Heidelberg, 1 Februari 2010
Sahabatku Sayang,
Jam berdentang sebelas kali beberapa menit yang lalu..
Apa kau suka suara dentang jam? Aku benar-benar tidak menyukainya. Kalau sedang bersama orang lain atau melakukan aktivitas yang menyenangkan suara itu menjadi semacam perusak kesenangan, seperti seorang nanny yang memperingatkanmu kalau kau sudah terlalu lama bermain dan sudah tiba waktunya untuk pergi tidur. Kalau sedang mengerjakan sesuatu, bunyi dentang itu menegaskan akan adanya waktu yang tak bosan-bosan mengejar. Kalau sedang sendirian suaranya mengundang datangnya rasa sepi.
Suara dentang itu berasal dari lantai satu. Jam tua itu umurnya barangkali beberapa kali lipat umurku. Sepertinya hampir semua rumah bangsawan eropa bahkan yang berada di pedesaan memiliki jam yang seperti itu. Jam itu sepertinya terbuat dari pewter, tapi ada kemungkinan bahan perak juga. Aku tidak tahu banyak tentang logam-logam. Dulu seseorang meletakkan jam itu di pojok, di dekat lukisan (reproduksi) Sunflower-nya Van Gogh, kemudian seseorang yang lain memindahkannya ke koridor di parlor dan tetap ada disana sampai sekarang. Jam itu tidak terlalu besar tapi suaranya dapat terdengar di seluruh rumah, bahkan sampai ke kebun. Aku tidak suka jam itu. Seringkali aku terdorong untuk menyabotasenya, mungkin menaruh sepotong logam di roda-roda mesinnya, tapi aku tidak pernah tega merusak sebuah karya seni jadi kubiarkan saja dan mencoba bertoleransi dengan suaranya yang tidak kusukai. Aku tahu di dalam hidup terkadang orang harus menerima apa yang tidak disukainya.
Sahabatku sayang
Aku sedang mendengarkan Clair de Lune-nya Debussy. Claire de Lune dalam bahasa Perancis berarti cahaya bulan.
Dari tadi aku mencari-cari bulan di langit. Tidak tampak di sisi langit yang kulihat dari jendela kamarku, mungkin bulan sedang berada pada sisi lain. Yang terlihat malah bintang-bintang yang jumlahnya banyak sekali. Di musim dingin bintang-bintang terlihat lebih hidup, sinarnya lebih terang dari musim-musim yang lain. Seolah-olah langit malam yang kelam bergerak menjauhi bintang-bintang itu sehingga mereka tampak mendekati kita dengan sinarnya yang sangat cemerlang. Sewaktu kecil ada bintang yang kusukai. Namanya Lintang Panjer Sore. Dia sudah muncul walaupun hari belum terlalu malam. Ketika sudah agak besar aku tahu bahwa ternyata itu bukan bintang melainkan sebenarnya adalah planet Merkurius yang memang kadang-kadang tampak di langit. Aku ingat sebuah syair lagu yang lucu, aku sudah lupa lagunya, hanya ingat sepenggal syairnya. Bunyinya kira-kira begini “Jika kau meninggalkan aku maka aku akan menghabiskan malam dengan menghitung bintang-bintang” Lucu sekali bukan? Tapi sepertinya kelihatannya hal itu masuk akal. Konon, Hamengku Buwono II pernah tertarik pada seorang wanita, begitu tertariknya sampai-sampai dia melupakan permaisurinya. Permaisuri yang patah hati karena suaminya memiliki kekasih lain menghabiskan malam dengan memandangi langit, lalu karena dia suka membatik maka hal itu memberinya inspirasi untuk menggambar bintang-bintang, jadilah apa yang kita kenal sekarang dengan motif truntum itu. Dia membuat motif itu dengan begitu indahnya sampai menarik kembali perhatian sang raja. Mungkin karena itulah truntum dianggap melambangkan kesetiaan.
Bintang-bintang yang banyak sekali sepertinya memberi gambaran yang agak ganjil bagi salju yang menumpuk di tanah. Semacam komposisi yang menggetarkan. Sesuatu yang kadang-kadang membuatku berpikir bahwa aku sedang berada jauh dari kenyataan.
Sahabatku sayang,
Apakah yang disebut sebagai kehidupan yang sesungguhnya itu? Kehidupan yang singkat namun diisi dengan banyak hal ataukah hidup berdasarkan apa yang kita yakini sepenuh hati? Keduanya tampak sangat berbeda bukan?
Aku merasa tidak pernah berubah. Cermin barangkali dapat menangkap perubahanku secara fisik. Dulu sepertinya aku dapat melihat cahaya di kulitku ketika aku tersenyum pada cermin. Sekarang aku melihat cahaya itu hanya tinggal sesuatu yang tampak samar-samar saja. Garis-garis tubuhku tidak berubah sama sekali sejak sepuluh tahun yang lalu, aku masih bisa memakai baju-baju lama. Terkadang aku berpikir aku membekukan waktu di dalam badanku. Waktu bagiku, seolah angin semilir yang hanya melewatiku saja dan tidak memberikan pengaruh apa-apa kecuali sedikit sekali. Aku telah mengabaikan waktu sejak lama dan sepertinya itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya. Saat aku sangat yakin aku telah menjadi tua adalah saat aku membaca buku dan novel, tiba-tiba saja, entah bagaimana, tokoh-tokoh yang ada di dalamnya terasa terlalu muda bagiku. Tapi itu sesuatu yang bukan apa-apa, bukan sesuatu yang bisa merisaukan aku. Apakah itu karena aku merasa nyaman dengan hidupku ataukah karena sebenarnya hidupku itu hampa? Aku sendiri tidak mengerti.
Aku sedang menerjemahkan sebuah buku tentang tari modern. Memikirkannya bersama bintang-bintang membuatku teringat sebuah kata ‘kesia-siaan’. Sebuah riset (aku melakukannya akhir-akhir ini, dan buku ini juga merupakan sebuah hasil riset) terasa seperti jatuh cinta pada seseorang yang tidak kukenal. Seseorang yang tidak pernah kutemui namun berada sangat nyata dalam imajinasiku. Sesuatu semacam khayalan yang kubiarkan bergerak semaunya sendiri. Jika aku merenungkan tentang hal itu, kata ‘kesia-siaan’ itu berayun-ayun seperti gema lonceng jam di kepalaku, dan kemudian aku merasa akan terbenam dalam sebentuk perasaan sentimentil yang melahirkan rasa iba. Ini adalah hal yang entah bagaimana terasa sangat ganjil sekaligus sangat biasa untuk dipikirkan pada malam-malam di musim dingin. Barangkali orang yang memikirkannya memang sudah benar-benar tercerabut dari kenyataan atau jika tidak, dia memang menyukai hal-hal yang demikian.
Penuh cinta
YKP



