Feeds:
Tulisan
Komentar

UNLUCKY PERSON IN QUEUE

Saya adalah orang yang sepertinya tidak ‘diijinkan’ untuk memilih. Setiap kali saya memilih ‘dengan sengaja’ saya pasti mendapat hasil pilihan yang tidak beres. Sebaliknya, jika saya ‘menerima dengan rela’ suatu pilihan di depan mata saya maka biasanya pilihan itu baik-baik saja.

Yang dimaksud dengan kata ‘dengan sengaja’ itu misalnya seperti ini: jika ada dua mesin ATM dari bank yang sama dan saya ‘dengan sengaja’ memilih yang kanan dibanding yang kiri maka biasanya saya akan menemui ketidakberesan, misalnya uang di mesin itu ternyata habis atau mesinnya sedang out of order, bisa diperkirakan sebelumnya akan menjadi seperti itu tidak peduli apakah saya sudah berdiri mengantri selama satu jam atau cuma lima menit.

Sementara yang dimaksud dengan ‘menerima dengan rela’ itu misalnya begini: ada pohon jambu yang sedang berbuah lebat, kalau saya mengambil buah yang paling dekat dengan saya, biasanya saya mendapat buah yang manis sekali. Berbeda apabila saya dengan ributnya mencari bilah bambu untuk mengambil buah yang jauh.

Kejadian seperti itu sangat sering terjadi sampai saya bisa menarik kesimpulan bahwa saya adalah seorang unlucky person in queue. Beberapa cerita dibawah ini adalah beberapa bukti yang mendukung pernyataan itu.

Suatu hari, beberapa tahun lalu, saya harus pergi ke Tiki untuk mengirimkan barang. Saya tiba pukul tiga sore sementara kantornya tutup pada pukul empat namun anehnya orang yang datang justru banyak sekali. Di kantor yang sempit itu ada tiga petugas yang melayani sehingga terdapat tiga baris antrian. Ketiga baris itu panjangnya kira-kira sama. Perasaan saya langsung tidak enak. Saya tidak pernah beruntung dalam memilih antrian. Dengan terpaksa saya memilih antrian yang di tengah, di belakang seorang pria yang tampaknya seorang seniman, dia membawa bungkusan pipih lebar yang katanya lukisan. Lima menit saya mengantri, pria itu ditanya seseorang dari arah ruangan dengan tulisan selain karyawan dilarang masuk di pintunya. Ternyata benda seni yang dia bawa membuatnya harus dilayani petugas lain dan tentu saja keluar dari baris antrian saya. Di depan pria itu (tadinya) dan kini di depan saya adalah sepasang anak muda. Awalnya saya biasa-biasa saja, tapi kemudian saya yang mengharapkan akan mendengar (walau kemampuan saya menguping pembicaraan orang nyaris nol) percakapan seru tentang keadaan politik atau ekonomi dari mereka berdua (mengingat saya sendiri punya kebiasaaan ngobrol seru dengan teman saya dan saya cenderung berpikir kalau semua orang melakukannya) merasa kecewa dan bosan setengah mati karena ternyata mereka bukannya bercakap-cakap melainkan flirting. Gedubrak!!!! Saya tidak bisa bilang kalau yang mereka lakukan itu salah, setiap orang menanggung sendiri perbuatannya, tidak juga saya ingin mengatakan kalau flirting di depan umum itu adalah tata karma yang buruk, ataupun ingin menulis diri saya sendiri dalam tulisan saya sebagai orang yang meributkan hal itu, tapi yang jelas perasaan saya waktu itu tidak bisa dibilang enak. Mungkin merupakan campuran antara muak dan bosan. Rasanya menunggu giliran saya seperti menunggu lewatnya waktu seminggu tanpa melakukan apa-apa. Namun cerita ini tidak mengandung ide pokok pada masalah itu. Sewaktu tiba giliran saya, setelah tanya jawab singkat tentang isi paket dan kilat tidaknya proses pengiriman yang saya inginkan, tiba-tiba saya merasa kok sepertinya hujan sedang turun. Lengan baju saya basah. Saya menoleh ke atas dan ternyata ada tulisan Mohon maaf AC rusak. Mohon untuk tidak berdiri di bawah AC persis di langit-langit yang berbentuk lengkungan kubah di atas kepala saya. Dueng! Karena tahu kalau itu ‘hanya air’ dan bukannya ‘air bercampur hal-hal lain yang tersembunyi di plafon’ maka saya tidak terlalu meributkannya. Flirting dan air ternyata masih punya teman dalam babak cerita yang ini yaitu saat hendak mengepak paket saya ternyata isi staplesnya habis dan petugasnya harus mengambil pesediaan di ruangan lain, lalu sewaktu saya mau menandatangani kuitansinya ternyata tinta ballpoint-nya habis juga. Begitu saya keluar dari kantor itu saya benar-benar memasang mata dan telinga siapa tahu misalnya tanpa alasan yang jelas masih ada teman-teman dari flirting, air, staples dan ballpoint yang mengikuti saya hingga sampai di rumah.

Kejadian terakhir adalah di toko buku. Saya biasa pergi ke toko buku setiap hari Rabu bersama seorang teman yang khusus datang mengunjungi saya pada hari itu. Ada tiga buku yang ingin saya beli waktu itu: The Secret Life of the Bees, The Last Concubine dan buku ketrampilan merajut berbahasa Jepang. Dua buku pertama saya yakin tidak bermasalah karena disusun dalam tumpukan ke atas dan saya memilih buku yang paling atas. Buku terakhirlah yang membuat perasaan saya tidak enak. Buku itu disusun menyamping sehingga saya bingung apakah yang disebut paling atas itu adalah yang paling kanan atau justru yang paling kiri. Saya mengambil yang kira-kira ada di tengah-tengahnya. Dan perasaan tidak enak itu terbukti benar adanya. Sore harinya, di rumah, saya menemukan bahwa ada dua halaman dalam buku itu yang kosong tidak ada tulisan maupun gambarnya. Saya menelepon toko buku itu dan mencaritahu apakah saya bisa menukarkan buku itu. Saya diberitahu kalau buku yang sama masih tersedia beberapa dan saya bisa menukarkannya. Sewaktu saya datang keesokan harinya saya merasa tidak enak hati dengan senyuman wanita pemilik toko buku itu. Sangat mungkin dia melakukannya karena pribadinya yang ramah atau karena menghadapi konsumen tapi saya mengartikannya sebagai sebuah senyuman maklum. Saya telah dua atau tiga kali menukarkan buku padanya karena alasan yang sama. Dan dia sepertinya memaklumi hal itu. Sekarang, setiap saya mau membeli buku disana wanita itu selalu berkata ‘Mau memeriksanya lebih dulu?’

Saya sendiri tidak begitu yakin bahwa hidup itu adalah masalah keberuntungan dan ketidakberuntungan. Itu barangkali semacam kejutan tertentu dari Tuhan dengan maksud yang barangkali mengejutkan juga. Hidup lebih merupakan perjalanan panjang yang harus dilalui bagaimanapun keadaannya, mengingat cuti hidup itu adalah suatu kemustahilan kalau tidak bisa dibilang sebuah pertanda keputusasaan, orang harus terus menapak walaupun dia menemui banyak kejadian yang tidak membuatnya senang. Dan siapa tahu keberuntungan dan ketidakberuntungan itu barangkali hanya masalah cara pandang saja.

KOTA DAN SEJARAH

Selama beberapa bulan terakhir, saya berjalan, hampir setiap hari, di atas jalan batu tua yang ditata rapi membentuk pola-pola geometris, yang katanya dibangun sejak abad ke-9.

Di kota ini masa silam datang kepada kita dan seolah-olah kitalah yang menjadi tamu. Tiap pagi saat pengantar koran dan tukang susu pergi dari rumah ke rumah dan para pengendara sepeda roda dua mulai menyusuri jalan-jalan, kota ini terlihat sebagaimana normalnya kota-kota di dunia pada abad ke-21, tetapi semua kelaziman itu kemudian akan segera diletakkan terpaut dengan kehadiran sejarah.

Tak ada yang tampak aus dari kota ini, bangunan-bangunan tua dari bata merah mungkin masih sama sebagaimana sewaktu orang-orang dari berabad-abad lampau itu membangunnya. Ada menara jam yang tinggi berdiri di tengah-tengah trotoar tepi sungai. Tiap jam akan terdengar bunyi lonceng yang menirukan nada eine kleine nachtmuziek.

Di kota ini masa silam hadir secara rutin dan bangga. Ada pawai-pawai dan festival-festival untuk merayakan hari-hari tertentu yang bermula dari suatu kejadian di masa silam. Dengan demikian mereka menyusun sebuah katalog kenangan yang rapi. Di hari seperti itu, berbagai masa silam yang ruwet dan panjang pun diringkas lurus. Dan dengan itu kenangan itu pun menjadi tapal batas identitas.

Di kota ini masa silam terlihat tidak lekang oleh cuaca. Tapi tentu saja bukan masa silam saya. Tiap aku berjalan melewati trotoar tepi sungai, sebagian kadang digunakan sebagai pasar, aku sadar: ada orang-orang yang mustahil jadi “orang Eropa”. Seandainya pun saya akhirnya menjadi seorang warga kota ini, yang diterima dengan sikap paling tulus sekalipun, saya tidak akan pernah menjadi bagian yang sah dari kenangan yang disimpannya. Saya tetap akan menjadi seorang “orang luar”. Di situlah menjadi sadar bagaimana sejarah membuat faksi-faksi: sejarah telah jadi sebuah ruang yang eksklusif, menunjukkan ras dan menegaskan biologi.

Tapi terlepas dari itu semua, kota ini adalah sebuah kota yang cantik seperti benda museum.

GM

krupuk

Sesuatu disebut lucu bila mampu membuat orang tertawa, tersenyum atau setidaknya ingin melakukan salah satu dari keduanya. Sebuah definisi singkat dan sederhana. Namun bagaimana sesuatu bisa menjadi lucu tidaklah sesederhana itu menjelaskannya. Dan bagaimana selera humor seseorang bisa begitu membingungkan memerlukan penjelasan yang lebih tidak sederhana lagi.

Salah satu orang yang saya kenal memiliki selera humor yang baik adalah eyang saya. Bukan karena beliau senang tertawa. Beliau orang yang lebih suka melakukan sesuatu yang bersifat non verbal daripada yang bersifat verbal. Itu membuat apa yang beliau tertawakan bisa dipastikan adalah sesuatu yang lucu secara substansial. Bila seseorang bercerita padanya mengenai jumlah uang yang banyak, beliau biasanya berkata, ”Kuwi upama ditukokne krupuk gek oleh piro?” Bahwa uang beliau pandang hanya sebagai sarana untuk membeli benda yang begitu sederhana seperti krupuk, itulah yang sangat lucu menurut saya.

Apa yang good dan apa yang ill dari sebuah lelucon sampai sekarang saya tidak begitu bisa memahaminya dengan baik. Barangkali yang good itu bersifat universal dan yang ill bersifat partikular. Entahlah.

Di antara teman-teman, saya sering dibilang memiliki ill humour.

Misalnya pada suatu hari seorang teman saya bertanya pada saya, ”Why I heard nothing about you for this fortnight? Where have you been?”

Saya tidur sebentar saja di malam hari, saya menderita insomnia, dan kalau pada waktu dini hari saya meng-invisible-kan yahoo messenger saya dan melihat ada teman yang invisible juga biasanya saya akan mengajaknya chatting.

Teman saya yang bertanya itu adalah teman kuliah saya, seorang partner in crime yang sesungguhnya, belahan jiwa saya yang nomor enam belas (saya memiliki setidaknya tiga puluh dua orang belahan jiwa dan sama sekali tidak keberatan apabila jumlah itu bertambah) Dia sering menemani saya chatting, mengobrol kesana kemari tentang berbagai hal, secara tidak sadar menciutkan dunia hingga menjadi seakan-akan hanya urusan kami berdua saja.

Saya merasa tidak enak dengan pertanyaan why itu apalagi ketika why itu kemudian bersambung dengan where. Apakah eksistensi saya telah begitu identiknya dengan sebuah bulatan kuning kecil di list yahoo messeger? Tapi karena itu jenis pertanyaan yang biasa saja saya pun menganggapnya sebagai humor dan hendak menanggapinya dengan humor juga.

Jawaban saya atas pertanyaan itu adalah seperti ini (sepertinya) “Kalau terlalu sering menghubungimu nanti aku dikira lintah yang terus menempel padamu.” Saya tahu saya tidak pernah membuka percakapan dengannya dengan pertanyaan-pertanyaan standar seperti ‘apa kabarmu hari ini?’ atau ‘apakah kau sedang sibuk?’ dan langsung memulainya dengan apa yang sedang ada di dalam kepala saya. Dia tidak pernah protes, dia terlalu sopan untuk melakukannya, meskipun bukan berarti dia tidak punya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Waktunya untuk bercakap-cakap dengan saya barangkali terselip di antara jadwalnya untuk ‘berbuat baik pada orang lain’. Terhadap jawaban saya itu saya mengira dia akan tertawa terbahak-bahak. Bersamanya saya dapat tertawa membaca novelnya Kundera, bahkan ketika saya berbuat seperti yang diperbuat Jean Claude pada sahabatnya F teman saya itu tidak menganggapnya aneh. Seringkali saya berpikir selera humor kami sama. Tapi ternyata dia ‘mendiamkan’ saya selama beberapa lama akibat kata-kata humor saya itu. Jika dia punya kesempatan untuk bicara dengan saya tapi dia tidak melakukannya maka kemungkinannya cuma dua, dia sedang sakit atau dia sedang marah. Selama berhari-hari saya mencari-cari dimana letak tidak lucunya dari kata-kata saya itu. Saya kesulitan mencarinya karena itu sebuah kalimat lucu bagi saya. Teman saya itu baru mau ’berdamai’ setelah saya ’mendiamkan’ dia mengatakan bahwa saya memiliki ill humour.

Entah saya memiliki bagian yang ill atau yang good saya tidak begitu merisaukannya. Saya akan tertawa menanggapi sebuah lelucon asal saya punya alasan untuk menganggapnya lucu.

HUBUNGAN SEPIHAK

opening a love letter by simonneti

Kira-kira sebulan yang lalu saya melihat surat-surat pribadi saya dipublikasikan di sebuah blog milik seorang teman saya. Pertama melihatnya saya tidak merasakan apa-apa. Mungkin karena terkejut saya bereaksi mirip denial. Ketika melihat untuk kedua kalinya saya dapat menjelaskan apa yang saya rasakan sebelumnya dengan lebih baik: saya merasa sedih.

Saya senang sekali menulis surat. Berkorespondensi adalah sebuah budaya yang baik menurut saya. Menulis surat seperti menelusuri sebuah jalan yang ada di dalam peta yang tidak dikenal sebelumnya, menjadikan sebuah masalah kelihatan lebih jelas dan masuk akal.

Saya menulis surat untuk banyak keperluan. Tetapi seringkali saya menulis surat hanya karena terdorong oleh perasaan sentimental belaka atau akibat sebuah gagasan romantis yang sedang melintas di benak saya.

Namun, sekalipun saya suka sekali menulis surat tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar punya kewajiban untuk menulis surat kepada siapapun kecuali hanya sedikit sekali. Saya tentu saja punya ‘kewajiban’ untuk menulis surat terima kasih apabila seseorang mengirimi saya hadiah. Ketika tetangga mengirim undangan saya berkewajiban untuk menulis surat pemberitahuan apakah saya akan datang atau tidak. Setiap minggu saya harus menyerahkan esai tugas kuliah pada dosen. Dia punya kebiasaan menyertakan selembar surat evaluasi yang selalu dimulai dengan Dear Yuni….meskipun kritikannya dapat membuat orang mempertanyakan arti kata dear. Entah bagaimana saya berpikir saya seharusnya meninggalkan selembar surat juga untuknya. Selain ‘kewajiban’ semacam itu tidak ada hal yang mengharuskan saya untuk menulis surat. Tidak pernah ada orang yang meminta saya untuk menulis surat untuknya. Dalam arti harfiah, maksud saya adalah surat yang bukan berisi ucapan terima kasih, tidak mengandung pemberitahuan tidak juga memberi penjelasan akan sesuatu. Sayangnya saya amat menyukai menulis jenis surat yang demikian.

Saya ingat dengan jelas bahwa saya tidak mendapatkan satu pun balasan dari surat-surat maupun kartu pos-kartu pos yang saya kirimkan kepada teman saya yang kemudian dia publikasikan itu. Saya tidak merasa sedih karena hal itu. Apa yang membuat saya sedih adalah sebuah pemahaman yang saya peroleh setelah kejadian itu, bahwa saya selalu menjalin hubungan yang bersifat sepihak.

Hubungan semacam itu dapat digambarkan seperti seorang yang menyusuri jalan, atau sungai untuk lebih dramatisnya, untuk sampai pada sebuah tempat yang dipilihnya. Dia dan jalan atau sungai itu tidak mempunyai hubungan yang bersifat mengharuskan dan stabil. Tidak juga sesuatu yang bersifat dua arah. Dia dapat berubah karena melalui jalan atau sungai itu, misalnya menjadi lebih bisa memaknai keindahan atau lebih menghargai kerja keras, tapi jalan atau sungai itu tidak, atau hanya sedikit sekali, berubah karenanya. Jalan atau sungai itu akan terus membentang dan mengalir tak peduli dia melaluinya atau tidak. Keberadaan seseorang itu disana bisa jadi hanyalah sebuah riak kecil yang melintas, sesuatu yang mengganggu dan membisingkan. Sama seperti saya yang terus mengirim surat walau saya tidak mendapatkan balasannya. Karena satu surat yang saya tulis sama seperti surat sebelumnya adalah seperti sebuah sapaan semacam ‘masihkah kau ingat padaku?’ Surat-surat berikutnya pun, secara esensial, tetap mengandung muatan yang sama sehingga bisa dibilang keberadaannya adalah refleksi keinginan saya untuk menghidupkan dan memoles kembali masa lalu, dimana saya dan teman saya pernah bersama, dan mengabaikan bahwa waktu sebenarnya sudah mengubah semuanya.

Satu-satunya yang bagus dari hal ironis menyedihkan itu adalah dalam hubungan yang demikian jika saya memutuskan untuk menyerah dan berhenti maka tidak ada seorangpun yang akan terluka ataupun merasa kehilangan. Kecuali barangkali saya sendiri.

PATAH HATI

Secara rasional saya tahu hati saya yang cuma satu-satunya itu tetap di tempatnya, tidak pernah mengalami perubahan bentuk, sejak dulu hingga sekarang masih tersusun dari sel-sel heksagonal paling indah yang pernah saya lihat. Tapi entah kenapa setiap kali saya berkata ‘aku patah hati’ saya tidak merasa sedang berada di luar jalur rasionalitas bahasa. Pada saat saya berkata begitu saya memang merasakan hati saya mengalami perubahan bentuk, barangkali menjadi keping-keping kecil seperti es batu yang diserut dalam es setrup yang saya minum ketika kecil.

Saya cukup sering mengalami patah hati, walaupun saya, secara hiperbolis, bisa dibilang hidup mengubur diri bersama buku-buku, komputer dan bahan-bahan penelitian (kalau sedang ingin) tapi saya juga mempunyai keluarga, sahabat-sahabat, teman-teman dan kenalan-kenalan. Bukannya saya ingin menegaskan bahwa merekalah sumber patah hati saya walaupun sebagian memang benar demikian.

Di semesta ini, saya meyakininya seratus persen, tidak akan terjadi sesuatu yang tidak Tuhan kehendaki. Apa yang Dia kehendaki untuk terjadi pasti akan terjadi dan apa yang tidak Tuhan kehendaki untuk terjadi pasti tidak akan terjadi. Karena itulah saya biasanya patah hati oleh sebuah pilihan. Barangkali ini sebuah kebodohan, tetapi saya selalu mengaitkan antara pilihan-pilihan yang dibuat seseorang dengan idealisme yang dimilikinya.

Saya, entah karena saya menyayanginya atau bagaimana, selalu memandang sahabat-sahabat saya dengan pandangan positif. Dalam pandangan saya, mereka itu selalu berusaha untuk, seperti kata Pram, ‘bersikap adil sejak di dalam pikiran’. Mereka memiliki etika moral yang mereka patuhi dengan taat. Mereka adalah oran-orang yang akan menjadi tokoh protagonist di dalam novel. Saya senang mengacu pada kebaikan mereka karena sesuatu yang baik ‘mengobati’ saya, memberi saya inspirasi dan dorongan untuk tetap yakin bahwa melakukan hal yang baik pada saat sekarang ini bukanlah sebuah lelucon yang bernasib ironis meskipun biasanya memang demikian.

Ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangan itu saya merasa patah hati. Sewaktu seorang yang saya kenal, a lady born and bred, memutuskan untuk secara sadar masuk dalam hubungan yang tidak bermartabat dengan seorang pria, sebuah pikiran pesismis mengelilingi saya bahwa barangkali pada tahap tertentu cinta itu terlalu mulia untuk sesuatu yang fana. Ketika seorang yang saya kenal, seorang yang pada awalnya saya merasa his vibrations linked with mine ternyata menyebut proyek orang lain sebagai hasil pekerjaannya, dan ironisnya, mendapat penghargaan dari proyek itu. Biasanya setelah mengalami hal itu maka selama berhari-hari saya nyaris seperti mendengar bunyi krak-krak-krak, sesuatu yang retak, di dalam dada saya. Kemudian jika pada saat seperti itu seseorang menyebutkan sebuah kemalangan kepada saya maka saya, secara mengherankan dan di luar dugaan, akan berkomentar sinis ‘orang baik memang bernasib buruk sekarang-sekarang ini’.

Orang bilang ‘apa yang tidak membunuh kita menjadikan kita lebih kuat’. Saya tidak tahu apakah benar demikian. Mungkin saja setelah mengalami patah hati itu hati saya menjadi lebih kuat, mengingat saya tidak patah hati dua kali untuk hal yang sama, tetapi mungkin juga hati saya hanya menjadi lebih kebas dari sebelumnya.

Dari semuanya, saya belajar satu hal lagi tentang kejelekan dan kenaifan saya, yaitu terkadang saya membiarkan hati saya seperti oloturia. Ketika diserang oloturia mengeluarkan seluruh organ tubuhnya untuk membela diri. Oloturia yang sehat akan mampu membentuk pengganti yang sempurna bagi isi tubuhnya yang hilang itu. Sedangkan saya tampaknya tidaklah demikian.

Cinta barangkali adalah sebuah kelelahan yang tak terkatakan

Kalimat itu adalah sms yang dikirim seorang mahasiswa di kelas creative writing saya. Ada semacam idiom di kelas kami. Idiom yang kira-kira berisi gabungan antara kata-kata ‘cinta’, ‘kusam’, ‘sunyi’ dan ‘lelah’ dengan berbagai variasinya.

Saya sendiri, saya bisa mengatakannya dengan nada penuh syukur, sangat sering menyaksikan cinta yang melelahkan itu.

Saya mengenal seseorang yang menempuh perjalanan jauh, setiap minggu, tanpa menghiraukan keadaan cuaca, hanya untuk mengunjungi temannya. Sama sekali bukan untuk urusan apa-apa kecuali semacam saling menghangatkan hati masing-masing.

Saya juga mengenal seseorang yang sepertinya selalu mengorbankan waktu tidurnya agar dapat menenangkan istrinya, yang sedang sakit dan punya kebiasaan menangis dalam tidurnya, kalau-kalau istrinya itu terbangun di tengah malam.

Saya mengenal seseorang yang senantiasa mengatakan hal-hal yang baik dan menyenangkan pada setiap obrolan mayanya dengan seorang temannya. Selalu sopan dan manis walau temannya itu hanyalah seorang yang egois yang mengatakan apapun yang ingin dia katakan dan sama sekali tidak peduli pada apapun yang tidak ingin dia pedulikan, bukan karena hal lain tetapi karena standar moralnya yang tinggi tidak mengijinkannya berbuat hal lain selain kebaikan.

Rasanya saya tidak memiliki cukup pemahaman tentang hal-hal yang demikian. Itu seperti mendengarkan sebuah lagu yang sangat indah tanpa mampu menjelaskan dimana persisnya letak keindahan itu. Barangkali dari sinilah munculnya kalimat lucu ”belahlah dadaku”, bahwa sesuatu yang dirasakan di dalam hati tidak akan mudah dipahami orang lain kecuali orang lain itu membelah dadanya dan masuk ke dalam hatinya.

Dalam hidup saya mencintai seseorang, barangkali sudah hampir separo umur saya cinta itu ada tapi saya baru menyadarinya, benar-benar menyadari dan memahaminya, setelah saya tua.

Dia bagi saya seperti sebuah magnet. Magnet dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan saya adalah logam-logam rongsokan yang rombeng. Bukan hanya karena masalah fisika saja kalau kemudian logam-logam itu mendekat pada magnet.

Saya, logam-logam rongsokan yang bunyinya pating glodak pating krompyang ini pun menyeret-nyeret diri mengikuti kemana pun dia bergerak. Jika dia bergeser ke barat saya pun menggeserkan diri saya ke barat. Jika dia berhenti maka saya pun tidak mungkin bisa memaksa-maksa untuk terus bergerak.

Dalam setiap pergerakan, berdasarkan gaya gesek, tentu saja ada luka-luka dan goresan-goresan tapi logam-logam rongsokan yang pating glodak pating krompyang itu terus saja menyeret-nyeret diri mendekati magnet itu.

Jika saya punya waktu sedikit, saya bisa melihat bahwa saya merasa lelah, luka-luka dan goresan-goresan itu menjadi bukti tak terbantahkan tapi apakah saya mampu membujuk diri saya untuk berhenti. Ternyata sama sekali tidak.

Ini barangkali adalah romantisme khas wanita. Jika seorang wanita hidup selama tiga puluh hari bersama kekasih yang dicintainya dan mengalami dua puluh sembilan hari dua puluh tiga jam dalam kesengsaraan dan penderitaan dan hanya satu jam saja merasakan kebahagiaan maka wanita itu akan menganggap kesengsaraan dan penderitaan itu sebagai bagian dari kebahagiaan.

Orang barangkali akan melihat wanita semacam itu patut dikasihani, bahwa dia tidak mendapatkan yang sepadan nilainya dengan semua kelelahan yang dialaminya. Tapi wanita itu, dalam hal ini saya, melihat dengan cara sebaliknya, bahwa semua definisi yang lazim memudar jika berurusan dengan cinta, bahwa memang demikianlah lazimnya seorang yang mencintai.

Tanpa ragu saya pun membalas sms itu dengan

Namun kelelahanlah yang membuat cinta demikian menikmatkan

 

HOMELAND

Secara harfiah kampung halaman diartikan sebagai  tempat dimana seseorang dilahirkan, tempat pertama yang diatinggali dalam hidupnya.

Kampung halaman sering dihubungkan dengan kata rumah, keluarga dan bahkan akar.

Awal tahun ini saya, setelah sekian lama baru sempat,  membaca buku yang sedikit banyak memaknai kata akar itu dalam kaitannya dengan kata kampung halaman. Buku itu berjudul Ascolta La Mia Voce. Buku itu merupakan buku kedua sementara buku pertama berjudul Va’ Dove Ti Porta Il Cuore telah saya baca beberapa tahun yang lalu. Buku itu sangat bagus, membuat saya merenung  juga mencucurkan air mata.

Akar jikalau tidak dipandang sebagai tempat bertumbuh maka ia adalah apa yang menghubungkannya dengan masa lalu. Kata rumah , saya sendiri sedikit memelencengkan artinya menjadi tempat dimana hatimu berada dan keluarga adalah mereka yang menempati ruang-ruang di dalam hatimu.

Kampung halaman dalam dunia gagasan memiliki gambaran ideal ketiga pengertian tadi. Namun bagaimana apabila orang tidak menemukan rumah, keluarga dan akar-nya disana?

Pertanyaan itu berada dalam pikiran saya belakangan ini. Sebagian karena saya sudah lama tidak kembali ke tempat dulu saya tinggal (setelah seseorang berkata kepada saya “Hatimu adalah rumahku” saya tidak lagi bisa bermain-main dengan kata pulang) Sebagian yang lain karena sahabat saya bersikeras ingin melihat dan mengunjungi kampung halaman tempat saya dilahirkan, keinginan yang mungkin mirip dengan Alice yang ingin tahu isi Wonderland. Seperti umumnya orang-orang yang memulai persahabatan setelah dewasa kami sekali waktu saling bercerita tentang masa kecil. Mungkin dari situ berawal ide untuk melihat tempat seperti apa yang telah membesarkanmu.

Saya tidak suka dengan keinginannya itu dan saya sudah menyatakannya dalam bahasa Indonesia. Saya heran bagaimana sahabat saya men-tidak-kan kata-kata saya. Kebetulan saat ini saya sedang sakit. Dokter dan keluarga biasanya bersabar hati untuk tidak menentang kata-kata, keinginan maupun pendapat saya apabila saya sedang sakit sebab mereka mengira pertentangan membuat saya gelisah tidak bisa tidur di malam hari dan itu mempengaruhi catatan medis saya saat dokter memeriksa saya keesokan harinya. Walaupun bagi saya tidak ada beda yang signifikan, saya memang memikirkan banyak hal, dan lagipula saya jarang merasa sakit walaupun sedang dirawat di rumah sakit, tapi catatan medis dan hasil laboratorium selalu dianggap lebih nyata dan ilmiah dibanding perasaan saya. Dan karena dokter dan keluarga saya tidak menyukai keadaan saya yang tidak membaik maka mereka pikir tidak ada pertentangan itu perlu dimasukkan dalam menu makanan saya.

Namun alasan saya tidak suka pada keinginan sahabat saya itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kondisi kesehatan saya. Hal itu lebih pada kekhawatiran akan tumbuhnya pesepsi yang salah. Saya sering menulis cerpen dengan latar belakang kampung halaman  saya sewaktu saya masih kecil. Saya selalu merasakan perasaan yang susah dijelaskan tentang tempat itu. Cerita yang paling mendekati gambaran perasaan saya adalah cerpen saya yang berjudul Pulang.

Terakhir kali saya kembali, tempat itu rasanya seperti tempat yang berbeda. Jalan di pematang sawah tempat dulu saya berjalan kaki pergi-pulang ke sekolah sejauh 2-3 kilometer telah sepenuhnya tertutup rerumputan, jembatan bambunya telah roboh, karena tidak ada lagi orang yang sudi melewatinya. Warung-warung kecil berdinding anyaman bambu di bagian-bagian tertentu dari desa tempat saya biasa diajak minum dawet atau cemoe telah berganti bangunan berdinding tembok semen tempat orang menjual pulsa telepon genggam. Rumah-rumah joglo yang nyaman dan sebenarnya paling sesuatu untuk daerah tropis telah berubah menjadi rumah-rumah dengan arsitektur model Eropa, rumah-rumah yang dibangun dari hasil merendahkan diri di luar negeri yang tidak menambah apa-apa kecuali sekolah-sekolah menengah yang menjadi sepi karena orang tua anak-anak itu lebih suka mereka menjadi TKW daripada memperoleh pendidikan yang layak. Pinus-pinus telah ditebang. Capung-capung tinggal beberapa spesies saja, seharian saya mencari capung merah dan tidak menemukan seekor pun. Dan orang-orang mulai berbicara dengan bahasa sinetron, menjadi sangat mudah membenci dan menyakiti orang lain dan sangat susah merasa bahagia.

Hal yang membuat saya berpikir apakah keindahan yang dahulu itu, romantisme kanak-kanak saya itu, benar-benar pernah eksis atau tidak, juga apakah akar saya menghunjam di tempat itu. Pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya selalu berakhir pada kata-kata “Orang dewasa dapat membenci sesuatu sebanyak dia mencintainya.”

Saya tidak mampu memikirkan keindahan macam apa yang akan dinikmati seorang asing di tempat seperti itu. Satu-satunya yang mampu saya pikirkan adalah ini:

Waktu yang berjalan memudarkan segalanya.

aku, kamu dan semuanya tanpa sadar berubah perlahan menjadi kenangan

dan itu sangat menyakitkan

walaupun begitu sama sekali tidak dapat kuhentikan.

MALAM-MALAM TERBAIK

Dalam Twilight Saga Series, favorit saya belakangan ini, pada buku ketiga Eclipse, Bella bertanya kepada Edward tentang malam-malam terbaiknya. Sebuah percakapan yang manis menurut saya mengingat vampir tidak bisa tidur apalagi bermimpi. Vampir menjalani malamnya sementara manusia melewati malamnya.

Berpikir tentang malam-malam terbaik saya bertanya kepada sahabat-sahabat saya tentang bagaimana malam-malam yang disebut malam-malam terbaik itu.

Sahabat saya menganggap concord pertamanya sebagai salah satu malam terbaiknya. Selama hampir dua tahun gurunya selalu mengkritiknya tiap kali dia memainkan Bach. Bach cenderung formal dan pakem tapi dia selalu membuatnya menjadi terkesan sangat flamboyan. Tanpa ijin dia ikut concord. Dia tidak menang juga tidak mendapat tawaran ikut dalam sebuah orkestra tapi concord itu memperbaiki rasa percaya dirinya.

Seorang sahabat saya yang lain merasa malam terbaiknya adalah suatu malam di akhir musim dingin dua tahun lalu. Malam itu dia baru bangun dari pengaruh pesta kimia kecil-kecilan yang dia lakukan. Disebut kecil-kecilan karena hanya mengisap ganja sementara biasanya heroin. Dia bangun di balkonnya. Sungguh ajaib dia tidak berjalan satu langkah lebih ke depan karena itu berarti dia akan terjatuh dari lantai tujuh. Dia melihat langit begitu gelap dengan bulan sabit yang anehnya terlihat sangat indah. Entah kenapa dia teringat ibunya dan menangis. Sejak itu dia memikirkan kehidupannya yang berantakan dan sedikit demi sedikit memperbaikinya. Saat ini sahabat saya itu telah menjadi salah satu orang paling saleh yang pernah saya temui.

Seorang sahabat saya menceritakan tentang salah satu malam terbaiknya. Dia sudah tidak tidur selama 3 hari 2 malam dalam sebuah kegiatan semacam camping. Pada malam ke-3 dia begitu capeknya sehingga berbaring di tengah jalan, jalan yang bersih di pegunungan, seorang gadis cantik menawarinya supaya tidur di pangkuannya. Sahabat saya itu tidur tidak lebih dari 1 jam tetapi dia merasa itu adalah salah satu malam terbaiknya.

Malam-malam terbaik kelihatannya selalu berkaitan dengan hal-hal spektakuler atau perasaan yang mendalam. Namun kalau ditanya tentang malam terbaik saya bingung menjawabnya. Saya menderita insomnia sehingga saya dapat menikmati malam seperti saya menikmati siang. Setiap malam terlihat istimewa di mata saya, saya kadang-kadang melewati malam dengan menikmati susunan konstelasi bintang atau memotret bulan. Hal sederhana yang secara aneh mampu membuat saya merasa bahagia.

Meski setiap malam tampaknya indah bagi saya tapi ada malam yang selalu saya kenang-kenang. Malam-malam itu adalah malam-malam ketika saya masih anak-anak. Malam-malam ketika musim panen cengkeh tiba.

Kebun cengkeh keluarga saya lumayan luas. Musim panen adalah musim yang lama ditunggu. Bunga cengkeh lama tumbuhnya. Bunganya mulai bertunas pada musim penghujan dan baru pisa dipanen pada musim kemarau, kira-kira 5-6 bulan. Cengkeh-cengkeh itu dipetik dengan menggunakan tangga dari batang bambu yang diikat dengan 3 buah tali (1 tali diikat pada batang cengkeh, 1 tali diikat pada sisi kiri dan 1 tali diikat pada sisi kanan) Tali-tali itu menjadi semacam pengaman bagi pemetik cengkeh karena pohon cengkeh di kebun kami tingginya lebih dari enam meter. Dalam sehari kami bisa memanen cengkeh sampai lebih dari 1 kwintal (cengkeh yang masih dalam gagangnya) apabila cuaca cerah dan tidak berangin kencang.

Pada malam hari sehabis isya ayah dan kakek saya akan menggelar tikar-tikar pandan di lantai rumah kami dan menumpahkan cengkeh-cengkeh itu dari karung-karung ke tengah-tengah tikar, membentuk semacam gundukan raksasa, kemudian kami sekeluarga, kadang bersama tetangga dan kerabat, akan duduk mengelilinginya, memisahkan bunga-bunga cengkeh itu dari gagangnya. Karena saya menyukainya saya sampai hafal bunga cengkeh itu berasal dari pohon yang mana. Tidak ada 2 pohon cengkeh yang menghasilkan bunga yang sama. Saya ingat ada bunga cengkeh yang memiliki warna merah yang sangat indah dan bentuk yang feminin yang berasal dari satu pohon yang berada pada deretan nomor 3 dari ujung kebun bagian utara dan nomor 2 dari ujung kebun bagian timur. Saya kadang-kadang memisahkan bunga-bunga berwarna indah itu tetapi setelah dijemur bentuknya ternyata tidak berbeda dengan yang lain. Sewaktu saya bertanya kenapa bunga itu begitu indah kakek saya mengatakan bahwa pohon itu sepertinya kekurangan air. Rupanya kakek saya melihatnya dari segi bentuknya yang mungil.

Kami bekerja di bawah penerangan lampu petromaks, kadang sambil makan ketela rebus dan mendengarkan para orang tua bercerita. Cerita itu kadang terlalu spektakuler untuk dipercaya. Misalnya cerita tentang kakek buyut saya. Orang-orang suka datang kepada beliau untuk meminta obat. Tiap kali orang datang beliau berkata “Aku ora duwe tamba. Nduweku mung banyu genthong. Kae njupuka.” (= aku tidak punya obat. aku cuma punya air di genthong. itu ambillah) Orang yang datang mengambil air itu dan meminumnya dan ndilalah kersaning Allah orang itu jadi sembuh. Pada suatu hari beliau dan kawan-kawannya mengantar pengantin ke desa tetangga. Di desa itu ada orang yang sombong sekali, saat itu dia mengadakan wayangan dan berkata di desa kakek buyut saya tidak mungkin bisa mengadakan hajatan sebesar itu. Kawan-kawan kakek buyut saya marah sekali tapi kakek buyut saya hanya mengatakan apa gunanya wayangan kalau tidak ada yang menonton. Beliau mengambil dua buah alu dan ndilalah kersaning Allah alu itu menjadi hidup dan menari-nari seperti Arjuna melawan Buta Cakil. Akibatnya orang-orang lebih sibuk menonton alu itu dibanding melihat wayangan. Sewaktu saya kecil saya lebih menganggapnya sebagai cerita yang lucu daripada sebuah cerita yang bermuatan magis.

Kegiatan memisahkan cengkeh dari gagangnya itu kadang juga disertai semacam kehebohan  seperti ketika salah seorang sepupu menemukan apa yang disebutnya uler heleman, ulat yang hidup di pohon cengkeh dan menjadi hama, berwarna kuning kehijauan, badannya kecil tapi kepalanya besar dan apabila terkena kulit terasa menyengat sehingga disebut juga uler srengenge.

Musim cengkeh waktu itu hanya satu kali setahun pada awal musim kemarau. Pohon-pohon itu berbunga secara serempak sehingga bisa dipanen secara serempak juga. Berbeda dengan sekarang. Global warming membuat iklim berubah dan mempengaruhi tanaman. Musim panen cengkeh itu berlangsung kira-kira dua minggu tergantung mudah atau tidaknya kami memperoleh pekerja yang mau memetik cengkeh.

Meskipun hanya sebuah keindahan yang sangat sederhana tapi malam-malam di musim panen itu meninggalkan kesan yang mendalam di hati saya.

FACEBOOK AND ME

According Google, Facebook is a free-access social networking website that is operated and privately owned by Facebook, Inc. Users can join networks organized by city, workplace, school, and region to connect and interact with other people. People can also add friends and send them messages, and update their personal profiles to notify friends about themselves. In february 4, 2004 Mark Zuckerberg founded Facebook with  his roommates Dustin Moskovitz and Chris Hughes while he was a student at Harvard University Facebook was then opened on September 26, 2006 to everyone of ages 13 and older with a valid e-mail address.

Facebook is supposed to make me happy.

But istead, Facebook allowed me to see her, every woman I even know, and her baby/es.

I begin to wonder. Have I become weird, that I am only 28 but obsessed with the idea of having a child? I’m in a relationship with the most beautiful creature in the world, and I AM happy. 

Facebook has made me somewhat reconnected to my old friends in other parts of the world. The pretty ones, the ugly ones, the rich ones, the poor ones, ect. Strangely, I don’t care about the pretty, the ugly, the rich or the poor. I only care about the happily married ones, with their children.

Why are they so blessed?

How does God pick people to be happy?

Am I even in the picking system of luckiness?

Or have I been eliminated from to-be-happy queue?

Or have I blamed technology for being too vulgar in exposing others’ happiness?

Or is it fake as well?

Well, in my own conclusion, a real shocker perhaps, Facebook is butterflies in my stomach.

Based on “3some” by NoRiYu

SAYA DAN PUZZLE

puzzle kayu bikin pusing

Salah satu permainan yang saya suka adalah menyusun puzzle.

Sewaktu saya sakit teman saya membawakan puzzle supaya saya tidak bosan. Gambarnya rumit, lukisan hitam putih atap-atap rumah sebuah kota dengan pemandangan langit dan awan-awan yang bergulung-gulung, entah siapa pelukisnya, saya perlu waktu berhari-hari untuk bisa menyelesaikannya. Sejak itu saya suka puzzle.

Saya ingat dulu saya pernah membuat puzzle. Salah satu sahabat saya hendak lulus kuliah. Saya diserang perasaan sentimentil yang aneh terhadap berita yang seharusnya menggembirakan itu. Hal itu karena saya pikir satu-satunya alasan masuk akal kenapa kami bersama, selain karena rasa cinta, adalah karena kuliah -saya sudah lulus satu semester sebelumnya tapi saya selalu punya alasan untuk tetap tinggal di Malang sementara dia kelihatannya sudah muak dengan kota itu- dan kelulusan menjadi seperti ucapan selamat tinggal yang harus diucapkan suka atau tidak. Saya menulis semacam surat perpisahan dalam bahasa Inggris yang isinya kira-kira “terima kasih sudah menjadi temanku” di selembar karton lalu saya mengguntingnya menjadi bagian-bagian kecil, memasukkannya dalam kantong dan menyuruh teman saya membacanya. Saya tidak mengguntingnya dalam potongan yang simetris, seperti seharusnya sebuah puzzle, sehingga pesan itu mudah dibaca. Sahabat saya itu hanya tersenyum saja. Senyum yang tidak bisa diartikan dengan seluruh kosakata dalam kamus. Meskipun mungkin pada saat dia tersenyum dia tidak sedang memikirkan apa-apa tapi itu adalah senyum yang sangat saya suka.

Yang paling ironis dari menyusun puzzle adalah begitu selesai menyusunnya kita biasanya atau barangkali akan menguraikannya kembali.

Puzzle adalah semacam permainan yang selalu bisa diulang dari awal. Atau memang seperti itulah yang namanya permainan.

Melihat puzzle saya sering membayangkan hal mengerikan.

Saya membayangkan diri saya, atau orang lain kadang-kadang, seperti sebuah puzzle. Keping demi keping tersusun dalam sebuah pola khusus. Saya memikirkan seandainya terjadi sesuatu, entah apa, yang menyebabkan puzzle itu terbalik dan susunannya berantakan. Saya pasti akan mengerahkan segenap upaya untuk menyusunnya kembali, barangkali akan menghabiskan banyak waktu dan mungkin juga melibatkan perasaan dan kesetiaan. Lalu apabila ternyata saya tidak mengenali atau mengetahui pola khusus itu, tidak saja karena saya tidak punya ingatan fotografis yang bagus tapi juga karena saya tidak memahami pola khusus itu, saya sangat yakin jika itu terjadi maka saya pasti akan mengalami apa yang menjadi pengertian paling harfiah dari kesengsaraan.

Bayangan itu begitu mengerikannya bagi saya sehingga saya dengan sangat yakin akan memilih untuk berkata kepada siapapun “Saya tidak akan membagimu dalam potongan-potongan puzzle” daripada mengatakan sebaliknya.

Tulisan Sebelumnya »