Saya orang yang sama sekali tidak memiliki jiwa kompetitif.
Bahkan terhadap perkataan Tuhan “berlomba-lombalah di dalam kebaikan” saya malah menanggapinya dengan cara yang santai-santai saja. Saya selalu percaya setiap orang punya hubungan yang sangat personal dengan Tuhan. Kasih sayang Tuhan pun saya rasa mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Banyaknya bentuk itu mungkin sama dengan banyaknya makhluk yang Dia ciptakan. Tapi tentu saja saya agak terganggu jika sedang bermasalah dengan orang lain. Bukan perbuatan buruk orang pada saya yang saya khawatirkan tapi pikiran bahwa cinta Tuhan kepada orang itu lebih besar dari cintaNya kepada saya sehingga Dia membiarkan hal buruk itu terjadi itulah yang membuat saya cemas.
Sewaktu kecil kakek saya biasa menyuruh saya dan saudara-saudara saya untuk berdiri berjajar dan berlomba. Apa saja bisa jadi ide lomba baginya. Tak jauh dari rumah saya ada sebuah sungai kecil. Pada sore hari yang cerah dan ketika suasana hatinya sedang baik, kakek saya memasang papan-papan kayu di salah satu bagian sungai sehingga airnya terbendung dan kami jadi memiliki kolam renang alami. Dia menyuruh saya dan saudara-saudara saya untuk berlomba renang. Saya dan semua teman semasa kecil dapat berenang bahkan tanpa diajari. Hanya ada beberapa sungai di desa saya, satu atau dua saja yang disobo uwong (=didatangi orang) tapi kedung (=bagian sungai yang airnya dalam dan tenang) ada dimana-mana, kami secara naluriah menemukan berenang sebagai salah satu kesenangan yang dapat kami nikmati. Kadang-kadang kakek menyuruh kami berlomba lari yang rutenya sepanjang tepi sungai dan pematang sawah. Di hari yang berangin bagus saya dan saudara-saudara saya berlomba naik kuda. Hadiah yang diperlombakan itu mungkin akan dianggap sepele oleh orang dewasa tapi bagi anak kecil seperti kami hadiah itu sangat menarik sehingga kami mau bersusah payah. Kadang-kadang hanya berupa permen –di kalangan anak-anak kecil kakek saya terkenal sebagai orang yang selalu membawa permen mentos atau sugus di kantongnya dan biasa memberikannya kepada anak-anak yang bosone ngrithik (= bahasa jawa halusnya bagus) kalau ditanyai- atau buah jambu biji –kakek saya menanam pohon jambu biji yang buahnya besar luar biasa dan rasanya manis- atau layangan atau hadiah-hadiah buatan sendiri yang tidak lazim seperti misalnya pada suatu kali dia menyuruh kami berlomba menghafalkan bahasa jawa halusnya bagian-bagian tubuh dengan hadiah kotak dari bambu yang berisi jangkrik yang bunyinya bagus sekali. Saya tidak pernah mendapatkan hadiah-hadiah itu, bukan karena saya memang tidak bagus dalam semua bidang perlombaan itu tapi karena saya tidak suka mendapatkan sesuatu dengan cara mengalahkan orang lain. Melihat ekspresi lawan saya yang bersungguh-sungguh saya jadi merasa bagaimana begitu mengingat saya tidak punya itikad yang kuat mengikuti lomba itu selain membuat kakek saya senang. Bahkan sejak masih sangat kecil telah tertanam di kepala saya bahwa orang yang berhak mendapatkan sesuatu hanyalah mereka yang itikadnya baik dan bertekad kuat.
Waktu saya SD, guru saya sering mengikutkan saya dalam lomba cerdas cermat, mungkin karena tidak ada stock lain –teman-teman saya sudah diikutkan lomba olahraga yang biasanya sama sekali tidak menarik minat saya- dan kebetulan karena saya suka membaca. Setiap tahun tim saya selalu mendapatkan hadiah meski tidak selalu juara satu, tapi dibanding saat menerima hadiah yang biasanya berupa selusin buku, pensil dan penghapus, saya lebih merasa senang saat saya dan kawan-kawan setim ditraktir guru makan soto di warung kecil dekat kecamatan. Bukan sotonya yang menarik. Soto buatan ibu saya jauh lebih enak. Tapi karena sambil makan itu saya bisa mendengar guru saya mengobrol dengan temannya sesama guru dan membangga-banggakan kami dengan riangnya. Saat seperti itulah saya merasa telah berbuat baik kepada guru saya.
Waktu SMP saya suka sekali dengan guru IPA saya. Namanya Pak Teguh. Dia suka mengajak kami belajar di luar ruangan, kadang di sawah, kadang di sungai, mengamati tumbuhan dan binatang-binatang kecil, mencatat dan menggambarnya. Saya kira saat itulah awal mulanya saya suka sekali communing with nature. Pak Teguh itu masih muda, baru lulus sekolah, saya pernah mendengar seseorang bilang kalau dia bukan guru betulan, waktu itu saya tidak tahu apa artinya bukan guru betulan, mungkin sama dengan guru sukuhan atau semacamnya. Bagi saya dia guru yang hebat. Kakek saya membelikan saya buku IPA yang tebal sekali dan didalamnya saya bisa membaca hal-hal yang menarik. Saya suka membaca buku itu di dalam kelas. Berbeda dengan guru lain, Pak Teguh tidak memarahi saya meski dia melihat saya membaca buku itu saat pelajaran. Ibunya Pak Teguh itu berjualan tempe di pasar. Dia kenal dengan keluarga saya. Nenek saya suka membeli tempe di tempatnya karena tempenya enak. Saya sering disuruh membeli dan tiap kali datang ibunya Pak Teguh itu selalu memanggil saya dengan sebutan “Nak mas ayu.” Malunya bukan main. Sewaktu masih SD saya biasa berlari ke rumah guru sambil membawa jeruk atau pisang atau makanan kalau kebetulan keluarga saya sedang ada selamatan. Saya merasa senang sekali kalau melihat guru saya baik-baik saja. Saya juga ingin melakukan itu pada Pak Teguh, tapi rumahnya jauh, harus melewati persawahan, jalan raya dan hutan bambu dan saya dilarang untuk bermain jauh-jauh dari rumah, jadi saya tidak bisa melakukan kebiasaan itu. Tapi setiap pagi saat berjalan kaki ke sekolah, saya bisa melihat wuwungan rumah Pak Teguh dari kejauhan dan saya biasanya berdoa supaya dia baik-baik saja. Suatu hari, ada diselenggarakan olimpiade sains di kabupaten, rencananya ada diikutkan satu atau dua orang dari kelas satu,dua dan tiga. Waktu saya sedang mengambil kapur tulis di ruang guru, kelas satu SMP saya kebetulan menjadi ketua kelas dan biasa mengambil absen dan kapur tulis setiap pagi, saya mendengar Pak Teguh sedang bertengkar dengan guru matematika karena dia ingin menyertakan saya dalam lomba tetapi guru matematika itu ingin menyertakan anak yang lain. Entah bagaimana saya dan anak itu ikut seleksi juga. Saya lulus seleksi dan saat lomba terakhir saya jadi juara tiga. Pak Teguh kelihatan senang. Lagi-lagi saya berpikir mengikuti lomba bagi seorang murid sama dengan berbuat baik kepada gurunya.
Waktu SMA tidak terhitung berapa kali saya ikut lomba semata-mata untuk menyenangkan guru. Ketika saya lebih besar bukan lagi guru yang menjadi alasan melainkan teman: untuk menemani teman, untuk memeriahkan acara teman, untuk mewakili teman dll. Lucunya seringkali teman-teman saya sendiri pun tidak menyadari alasan saya itu dan berpikir saya sibuk mencari eksistensi diri.
Sekarang saya memandang lomba dari cara pandang yang berbeda. Akhir-akhir ini saya menggunakannya sebagai penanda moment tertentu dalam hidup saya, semacam sebuah acara sosial di tengah-tengah rutinitas harian saya yang notabene sangat soliter. Walaupun prinsip hanya orang yang punya itikad baik dan tekad kuat yang berhak mendapatkan sesuatu itu masih saya yakini, terkadang ada juga hal-hal ironis yang terjadi. Seperti misalnya beberapa bulan lalu ada lomba desain di sebuah institut seni. Saya mengirimkan salah satu lukisan arang yang saya buat muism dingin tahun lalu. Saya tidak menang dalam lomba itu tapi salah satu panitia mengirimkan surat kepada saya yang mengatakan dia tertarik membeli lukisan saya dan menyertakan cek senilai 32 euro. Saya tertawa sampai perut saya sakit. Saya menunjukkan cek itu kepada teman-teman dan reaksi mereka yang macam-macam itu membuat saya terhibur. Mungkin seharusnya saya mengirimkan kembali cek itu dan meminta lukisan saya dikembalikan but pride just then had no place in me when I need my own amusement.
Lomba adalah kegiatan sosial, terlepas dari kita berjiwa kompetitif atau tidak, akan menyenangkan untuk mengikutinya sekali waktu.