Pengumpan:
Tulisan
Komentar

PUKULAN KENYATAAN

Mungkin karena saya seorang petani, yang dibesarkan di desa dan kebetulan bertempat tinggal di desa juga, saya merasa yakin saya dapat memperoleh makanan dengan menggali ke dalam tanah, memetik dari pohon dan mengumpulkan dari hewan-hewan yang saya pelihara. Keyakinan itu begitu kuatnya sehingga nyaris saja saya berpikir saya akan baik-baik saja tanpa hasil konvensi apapun yang disebut uang itu.

Secara harfiah saya tidak perlu mengeluarkan uang setiap hari jika saya berdiam diri saja di rumah. Saya dapat merebus telur dan minum susu untuk sarapan. Telur dan susu itu berasal dari ayam dan kambing yang saya pelihara. Siang hari saya dapat membuat sup tomat yang saya petik dari kebun. Malam hari saya bisa membakar ubi dan mengolesinya dengan mentega yang saya buat dari susu yang tersisa. Sesekali pada kesempatan khusus saya menangkap angsa atau kalkun untuk dimasak dagingnya. Mungkin ini bisa disebut keistimewaan khusus untuk petani.

Kenyataan bahwa ada saat-saat tertentu ketika pikiran ‘seandainya aku punya uang masalah ini akan bisa kuatasi dengan cepat’ ada di kepala saya adalah pukulan kenyataan yang dari dulu hingga sekarang selalu tidak dapat saya tanggung. Ketika seorang sahabat terkasih dijahati orang yang membuatnya terusir dari rumahnya sendiri dan harus memulai hidup baru di tempat yang asing, ketika dia, untuk pertama kalinya dalam belasan tahun kami bersahabat, meminta bantuan dan ketika saya, dengan semua usaha yang saya mampu, ternyata tidak bisa membantunya, saya merasa seperti tidak sanggup lagi menghadapi dunia ini.

Saya percaya setiap orang harus bertanggungjawab atas semua perbuatannya dan hidup dengan memangku tanggungjawab itu. Saya telah menyatakan bahwa saya mencintai dan menyayangi maka saya pun harus hidup dan bertindak sebagaimana seorang yang mencintai dan menyayangi. Saya pikir saya cukup berhasil melakukannya kecuali jika menyangkut masalah uang. Seseorang dapat mengharapkan saya duduk menemaninya melewati saat-saat yang menggelisahkan, atau berjalan kaki tiga mil untuk mengambilkan sesuatu, atau merajut baju hangat berbulan-bulan atau sesuatu semacam itu, jika seseorang memintanya dan memang benar-benar membutuhkannya pasti akan saya lakukan. Hanya uang saja rasanya yang membuat saya meragukan kemampuan saya. Saya seorang pekerja keras tapi sayangnya saya tidak memiliki bakat apapun yang berdaya jual. Bisa dibilang saya bahkan tidak akan bisa hidup kalau saya harus mengurus diri saya sendiri. Saya tidak pernah hidup kekurangan, sebagaimana yang saya gambarkan di bagian awal tadi, saya dapat hidup nyaman dengan kasih sayang Tuhan. Barangkali karena saya hidup dengan cara itu sehingga tidak tersisa sedikit pun tempat untuk apa yang mampu dinilai dengan ukuran nominal. Itu sekali waktu, ketika perasaan saya sedang tidak enak, membuat saya terpukul seakan-akan saya berkhayal tentang hal-hal yang indah lalu ada orang yang berkata ‘kau hanya memiliki khayalanmu saja’. Sebuah pukulan yang menjatuhkan saya ke tempat yang rendah.

Satu-satunya yang menyokong kehidupan manusia adalah rezeki dari Tuhan, bukan uang. Mungkin meyakini hal itu sebelum melibatkan diri terlalu jauh sebagai korban dari sebuah benda yang hanya merupakan sebuah hasil konvensi semata adalah satu-satunya penghiburan bagi saya.

Ketika menuliskan tulisan ini saya sedang berada di Skotlandia, sedang melakukan apa yang saya sebut ‘perjalanan untuk berdamai dengan duka cita’. Seorang teman baik saya baru saja meninggal. Saya datang untuk menghadiri pemakamannya.

Suatu hal yang bagus sekali bahwa air mata itu diciptakan berupa air yang bening, tidak meninggalkan bekas dan cepat mengering. Kalau tidak pasti akan tertinggal jejak yang jelas sekali di belakang saya.

Selama bertahun-tahun kami menjalin persahabatan yang mengharukan, dan karena dia terlahir sebagai seorang yang penuh kasih dan mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, saya rasa itu bukan sesuatu yang mustahil.

Dua tahun terakhir dia dinyatakan mengidap penyakit kanker paru-paru. Ironis sekali bahwa dia diketahui menderita penyakit itu justru setelah dia bisa melepaskan diri dari kebiasaaan merokoknya.

Ketika pertama kali kuliah saya dan dia mengambil beberapa kelas yang berbeda. Seperti semua orang yang lain dia mau tidak mau terdorong untuk melihat kepada saya karena penampilan saya yang berbeda. Saya biasa menghabiskan waktu di perpustakaan. Suatu hari dia membantu saya mengambilkan sebuah buku di rak yang terlalu tinggi untuk bisa saya gapai. Satu atau dua menit kemudian dia bertanya “Bagaimana rasanya menjadi begitu berbeda?” Selama seharian itu saya belum membuka mulut pada satu manusia pun dan kalaupun saya sibuk bercakap-cakap itu hanya berbicara dengan diri saya sendiri. Setengah tidak sadar saya menjawab “Bersemangat. Kau tahu, sebuah tanaman kecil yang tidak diketahui namanya harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri lebih dari yang lainnya supaya tidak hanya akan berakhir di dalam buku tua.” Dia tertawa terbahak-bahak dan berkata “Kalau begitu kamu itu termasuk dalam species apa?” Ada sorot jenaka di matanya. Dia mempunyai mata berwarna hijau air dengan bercak-bercak keemasan yang sangat indah. “Masih Homo sapiens sayangnya,” jawab saya. Sejak itu kami berteman.

Dia memiliki kualitas-kualitas pribadi yang saya kagumi. Dia jujur dan sangat tekun. Dia adalah jenis orang yang selalu mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Melihatnya sedang terhanyut dalam pekerjaannya seperti melihat pemandangan indah. Dia memiliki rasa keadilan yang tinggi. Dia tidak pernah akan diam saja jika melihat hal yang tidak benar sedang berlangsung di dekatnya. Dia mampu menemukan hal positif di dalam diri orang lain bahkan ketika orang tersebut tidak menyadarinya. Dari semuanya yang paling saya sukai adalah bahwa dia menyayangi saya. Dia memandang saya dengan penghargaan seorang teman. Pandangan itu tetap sama baik saya sedang memakai baju Channel atau baju dari kain murahan yang saya jahit sendiri, sedang memperlihatkan kekonyolan pikiran saya sendiri atau sedang melakukan presentasi penting, sedang menangis atau tertawa, caranya menghargai saya tidak berubah.

Setelah lulus dia mengajar di sebuah college di Edinburg dan baru kembali ke kampung halamannya setelah jatuh sakit. Dia tidak memiliki suami atau anak dan tidak begitu dekat dengan kerabatnya. Mungkin itu sebabnya saya sering berpikir dia pasti merasa kesepian. Karena saya suka menulis surat maka sekali seminggu saya menulis surat untuknya. Walaupun kehidupan saya ya cuma begitu-begitu saja tapi saya beruntung bisa menemukan hal-hal kecil yang lucu yang bisa saya tulis untuknya. Dia membalas surat saya dan hal itu menjadi kebiasaan kami selama bertahun-tahun. Surat itu adalah hal pertama yang saya rindukan darinya setelah dia tiada.

Dalam suratnya yang terakhir dia mengutip puisinya Shelley:

Dust to the dust! But the pure spirit shall flow

Back to the burning fountain whence it came,

A portion of the eternal.

Dia dimakamkan di bawah pohon spruce tua yang dirambati tanaman wisteria. Dan satu hal yang saya pikirkan adalah dari sana dia bisa melihat pemandangan ke arah lembah, hal yang sering dia lakukan dan sangat dia sukai.

INSPIRING THINGS

Sekitar sebulan yang lalu seseorang menyurati saya dan mengatakan, “Saya menyukai gaya menulis Anda. Menurut saya sangat manis,” katanya. Sayangnya dia tidak menyebutkan tulisan mana yang dia maksud. Meskipun saya cenderung menganggap pujian sebagai ‘pil pahit bersalut selai manis’, tapi saya merasa gembira menerima surat itu dan menanggapinya sebagai sebuah tawaran persahabatan.

Anehnya, justru pada saat itulah saya mulai get tired menulis tema-tema yang manis dan romantis. Tulisan saya yang terakhir, yang mengejutkan saya, adalah mengenai kehidupan orang-orang yang mbau di hutan kayu putih di kampung halaman saya dimana kemiskinan membelit orang-orang dari generasi ke generasi.

Sekali saya pernah mengeluh pada teman seorang penulis senior tentang betapa mudahnya saya merasa bosan pada tulisan saya sendiri. Saya biasa menuliskan omong kosong berhalaman-halaman selama berjam-jam bahkan berhari-hari tapi kemudian ketika membaca ulang hasilnya saya merasa kecewa. Teman saya mengatakan itu karena saya sedang bosan dan need a pause. Dia menyarankan saya menulis sesuatu yang sifatnya berbeda dari apa yang sedang saya kerjakan. Sesuatu yang bisa dibaca anak-anak sekolah di dalam kelas seperti esai atau artikel. Sesuatu yang sangat serius. Atau sebaliknya sesuatu yang sangat tidak serius. Saya menyukai yang terakhir. Saya biasanya mengambil kertas surat dan menulis untuk teman-teman saya, menghibur mereka dengan hal-hal lucu yang saya alami atau saya pikirkan.

Saya bukan orang yang spesial. Kehidupan saya biasa-biasa saja. Tidak terlalu beruntung untuk mengalami kehidupan yang penuh cerita mengesankan. Kalau harus menulis autobiografi saya rasa bukunya tidak akan lebih tebal dari beberapa halaman saja. Tapi saya beruntung saya mengenal teman-teman yang memiliki kehidupan yang mengesankan itu. Dengan hak sebagai teman dan imajinasi sebagai medianya saya mendapatkan pelajaran istimewa dari kehidupan mereka. Perasaan mengalami pengalaman yang sama tanpa benar-benar mengalaminya.

Saya kira setiap penulis pernah menulis tentang kekasihnya, sahabatnya atau orang-orang yang dia kenal minimal sekali dalam proses kreatif mereka. Berteman dengan penulis bisa menyenangkan dan bisa tidak. Seorang penulis adalah seorang pengutip yang sempurna. Apa yang dia alami, dia dengar, dia baca, tersimpan di dalam alam bawah sadarnya dan ketika dibutuhkan muncul dalam teks aslinya dengan begitu saja di benaknya. Jika anda berteman dengan penulis jangan terkejut kalau dia ingat persis kata-kata yang anda ucapkan padanya sekian puluh tahun yang lalu dan menuliskannya dalam karyanya. Ini mungkin bisa menimbulkan perasaan yang tidak enak, karena kesan seseorang pada diri kita bisa jadi sangat berbeda dengan pandangan kita terhadap diri sendiri. Bagian menyenangkannya adalah dia mengabadikan persahabatan atau kisah cinta anda dan dia dalam sebuah karya seni. Apa yang lebih menyenangkan dibandingkan diabadikan dalam sebuah puisi?

Saya pribadi menetapkan standar moral yang ketat dalam hal ini. It is not a thing any Pramudhaningrat should do, make money out of the peculiarities of her friends. Saya tidak menyukai upaya menghinakan kehormatan orang lain dengan cara apapun. Betapapun menariknya, betapapun besarnya dorongan untuk menuliskan hal-hal ganjil yang ada dalam diri teman saya, saya selalu memilih untuk menyimpannya dalam hati saya sendiri. Kecuali kalau saya memang diijinkan untuk menuliskannya.

Mempertimbangkan hal itu, saya mulai mencoba metode baru. Menuliskan pengalaman saya yang tidak seberapa itu dengan memaksudkannya untuk menyampaikan nilai-nilai yang saya yakini. Hasilnya ternyata menjadi tulisan yang tidak bisa dikategorikan manis. Meskipun demikian saya melihatnya sebagai opsi yang bisa saya pilih. Kalau tidak bisa dibilang saya menjadi lebih dewasa maka mungkin saya hanya berubah menjadi lebih realistis saja. And I think it’s okay for now.

LOMBA

Saya orang yang sama sekali tidak memiliki jiwa kompetitif.

Bahkan terhadap perkataan Tuhan “berlomba-lombalah di dalam kebaikan” saya malah menanggapinya dengan cara yang santai-santai saja. Saya selalu percaya setiap orang punya hubungan yang sangat personal dengan Tuhan. Kasih sayang Tuhan pun saya rasa mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Banyaknya bentuk itu mungkin sama dengan banyaknya makhluk yang Dia ciptakan. Tapi tentu saja saya agak terganggu jika sedang bermasalah dengan orang lain. Bukan perbuatan buruk orang pada saya yang saya khawatirkan tapi pikiran bahwa cinta Tuhan kepada orang itu lebih besar dari cintaNya kepada saya sehingga Dia membiarkan hal buruk itu terjadi itulah yang membuat saya cemas.

Sewaktu kecil kakek saya biasa menyuruh saya dan saudara-saudara saya untuk berdiri berjajar dan berlomba. Apa saja bisa jadi ide lomba baginya. Tak jauh dari rumah saya ada sebuah sungai kecil. Pada sore hari yang cerah dan ketika suasana hatinya sedang baik, kakek saya memasang papan-papan kayu di salah satu bagian sungai sehingga airnya terbendung dan kami jadi memiliki kolam renang alami. Dia menyuruh saya dan saudara-saudara saya untuk berlomba renang. Saya dan semua teman semasa kecil dapat berenang bahkan tanpa diajari. Hanya ada beberapa sungai di desa saya, satu atau dua saja yang disobo uwong (=didatangi orang) tapi kedung (=bagian sungai yang airnya dalam dan tenang) ada dimana-mana, kami secara naluriah menemukan berenang sebagai salah satu kesenangan yang dapat kami nikmati. Kadang-kadang kakek menyuruh kami berlomba lari yang rutenya sepanjang tepi sungai dan pematang sawah. Di hari yang berangin bagus saya dan saudara-saudara saya berlomba naik kuda. Hadiah yang diperlombakan itu mungkin akan dianggap sepele oleh orang dewasa tapi bagi anak kecil seperti kami hadiah itu sangat menarik sehingga kami mau bersusah payah. Kadang-kadang hanya berupa permen –di kalangan anak-anak kecil kakek saya terkenal sebagai orang yang selalu membawa permen mentos atau sugus di kantongnya dan biasa memberikannya kepada anak-anak yang bosone ngrithik (= bahasa jawa halusnya bagus) kalau ditanyai- atau buah jambu biji –kakek saya menanam pohon jambu biji yang buahnya besar luar biasa dan rasanya manis- atau layangan atau hadiah-hadiah buatan sendiri yang tidak lazim seperti misalnya pada suatu kali dia menyuruh kami berlomba menghafalkan bahasa jawa halusnya bagian-bagian tubuh dengan hadiah kotak dari bambu yang berisi jangkrik yang bunyinya bagus sekali. Saya tidak pernah mendapatkan hadiah-hadiah itu, bukan karena saya memang tidak bagus dalam semua bidang perlombaan itu tapi karena saya tidak suka mendapatkan sesuatu dengan cara mengalahkan orang lain. Melihat ekspresi lawan saya yang bersungguh-sungguh saya jadi merasa bagaimana begitu mengingat saya tidak punya itikad yang kuat mengikuti lomba itu selain membuat kakek saya senang. Bahkan sejak masih sangat kecil telah tertanam di kepala saya bahwa orang yang berhak mendapatkan sesuatu hanyalah mereka yang itikadnya baik dan bertekad kuat.

Waktu saya SD, guru saya sering mengikutkan saya dalam lomba cerdas cermat, mungkin karena tidak ada stock lain –teman-teman saya sudah diikutkan lomba olahraga yang biasanya sama sekali tidak menarik minat saya- dan kebetulan karena saya suka membaca. Setiap tahun tim saya selalu mendapatkan hadiah meski tidak selalu juara satu, tapi dibanding saat menerima hadiah yang biasanya berupa selusin buku, pensil dan penghapus, saya lebih merasa senang saat saya dan kawan-kawan setim ditraktir guru makan soto di warung kecil dekat kecamatan. Bukan sotonya yang menarik. Soto buatan ibu saya jauh lebih enak. Tapi karena sambil makan itu saya bisa mendengar guru saya mengobrol dengan temannya sesama guru dan membangga-banggakan kami dengan riangnya. Saat seperti itulah saya merasa telah berbuat baik kepada guru saya.

Waktu SMP saya suka sekali dengan guru IPA saya. Namanya Pak Teguh. Dia suka mengajak kami belajar di luar ruangan, kadang di sawah, kadang di sungai, mengamati tumbuhan dan binatang-binatang kecil, mencatat dan menggambarnya. Saya kira saat itulah awal mulanya saya suka sekali communing with nature. Pak Teguh itu masih muda, baru lulus sekolah, saya pernah mendengar seseorang bilang kalau dia bukan guru betulan, waktu itu saya tidak tahu apa artinya bukan guru betulan, mungkin sama dengan guru sukuhan atau semacamnya. Bagi saya dia guru yang hebat. Kakek saya membelikan saya buku IPA yang tebal sekali dan didalamnya saya bisa membaca hal-hal yang menarik. Saya suka membaca buku itu di dalam kelas. Berbeda dengan guru lain, Pak Teguh tidak memarahi saya meski dia melihat saya membaca buku itu saat pelajaran. Ibunya Pak Teguh itu berjualan tempe di pasar. Dia kenal dengan keluarga saya. Nenek saya suka membeli tempe di tempatnya karena tempenya enak. Saya sering disuruh membeli dan tiap kali datang ibunya Pak Teguh itu selalu memanggil saya dengan sebutan “Nak mas ayu.” Malunya bukan main. Sewaktu masih SD saya biasa berlari ke rumah guru sambil membawa jeruk atau pisang atau makanan kalau kebetulan keluarga saya sedang ada selamatan. Saya merasa senang sekali kalau melihat guru saya baik-baik saja. Saya juga ingin melakukan itu pada Pak Teguh, tapi rumahnya jauh, harus melewati persawahan, jalan raya dan hutan bambu dan saya dilarang untuk bermain jauh-jauh dari rumah, jadi saya tidak bisa melakukan kebiasaan itu. Tapi setiap pagi saat berjalan kaki ke sekolah, saya bisa melihat wuwungan rumah Pak Teguh dari kejauhan dan saya biasanya berdoa supaya dia baik-baik saja. Suatu hari, ada diselenggarakan olimpiade sains di kabupaten, rencananya ada diikutkan satu atau dua orang dari kelas satu,dua dan tiga. Waktu saya sedang mengambil kapur tulis di ruang guru, kelas satu SMP saya kebetulan menjadi ketua kelas dan biasa mengambil absen dan kapur tulis setiap pagi, saya mendengar Pak Teguh sedang bertengkar dengan guru matematika karena dia ingin menyertakan saya dalam lomba tetapi guru matematika itu ingin menyertakan anak yang lain. Entah bagaimana saya dan anak itu ikut seleksi juga. Saya lulus seleksi dan saat lomba terakhir saya jadi juara tiga. Pak Teguh kelihatan senang. Lagi-lagi saya berpikir mengikuti lomba bagi seorang murid sama dengan berbuat baik kepada gurunya.

Waktu SMA tidak terhitung berapa kali saya ikut lomba semata-mata untuk menyenangkan guru. Ketika saya lebih besar bukan lagi guru yang menjadi alasan melainkan teman: untuk menemani teman, untuk memeriahkan acara teman, untuk mewakili teman dll. Lucunya seringkali teman-teman saya sendiri pun tidak menyadari alasan saya itu dan berpikir saya sibuk mencari eksistensi diri.

Sekarang saya memandang lomba dari cara pandang yang berbeda. Akhir-akhir ini saya menggunakannya sebagai penanda moment tertentu dalam hidup saya, semacam sebuah acara sosial di tengah-tengah rutinitas harian saya yang notabene sangat soliter. Walaupun prinsip hanya orang yang punya itikad baik dan tekad kuat yang berhak mendapatkan sesuatu itu masih saya yakini, terkadang ada juga hal-hal ironis yang terjadi. Seperti misalnya beberapa bulan lalu ada lomba desain di sebuah institut seni. Saya mengirimkan salah satu lukisan arang yang saya buat muism dingin tahun lalu. Saya tidak menang dalam lomba itu tapi salah satu panitia mengirimkan surat kepada saya yang mengatakan dia tertarik membeli lukisan saya dan menyertakan cek senilai 32 euro. Saya tertawa sampai perut saya sakit. Saya menunjukkan cek itu kepada teman-teman dan reaksi mereka yang macam-macam itu membuat saya terhibur. Mungkin seharusnya saya mengirimkan kembali cek itu dan meminta lukisan saya dikembalikan but pride just then had no place in me when I need my own amusement.

Lomba adalah kegiatan sosial, terlepas dari kita berjiwa kompetitif atau tidak, akan menyenangkan untuk mengikutinya sekali waktu.

KEKASIH GELAP

Sekitar satu jam sebelum saya menulis tulisan ini, saya dengan marah meninggalkan sahabat saya di YM. Sudah cukup lama kami tidak mengobrol dan sebetulnya saya merasa agak kangen padanya. Bagi saya mengobrol dengannya mengungkapkan dengan tepat arti ungkapan ‘orang mengantuk disodori bantal’, tapi dia adalah seorang yang punya bakat alami untuk membuat orang merasa jengkel.

Topik pembicaraan kami hari itu entah kenapa adalah kekasih gelap. Dia tidak sedang menjalin hubungan yang tidak terhormat dengan wanita lain ataupun merencanakan akan menjalin hubungan semacam itu. Sama sekali bukan disitu letak masalahnya. Di luar sifat menjengkelkannya dia adalah orang yang will never put his toe out of line. Baginya ada hal-hal tertentu yang dia lebih baik mati daripada melakukannya. Tapi kenyataan bahwa dia berpikir kekasih gelap adalah sebuah godaan yang menarik, sama dengan anggapan saya terhadap kroket isi udang (belakangan saya ingin sekali makan kroket isi udang tapi tidak diijinkan karena sedang sakit tenggorokan) itulah yang menjadi masalah.

Saya suka memakai ide tentang kekasih gelap pada cerpen-cerpen yang saya tulis. Kalau menulis sebuah kisah cinta ketika semua hal berlangsung baik-baik saja, lalu dimana letak menariknya? Justru karena ada hasrat yang diperturutkan dan nilai yang dilanggar maka kisah cinta gelap-gelapan itu menjadi sebuah cerita yang dramatis, menghibur dan lucu. Tapi ini hanya salah satu teknik bagaimana membuat sebuah tulisan menarik perhatian pembaca. Dalam dunia nyata teknik ini rasanya tidak bisa diterima begitu saja.

Saya bertanya-tanya kenapa kebanyakan orang, bahkan seorang pria baik-baik seperti sahabat saya, menganggap kekasih gelap adalah ide yang menarik. Saya berpikir mungkin itu karena mereka adalah orang-orang yang trapped in comfort zone dan memerlukan hal-hal yang atraktif untuk keluar dari rutinitas yang menjemukan. Tapi benarkah hanya karena alasan itu?

Kebetulan saya baru saja melihat film Casablanca. Saya penggemar film-film klasik dan menontonnya setiap saya punya kesempatan. Ada sebuah lagu dalam film itu yang sangat saya suka. As time goes by… Lagu ini dinyanyikan oleh Frank Sinatra. Dalam liriknya ada baris ini

Moonlight and love songs
Never out of date.
Hearts full of passion
Jealousy and hate.
Woman needs man
And man must have his mate
That no one can deny.

It’s still the same old story
A fight for love and glory
A case of do or die.
The world will always welcome lovers
As time goes by.

Bagaimana cara kita mencintai kekasih kita itu sepenuhnya adalah urusan kita sendiri. Tak ada yang lebih konyol selain memperbandingkan antara cinta kita dengan cinta milik orang lain. Saya menganalogikannya seperti ini. Di kebun buah berjajar pohon-pohon apel, seseorang dari generasi lampau menanamnya bertahun-tahun lalu dan saya sungguh berterimakasih padanya. Setiap pohon memiliki buah yang berbeda jenisnya, ada yang merah dan sangat manis, ada yang hijau dan sangat harum, ada yang kuning semburat merah yang ukurannya sangat besar dan juicy. Saya suka semuanya. Seorang tetangga saya di desa juga memiliki pohon apel. Setiap musim panen dia biasa mengirimi saya buah apel dari pohon itu dalam keranjang piknik. Buahnya besar, teksturnya lembut dan manis. Saya tidak pernah kekurangan apel dari kebun saya sendiri tapi jika tetangga saya itu tidak mengirimi saya apel saya merindukannya. Jika ditanya kenapa begitu saya hanya bisa menjawab “I should have been able fully to satisfy my appetite for apples at home; but there is a certain odd kink in human nature by reason of which the flavour of the apples belonging to somebody else is always vastly superior to our own.”

Apakah cinta seorang kekasih gelap lebih menakjubkan dibanding kekasih biasa saya tidak tahu. Sebuah jawaban ‘iya’ tentunya akan menyakiti hati. Keberanian memperturutkan hasrat dan melanggar nilai-nilai tidaklah selalu merupakan penanda akan besarnya cinta. Namun jawaban ‘tidak’ rasanya juga akan mendapat tanggapan ‘memangnya kau tinggal di dunia yang mana?’ Cinta yang besar, hingga merebut tempat dan kedudukan pikiran, sangat dekat dengan kebodohan dan kegilaan. Dan kita tahu ada saat-saat tertentu ketika kebodohan dan kegilaan terasa sangat heroik.

Mencintai dengan sangat intens, atau menurut istilah sahabat saya ‘mencintai sampai pada taraf berharap seandainya bisa tidak mencintai siapapun’ adalah sebuah pengalaman pribadi yang sangat mendalam dimana kebodohan dan kegilaan bercampur dengan keindahan seperti adegan dalam drama. Kenyataan bahwa tidak semua orang mengalami drama itu adalah sebuah pemicu yang lain kenapa sosok kekasih, baik yang terang maupun yang gelap, menjadi seperti teman imajiner dari anak tunggal yang kesepian.

Saya tidak ingin menarik kesimpulan apa-apa dari tulisan ini kecuali bahwa rasa bosan bisa sangat berbahaya bila disandingkan dengan human nature, melankolia dan dialami sambil memandangi keluar jendela. Adapun tentang sahabat saya mungkin dia sedang mencoba menulis novel romantis. Rasanya lebih baik saya berpikir begitu daripada marah-marah tidak karuan.

Everybody has his own foolishness.

Itu kata sahabat saya.

Barangkali hidup dimulai ketika seseorang menemukan kelemahan-kelemahannya dan sepertinya akan berakhir ketika dia dapat hidup berdamai dengan kelemahan-kelemahan itu atau entah bagaimana tidak terlalu mempermasalahkannya.

Beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan jauh dan seperti umumnya orang yang akan melakukan perjalanan jauh saya meninggalkan beberapa wasiat.

Apa anda bertanya bagaimana perasaan seseorang yang menulis wasiat dalam keadaan sehat, bahagia, dilimpahi banyak cinta dan tidak mengharapkan kematian akan mengunjunginya dalam waktu dekat? Bertanyalah pada saya. Rasanya seperti seorang tokoh anonim yang invisible –dan kebetulan adalah anda- yang datang mengunjungi rumah anda pada hari pemakaman anda, tinggal disana sampai malam ke empat puluh dan mendengarkan apa yang dibicarakan orang-orang tentang anda. Rasanya seperti itu, tidak kurang tidak lebih. Tiba-tiba anda akan ingat hal-hal konyol yang pernah anda lakukan. Itu bagian yang lucu. Bagian yang tidak lucunya adalah tiba-tiba anda diharuskan untuk berpikir mengenai dunia dimana anda tidak ada didalamnya sementara hal-hal yang lainnya: orang-orang yang anda cintai, rumah yang anda sukai, taman yang anda rawat, semuanya masih sama. Sebuah tusukan tajam akan anda rasakan bila sebelumnya adalah orang yang percaya sepenuhnya akan idiom I’m somebody. Dan sebuah luka sayatan yang tak kalah menyakitkannya walaupun anda –seperti saya- selalu mengatakan I’m nobody setiap kali ditanya tentang keakuan anda. Entah bagaimana anda akan terdorong untuk melihat kepada hal-hal tertentu yang anda miliki dan berpikir itu dapat menjadikan dunia seseorang menjadi lebih baik atau setidaknya berguna untuk mengenang anda.

Sebuah badai dahsyat yang tidak saya sangka sebelumnya, menulis surat wasiat itu, walaupun hanya berlangsung sesaat, bisa saya lakukan juga. Saat ini surat wasiat itu telah saya lenyapkan –karena saya telah kembali dalam keadaan hidup- saya terlalu malu untuk membacanya ulang. Tapi saya masih ingat kata per katanya dan kemungkinan akan menuliskan hal yang sama kalau saya benar-benar didatangi tanda-tanda kematian.

Kira-kira satu minggu setelah saya menuliskan surat wasiat itu saya didatangi teman lama. Teman lama itu bukan berwujud orang tapi penyakit. Penyakit yang terlihat sepele tapi saya secara aneh memiliki dugaan kalau saya akan meninggal karena penyakit itu pada suatu saat nanti. Penyakit itu memiliki gejala demam tinggi, mulut pahit, kehilangan kesadaran (mengigau) dan tidak punya tenaga sama sekali. Penyakit itu jarang saya alami, barangkali bisa dihitung dengan jari, biasanya hanya datang pada saat saya mengalami sesuatu yang luar biasa: setelah ujian, sedang merasa sangat takut atau sedang sangat menginginkan sesuatu. Keluarga saya biasanya menghubungkan penyakit saya itu dengan hal-hal takhayul karena penyakit itu datang dan pergi secara tiba-tiba dan pengobatan biasa tidak menolong sama sekali. Penyakit itu selalu diawali dengan mimpi, mimpi tentang hal yang sama berulang kali selama masa sakit dan baru akan sembuh setelah mengalami mimpi yang sama dengan sebuah penyelesaian. Misalnya penyakit yang terakhir itu saya bermimpi berada di sebuah pesta kebun. Orang-orang memakai baju indah berwarna putih di taman yang indah. Saya menggendong bayi yang saya sayangi. Saya meninggalkannya sebentar di ayunan untuk pergi mengambil sesuatu, mungkin minuman. Waktu saya kembali, dari jauh saya melihat seseorang yang tidak saya kenal mengambil bayi itu. Saya mengejarnya tapi orang itu menghilang di antara kerumunan orang-orang. Saya mencarinya kemana-mana sambil menangis. Saya memimpikan hal yang sama selama empat hari saya sakit. Di hari kelima saya bermimpi orang yang tidak dikenal itu datang mengembalikan bayi itu pada saya. Pagi harinya saya bangun dan kepala saya terasa sangat ringan. Saya dapat bangun seolah-olah penyakit itu dihapus begitu saja dari diri saya.

Kalau dipikir-pikir tidak ada hal yang terlalu istimewa yang terjadi pada saya akhir-akhir ini. Ujian desertasi pun sudah lama. Saya tidak sedang dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan dan juga tidak merasa sedang menginginkan sesuatu dengan begitu menggebunya. Tapi penyakit itu datang begitu saja. Mungkin kebodohan sayalah yang telah mengundangnya. Mengingat saya masih suka terheran-heran setiap kali saya melakukan kebodohan baru, saya mungkin adalah orang yang masih harus hidup untuk menemukan kebodohan-kebodohan selanjutnya.

Everybody has his own foolishness. And perhaps life is about how to face it.

Ada saat-saat tertentu ketika saya benar-benar kehilangan kesabaran. Di saat-saat seperti itu kalau saya memukul sesuatu sampai hancur saya akan merasa lebih baik.

Sekali seminggu saya membantu seorang teman di kelas craft-nya. Biasanya sambil menunggu jemputan datang saya menghabiskan waktu di rumah –yang menyatu dengan studio- milik teman saya itu. Rumahnya cukup menyenangkan, namun ada hal yang mengganggu. Di sebelah rumah itu ada rumah yang disewakan per kamar, bukan hotel, hanya semacam kost. Di depan rumah itu ada bangku-bangku marmer ditata mengelilingi sebatang pohon almond. Pohon itu tua dan besar tapi tidak cukup rimbun untuk menyembunyikan orang-orang yang duduk di bangku marmer itu. Dari jendela ruang tamu rumah teman saya saya dapat melihat siapa yang tengah berada disana dan karena jalan di sekitar situ hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki atau sepeda maka tempat itu cukup sepi sehingga saya -yang meskipun sangat tidak suka menguping- tidak mampu mencegah telinga saya untuk mendengar percakapan yang terjadi disana. Ndilalah kersaning Allah, waktu saya berada disana selalu bersamaan waktunya dengan kunjungan seorang pria Perancis pada salah satu wanita yang tinggal di rumah itu. Mereka biasanya duduk berdua di salah satu bangku dan pria itu menyibukkan dirinya dengan merayu si wanita. Kelihatannya wanita itu menikmatinya karena dia terus menerus tertawa hampir setiap tiga menit sekali. Ada dua hal yang mengganggu saya yaitu kata-kata pria itu dan tawa si wanita. Saya tidak mendapat nilai A dalam mata pelajaran bahasa Perancis tapi saya menguasai cukup kosa kata untuk bisa mengetahui bahwa yang dikatakan pria itu hampir semuanya vulgar dan menunjukkan selera yang rendah. Sedangkan tawa si wanita itu mengingatkan saya pada tawa geisha. Biasanya saya menganggap mereka seperti dagelan gratisan yang biasa saya tertawai diam-diam. Tapi ketika perasaan saya tidak enak mereka membuat saya kehilangan kesabaran. Seperti kemarin, kalau biasanya saya menyimpan pendapat saya di dalam hati maka kemarin itu saya mengatakannya. Saya duduk di dekat jendela sambil merajut sementara teman saya bekerja di depan komputernya. Pria perancis itu mengatakan hal yang vulgar dan kami berdua mendengarnya dengan cukup jelas.

Saya : Menurutmu berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum wanita itu menyadari kalau laki-laki itu menyebalkan?

Teman saya : Kurasa dia tidak akan menyadarinya. Dia bodoh.

Saya : Tapi dia cantik.

Teman saya: Tentu saja. Dia membutuhkan itu untuk pekerjaannya.

Saya : Model?

Teman saya : Dan yang lain-lainnya juga.

Saya : Maksudmu?

Teman saya tertawa.

Laki-laki itu mengatakan kalimat vulgar lagi dan si wanita tertawa.

Saya : Di negaraku kalau seseorang mengatakan itu di tempat umum akan ada orang yang mendatangi mereka dan mengatakan kalau mereka tidak sopan (membayangkan ketua RT di rumah)

Teman saya : Ah, dua orang itu hanya sedang bermain sandiwara saja.

Saya : Kenapa?

Teman saya : Disini, bagi orang-orang tertentu, satu-satunya alasan kenapa dia mengatakan sesuatu adalah karena dia tidak akan melakukannya. Tahu maksudku? Hubungan mereka tidak serius. Kalau tidak mereka tidak akan bicara.

Wanita itu tertawa lagi.

Saya : Ayo kita melihat berita saja. Dia wanita yang secara instingtif tidak kusukai.

Alhamdulillah saya manusia biasa yang tidak punya kekuatan, seandainya Tuhan memberi saya sebiji sawi saja dari apa yang saya maksud dengan ‘kekuatan’ itu rasanya saya bisa memastikan bakal terjadi ‘sesuatu’ dengan para pengganggu itu. Dan tentu saja itu sangat tidak baik makanya saya bersyukur itu hanya ‘seandainya’. Tapi sungguh, membayangkan saya mengucapkan mantera stupefy pada laki-laki itu dan membuatnya terpental beberapa meter jauhnya membuat saya merasa sangat terhibur.

Well, there is no spark of vanity in me. And I lie

FAMILY PRIDE

Saya tidak pernah memahami arti sebenarnya dari kata family pride dan bahwa saya memilikinya sampai beberapa waktu lalu.

Saya pernah dicurigai menjalin hubungan yang tidak terhormat dengan seorang pria. Ketika itu saya masih kecil, belum mengetahui bahwa sebuah pembelaan diri bisa sangat penting untuk dilakukan, saya berpikir karena saya tidak melakukannya maka saya tidak perlu terlalu ambil pusing menanggapinya. Ketika saya sudah besar, saat saya tahu bahwa masalah itu ternyata lebih serius dari yang saya kira, saat saya tahu bahwa di dunia ini memang ada orang-orang tertentu yang menikmati perannya merusak hidup orang lain, saya merasa harga diri saya terluka. Demikian parahnya sampai saya tidak mampu untuk memaafkan orang-orang yang mencurigai saya melakukannya. Tentu saya tidak membuang waktu saya untuk merencanakan balas dendam atau apa, itu hanya akan menurunkan derajat saya hingga selevel dengan mereka, namun pertahanan diri saya bereaksi dengan meniadakan orang-orang tersebut dalam lingkaran kehidupan saya. Menganggapnya tidak pernah ada. Saya bersyukur saya pintar sekali dalam hal ini.

Namun beberapa waktu lalu, orang yang ada hubungannya dengan masalah itu menghubungi saya. Saya bersikap sopan padanya bahkan ketika dia mengungkit-ungkit masalah itu sebagai sebuah bahan candaan saya ikut tertawa bersamanya tapi tentu saja karena di dalam hati saya memang menyimpan sesuatu maka tidak bisa tidak pukulan balik itu pun muncul. Dengan bercanda pula saya mengatakan kalau masalah itu menyakiti saya dan hanya Tuhan sendiri saja yang bisa menyembuhkan rasa sakit itu. Entah bagaimana dia malah menyadari kalau saya sangat serius –saya tidak tahu kenapa candaan saya selalu dicurigai orang lain- dan akhirnya keluarlah permintaan maafnya kepada saya. Jawaban saya seperti ini terus terang aku tidak berbakat memaafkan orang, aku juga tidak punya cukup kebesaran hati untuk bilang ‘tidak apa-apa’ atas sesuatu yangg tidak pada tempatnya. makanya jika sekiranya kau punya salah, tidak usahlah dibahas denganku,bahas saja dengan dirimu sendiri, apa memang sudah tepat konsep ‘salah dan benar’ yang kau anut. kalau memang tidak tepat beranilah untuk mengakuinya dan hukum dirimu sendiri. kalau memang menurutmu tepat-tepat saja ya marilah kita lupakan saja. percuma kau minta maaf jika dirimu sendiri saja tidak mampu menarik pelajaran dari kesalahan yang sudah kau buat.” Saya tidak tahu kalau kata-kata itu akan bisa membungkam orang lain tapi kalau saya memang merasakannya mau bilang apa lagi, iya kan?

Kekasih saya selalu mengatakan kalau saya itu never quite cured from a blow and will carrying a secret grudge for years until a suitable chance for revenge presented itself. Dari kejadian itu sepertinya kekasih saya mendapat pembenaran atas argumennya itu.

Dalam keluarga saya ada aturan yang sangat jelas antara apa yang patut dilakukan dan apa yang tidak. Dulu saya berpikir setiap keluarga memberlakukan aturan yang sama sehingga saya menerima aturan itu begitu saja, bahkan menganggapnya hal yang biasa-biasa saja. Tetapi setelah saya besar,mampu berpikir,mengutarakan pendapat dan menjelaskan dengan baik apa yang saya rasakan, saya menemukan bahwa saya dibesarkan dengan cara yang sedikit berbeda.

Dari percakapan-percakapan di malam hari, biasanya keluarga kami duduk bercakap-cakap setelah makan malam dan menggunakannya sebagai tempat untuk saling mengintrospeksi dan menasehati, saya mendapat pelajaran-pelajaran kecil yang berharga. Misalnya tentang menjaga rahasia: selama bukan sesuatu yang diniatkan untuk menyakiti orang lain maka janganlah berusaha membuka apa-apa yang berusaha ditutupi orang lain, atau tentang kejujuran: kebohongan tidak akan menambah rezekimu sebagaimana kejujuran juga tidak akan mengurangi rezekimu, atau tentang menepati janji: sama-sama menggerakkan lidah tapi antara percakapan biasa dan janji terdapat perbedaan yang sangat besar.di akhir percakapan kau tinggal meminta maaf dan semua ucapan akan jadi seperti tidak serius. Tapi kalau kau sudah mengucapkan janjimu maka harus kau tepati meskipun harus mati.

Entah bagaimana prinsip-prinsip kecil seperti itu muncul dalam tingkah laku saya sehari-hari. Saya mencintai orang dengan sangat impulsif tapi ketika orang itu menyuruh saya berhenti mencintainya maka saya akan menjauh dan lama-lama berhenti mencintainya. Bila berjalan dan menemui jalanan menjadi sempit karena ada banyak orang disana maka saya akan memutar mencari jalan lain, akan sangat memalukan bagi saya berdesak-desakan dengan orang lain. Bila saya dan seorang teman sedang berkunjung ke rumah orang dan disuguhi kue yang sangat enak lalu setelah beberapa lama di meja tinggal sepotong kue saja maka sudah jelas saya tidak akan mengambilnya karena siapa tahu teman saya menginginkannya dan menginginkan apa yang diinginkan teman saya pastilah akan membuat saya merasa sangat malu. Dan kelakuan-kelakuan lain yang semacam itu. Beberapa menganggapnya sangat bodoh dan agak menyimpang dari kewarasan dan menasehati seharusnya saya tidak melakukannya tapi saya tetap saja melakukannya. Seperti sebuah reaksi alami. Sampai-sampai ada sebuah joke antara saya dan kekasih saya, kalau saya melakukan sesuatu dan tidak bisa menjawab pertanyaan tentang alasan saya melakukannya maka biasanya kekasih saya akan berkata ‘you don’t know why you do that. but your family pride does’.

Saya tidak berpikir bahwa itu buruk, meskipun saya tidak bisa mengelak kalau beberapa di antaranya sangat tidak praktis dan merepotkan. Dari semua kualitas atau kebodohan yang mungkin ada dalam diri saya barangkali pride is a stronger passion with me than love. Perhaps…

BLOSSOM

water colour on paper

TEMAN BERTENGKAR

Di antara adegan film yang saya suka adalah adegan ketika Vivien Leigh bertengkar dengan Clark Gable dalam film Gone with the Wind. Saya juga menganggap indah adegan ketika Anna beradu pendapat dengan King Mongkut dalam film Anna and the King.

Saya adalah orang yang menikmati pertengkaran. Tentu saja pertengkaran yang menyenangkan yang tidak diniatkan untuk menyakiti atau merendahkan satu sama lain. Apakah ada pertengkaran yang semacam itu? Ada.

Saya adalah orang yang beruntung karena sering menemukannya.

Saya mempunyai seorang teman smp. Anaknya cantik dan rambutnya panjang. Dia baik hati tapi sangat keras kepala. Dia berdiri di sebelah saya waktu upacara penerimaan siswa baru. Waktu habis menyanyikan lagu indonesia raya dia bilang “Kamu ga nyanyi ya?” Saya memang tidak pernah suka menyanyi, setiap upacara bendera dan harus bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan saya biasanya cuma menggerak-gerakkan bibir saja. Karena sebelumnya tidak pernah ketahuan saya jadi jengkel sekali dibuatnya. Sejak itu saya dan dia sering sekali bertengkar. Selama enam tahun itu kami tidak pernah sekelas satu kali pun tapi dia selalu tahu apa yang terjadi di kelas saya dan menjadikannya bahan pertengkaran. Biasanya kami bertemu saat istirahat dan selalu secara kebetulan berjalan pulang bersama-sama. Selalu ada satu dua pertengkaran pada waktu-waktu itu. Saya sering sekali pulang dalam keadaan jengkel dan berniat untuk tidak mengajaknya bicara lagi tapi keesokan harinya kami bicara seperti biasanya. Sama sekali tidak ada ritual minta maaf di antara kami. Sekolah kami memiliki satu kantin yang tidak begitu besar. Karena tidak pernah diijinkan jajan di luar rumah maka bagi saya makanan di kantin itu seperti ambrosia. Makanan yang paling saya sukai adalah gethuk goreng dan klenyem. Klenyem itu terbuat dari ubi jalar yang direbus kemudian dilumatkan dan ditambah gula baru dicelupkan ke dalam adonan tepung terigu dan digoreng. Saya biasanya memesan semangkuk es dawet, dan masing-masing sepotong gethuk goreng dan klenyem. Saya dan teman saya sering bertengkar gara-gara makanan di kantin itu. Menurutnya saya bodoh karena tidak mencoba makanan lain dan selalu makan terakhir. Saya tidak suka berada terlalu dekat dengan orang lain. Saya benci keramaian. Maka dari itu saya baru masuk kantin setelah anak-anak tidak lagi berdesak-desakan, namun akibatnya seringkali makanan yang saya suka sudah habis. Kalau tidak menemukan makanan yang saya suka biasanya saya tidak jadi makan. Kejadian di kantin itu sering menjadi bahan pertengkaran kami. Lucunya, dia punya kebiasaan memesan gethuk goreng dan klenyem tapi tidak menyentuhnya, begitu saya datang dia suka tiba-tiba mengganti pesanan tanpa alasan yang jelas sehingga walaupun saya datang belakangan saya tetap dapat memakan apa yang saya suka. Saya tidak tahu kalau teman saya itu menyayangi saya sampai saatnya pesta perpisahan kelulusan sekolah. Saat itu masing-masing anak diharuskan membawa satu hadiah perpisahan. Semua hadiah harus dibungkus dengan kertas koran. Pagi sebelum acara teman saya itu bercerita kalau hadiah miliknya adalah boneka peri dari satu toko. Saya sering lewat toko itu hanya untuk memandangi boneka rajutan yang dipajang di etalasenya. Saya menyukainya tapi tidak berani menginginkannya karena saya tidak punya uang. Sejak boneka itu dibeli orang saya jarang berhenti di toko itu lagi. Rupanya teman saya yang membelinya. Saya sendiri ketika itu membuat sebuah kolase, berisikan puisi, semacam ucapan terima kasih untuk kenangan tiga tahun yang indah, menghiasinya dengan bunga rumput kering, biji-bijian dan serbuk-serbuk mengkilat. Saya membuatnya sepanjang hari Minggu, sepenuhnya mengira kalau hadiah yang dimaksud guru itu adalah semacam tugas membuat prakarya. Merasa agak malu karena teman-teman yang lain tampaknya membawa hadiah yang dibeli saya meletakkan hadiah itu di bagian bawah tumpukan hadiah-hadiah yang ada. Pestanya berlangsung dengan meriah, saya merasa cukup senang karena makanan yang disediakan cukup enak. Tapi teman saya kelihatannya tidak senang. Sepanjang perjalanan pulang dia marah-marah tidak karuan. Besoknya saya baru tahu dari cerita teman, yang adalah tetangganya, kalau teman saya itu menangis sepulang sekolah kemarin karena ingin hadiah dari saya tapi tidak bisa karena sudah diambil anak yang lain dan waktu dia ingin menukarnya dengan hadiah miliknya anak itu menolak. Saya menyesal tidak menyadari isyaratnya,bahwa dia telah menandai sudut hadiahnya dengan tinta aga saya mengambil hadiahnya dan dia mengambil hadiah saya. Beberapa hari kemudian, waktu datang ke sekolah lagi untuk mengisi formulir pendaftaran sma, saya memberinya patung ikan dari sabun mandi yang saya ukir sendiri, saya katakan saya tidak punya lagi kertas seperti untuk kolase yang kemarin, dia diam saja tapi waktu pulang dia membelikan saya es. Kami tidak pernah bertemu lagi sejak hari itu tapi dengannya saya belajar bahwa ada sebagian orang di dunia ini yang menunjukkan rasa sayangnya kepada orang lain dengan cara memarahinya.

Kekasih saya adalah teman bertengkar yang sangat menyenangkan. Saya sering mendapat masalah disebabkan kecerobohan saya. Saya menganggapnya hal yang cukup lucu untuk dijadikan bahan tertawaan, tapi kekasih saya, yang merasa yakin bahwa salah satu misinya di dunia ini adalah mengurus saya, menanggapinya dengan serius. Terakhir kali dia membalut tangan saya yang keseleo dia berkata “Kok cuma begini? Kenapa tidak dipatahkan saja sekalian?” Saya menjawab “My life has the tendency to fall apart when I’m awake. I just can’t help it.” Kami bertengkar selama satu jam berikutnya gara-gara kata-kata itu. Orang yang tidak mengenal kami pasti akan mengira sedang terjadi perang dunia atau semacamnya kalau kami sedang bertengkar, padahal sementara orang mengkhawatirkan pertengkaran kami, kami malah sudah melupakannya. Saya pernah mendengarnya bercanda dengan seorang temannya bahwa we (maksudnya saya dan dia) will be happier fighting with each other than agreeing with anybody else dan menurutnya bertengkar akan improve my health. Sepertinya itu ada benarnya.

Kenapa orang yang saling menyayangi bisa bertengkar? Saya pikir itu karena kita menyadari keberadaannya. Seperti kita baru akan menyadari kalau bayangan kita begitu pekatnya karena salju yang ada di sekitarnya sangat putih. Karena mengakui keberadaan masing-masinglah makanya kita bisa bertengkar dengan orang lain.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.