Saya adalah orang yang sepertinya tidak ‘diijinkan’ untuk memilih. Setiap kali saya memilih ‘dengan sengaja’ saya pasti mendapat hasil pilihan yang tidak beres. Sebaliknya, jika saya ‘menerima dengan rela’ suatu pilihan di depan mata saya maka biasanya pilihan itu baik-baik saja.
Yang dimaksud dengan kata ‘dengan sengaja’ itu misalnya seperti ini: jika ada dua mesin ATM dari bank yang sama dan saya ‘dengan sengaja’ memilih yang kanan dibanding yang kiri maka biasanya saya akan menemui ketidakberesan, misalnya uang di mesin itu ternyata habis atau mesinnya sedang out of order, bisa diperkirakan sebelumnya akan menjadi seperti itu tidak peduli apakah saya sudah berdiri mengantri selama satu jam atau cuma lima menit.
Sementara yang dimaksud dengan ‘menerima dengan rela’ itu misalnya begini: ada pohon jambu yang sedang berbuah lebat, kalau saya mengambil buah yang paling dekat dengan saya, biasanya saya mendapat buah yang manis sekali. Berbeda apabila saya dengan ributnya mencari bilah bambu untuk mengambil buah yang jauh.
Kejadian seperti itu sangat sering terjadi sampai saya bisa menarik kesimpulan bahwa saya adalah seorang unlucky person in queue. Beberapa cerita dibawah ini adalah beberapa bukti yang mendukung pernyataan itu.
Suatu hari, beberapa tahun lalu, saya harus pergi ke Tiki untuk mengirimkan barang. Saya tiba pukul tiga sore sementara kantornya tutup pada pukul empat namun anehnya orang yang datang justru banyak sekali. Di kantor yang sempit itu ada tiga petugas yang melayani sehingga terdapat tiga baris antrian. Ketiga baris itu panjangnya kira-kira sama. Perasaan saya langsung tidak enak. Saya tidak pernah beruntung dalam memilih antrian. Dengan terpaksa saya memilih antrian yang di tengah, di belakang seorang pria yang tampaknya seorang seniman, dia membawa bungkusan pipih lebar yang katanya lukisan. Lima menit saya mengantri, pria itu ditanya seseorang dari arah ruangan dengan tulisan selain karyawan dilarang masuk di pintunya. Ternyata benda seni yang dia bawa membuatnya harus dilayani petugas lain dan tentu saja keluar dari baris antrian saya. Di depan pria itu (tadinya) dan kini di depan saya adalah sepasang anak muda. Awalnya saya biasa-biasa saja, tapi kemudian saya yang mengharapkan akan mendengar (walau kemampuan saya menguping pembicaraan orang nyaris nol) percakapan seru tentang keadaan politik atau ekonomi dari mereka berdua (mengingat saya sendiri punya kebiasaaan ngobrol seru dengan teman saya dan saya cenderung berpikir kalau semua orang melakukannya) merasa kecewa dan bosan setengah mati karena ternyata mereka bukannya bercakap-cakap melainkan flirting. Gedubrak!!!! Saya tidak bisa bilang kalau yang mereka lakukan itu salah, setiap orang menanggung sendiri perbuatannya, tidak juga saya ingin mengatakan kalau flirting di depan umum itu adalah tata karma yang buruk, ataupun ingin menulis diri saya sendiri dalam tulisan saya sebagai orang yang meributkan hal itu, tapi yang jelas perasaan saya waktu itu tidak bisa dibilang enak. Mungkin merupakan campuran antara muak dan bosan. Rasanya menunggu giliran saya seperti menunggu lewatnya waktu seminggu tanpa melakukan apa-apa. Namun cerita ini tidak mengandung ide pokok pada masalah itu. Sewaktu tiba giliran saya, setelah tanya jawab singkat tentang isi paket dan kilat tidaknya proses pengiriman yang saya inginkan, tiba-tiba saya merasa kok sepertinya hujan sedang turun. Lengan baju saya basah. Saya menoleh ke atas dan ternyata ada tulisan Mohon maaf AC rusak. Mohon untuk tidak berdiri di bawah AC persis di langit-langit yang berbentuk lengkungan kubah di atas kepala saya. Dueng! Karena tahu kalau itu ‘hanya air’ dan bukannya ‘air bercampur hal-hal lain yang tersembunyi di plafon’ maka saya tidak terlalu meributkannya. Flirting dan air ternyata masih punya teman dalam babak cerita yang ini yaitu saat hendak mengepak paket saya ternyata isi staplesnya habis dan petugasnya harus mengambil pesediaan di ruangan lain, lalu sewaktu saya mau menandatangani kuitansinya ternyata tinta ballpoint-nya habis juga. Begitu saya keluar dari kantor itu saya benar-benar memasang mata dan telinga siapa tahu misalnya tanpa alasan yang jelas masih ada teman-teman dari flirting, air, staples dan ballpoint yang mengikuti saya hingga sampai di rumah.
Kejadian terakhir adalah di toko buku. Saya biasa pergi ke toko buku setiap hari Rabu bersama seorang teman yang khusus datang mengunjungi saya pada hari itu. Ada tiga buku yang ingin saya beli waktu itu: The Secret Life of the Bees, The Last Concubine dan buku ketrampilan merajut berbahasa Jepang. Dua buku pertama saya yakin tidak bermasalah karena disusun dalam tumpukan ke atas dan saya memilih buku yang paling atas. Buku terakhirlah yang membuat perasaan saya tidak enak. Buku itu disusun menyamping sehingga saya bingung apakah yang disebut paling atas itu adalah yang paling kanan atau justru yang paling kiri. Saya mengambil yang kira-kira ada di tengah-tengahnya. Dan perasaan tidak enak itu terbukti benar adanya. Sore harinya, di rumah, saya menemukan bahwa ada dua halaman dalam buku itu yang kosong tidak ada tulisan maupun gambarnya. Saya menelepon toko buku itu dan mencaritahu apakah saya bisa menukarkan buku itu. Saya diberitahu kalau buku yang sama masih tersedia beberapa dan saya bisa menukarkannya. Sewaktu saya datang keesokan harinya saya merasa tidak enak hati dengan senyuman wanita pemilik toko buku itu. Sangat mungkin dia melakukannya karena pribadinya yang ramah atau karena menghadapi konsumen tapi saya mengartikannya sebagai sebuah senyuman maklum. Saya telah dua atau tiga kali menukarkan buku padanya karena alasan yang sama. Dan dia sepertinya memaklumi hal itu. Sekarang, setiap saya mau membeli buku disana wanita itu selalu berkata ‘Mau memeriksanya lebih dulu?’
Saya sendiri tidak begitu yakin bahwa hidup itu adalah masalah keberuntungan dan ketidakberuntungan. Itu barangkali semacam kejutan tertentu dari Tuhan dengan maksud yang barangkali mengejutkan juga. Hidup lebih merupakan perjalanan panjang yang harus dilalui bagaimanapun keadaannya, mengingat cuti hidup itu adalah suatu kemustahilan kalau tidak bisa dibilang sebuah pertanda keputusasaan, orang harus terus menapak walaupun dia menemui banyak kejadian yang tidak membuatnya senang. Dan siapa tahu keberuntungan dan ketidakberuntungan itu barangkali hanya masalah cara pandang saja.


