruhinya. Barangkali kau menikam dadamu karena cuma itu satu-satunya perlawanan yang dapat kau lakukan terhadap perubahan. Cinta tanpa perubahan. Kini kau sudah mendapatkannya. Juga semesta yang sangat luas untuk berpijak. Kau orang yang paling membuat iri, Kekasihku, karena bahkan orang yang ingin melupakanmu pun tidak akan bisa melupakanmu.

 

Catatan:

  1. Ada banyak keindahan di dunia ini tapi tak ada yang seindah manusia adalah salah satu syair dari Sophocles

  2. Pyramus and Thisbe adalah dongeng cinta yang tragis yang terjadi di Babilonia semasa Semiramis berkuasa. Dikisahkan Pyramus dan Thisbe bertetangga. Mereka menggunakan lubang di dinding untuk bercakap-cakap. Mereka saling mencintai tapi orang tua mereka melarang mereka menikah. Suatu hari mereka berjanji bertemu di suatu tempat di bawah pohon mulberry putih.. Thisbe yang pergi diam-diam sambil mengenakan kerudung agar tidak diketahui keluarganya tiba lebih dulu dan menunggu kekasihnya. Tiba-tiba muncul seekor singa yang baru saja memangsa sesuatu sehingga mulutnya berlumuran darah. Thisbe yang ketakutan lari bersembunyi di balik bebatuan tanpa menyadari bahwa kerudungnya terjatuh. Singa itu mendekati mata air dan minum karena haus. Dia melihat kerudung Thisbe dan tanpa sadar menggunakannya untuk mengelap mulutnya. Pyramus yang datang terlambat menemukan kerudung Thisbe yang berlumuran darah dan jejak singa di sekitarnya. Dia mengira kekasihnya meninggal dimangsa singa. Dia pun menikam jantungnya dengan pedangnya. Beberapa saat setelah itu Thisbe kembali dari persembunyiannya untuk melihat apakah singa itu masih ada atau sudah pergi. Tetapi dia malah menemukan tubuh kekasihnya. Menyadari kekasihnya bunuh diri demi dirinya Thisbe pun menikam jantungnya dengan pedang yang sama. Pohon mulberry putih itu menjadi berwarna ungu kemerahan akibat darah mereka.

  3. Puisi dalam cerpen ini adalah puisi karya sahabat terkasih saya Muhamad Imam

Cerpen ini dimuat di majalah sastra Horison edisi bulan Januari 2009             

Tulisan Sebelumnya »