Saya tidak pernah memahami arti sebenarnya dari kata family pride dan bahwa saya memilikinya sampai beberapa waktu lalu.
Saya pernah dicurigai menjalin hubungan yang tidak terhormat dengan seorang pria. Ketika itu saya masih kecil, belum mengetahui bahwa sebuah pembelaan diri bisa sangat penting untuk dilakukan, saya berpikir karena saya tidak melakukannya maka saya tidak perlu terlalu ambil pusing menanggapinya. Ketika saya sudah besar, saat saya tahu bahwa masalah itu ternyata lebih serius dari yang saya kira, saat saya tahu bahwa di dunia ini memang ada orang-orang tertentu yang menikmati perannya merusak hidup orang lain, saya merasa harga diri saya terluka. Demikian parahnya sampai saya tidak mampu untuk memaafkan orang-orang yang mencurigai saya melakukannya. Tentu saya tidak membuang waktu saya untuk merencanakan balas dendam atau apa, itu hanya akan menurunkan derajat saya hingga selevel dengan mereka, namun pertahanan diri saya bereaksi dengan meniadakan orang-orang tersebut dalam lingkaran kehidupan saya. Menganggapnya tidak pernah ada. Saya bersyukur saya pintar sekali dalam hal ini.
Namun beberapa waktu lalu, orang yang ada hubungannya dengan masalah itu menghubungi saya. Saya bersikap sopan padanya bahkan ketika dia mengungkit-ungkit masalah itu sebagai sebuah bahan candaan saya ikut tertawa bersamanya tapi tentu saja karena di dalam hati saya memang menyimpan sesuatu maka tidak bisa tidak pukulan balik itu pun muncul. Dengan bercanda pula saya mengatakan kalau masalah itu menyakiti saya dan hanya Tuhan sendiri saja yang bisa menyembuhkan rasa sakit itu. Entah bagaimana dia malah menyadari kalau saya sangat serius –saya tidak tahu kenapa candaan saya selalu dicurigai orang lain- dan akhirnya keluarlah permintaan maafnya kepada saya. Jawaban saya seperti ini “terus terang aku tidak berbakat memaafkan orang, aku juga tidak punya cukup kebesaran hati untuk bilang ‘tidak apa-apa’ atas sesuatu yangg tidak pada tempatnya. makanya jika sekiranya kau punya salah, tidak usahlah dibahas denganku,bahas saja dengan dirimu sendiri, apa memang sudah tepat konsep ‘salah dan benar’ yang kau anut. kalau memang tidak tepat beranilah untuk mengakuinya dan hukum dirimu sendiri. kalau memang menurutmu tepat-tepat saja ya marilah kita lupakan saja. percuma kau minta maaf jika dirimu sendiri saja tidak mampu menarik pelajaran dari kesalahan yang sudah kau buat.” Saya tidak tahu kalau kata-kata itu akan bisa membungkam orang lain tapi kalau saya memang merasakannya mau bilang apa lagi, iya kan?
Kekasih saya selalu mengatakan kalau saya itu never quite cured from a blow and will carrying a secret grudge for years until a suitable chance for revenge presented itself. Dari kejadian itu sepertinya kekasih saya mendapat pembenaran atas argumennya itu.
Dalam keluarga saya ada aturan yang sangat jelas antara apa yang patut dilakukan dan apa yang tidak. Dulu saya berpikir setiap keluarga memberlakukan aturan yang sama sehingga saya menerima aturan itu begitu saja, bahkan menganggapnya hal yang biasa-biasa saja. Tetapi setelah saya besar,mampu berpikir,mengutarakan pendapat dan menjelaskan dengan baik apa yang saya rasakan, saya menemukan bahwa saya dibesarkan dengan cara yang sedikit berbeda.
Dari percakapan-percakapan di malam hari, biasanya keluarga kami duduk bercakap-cakap setelah makan malam dan menggunakannya sebagai tempat untuk saling mengintrospeksi dan menasehati, saya mendapat pelajaran-pelajaran kecil yang berharga. Misalnya tentang menjaga rahasia: selama bukan sesuatu yang diniatkan untuk menyakiti orang lain maka janganlah berusaha membuka apa-apa yang berusaha ditutupi orang lain, atau tentang kejujuran: kebohongan tidak akan menambah rezekimu sebagaimana kejujuran juga tidak akan mengurangi rezekimu, atau tentang menepati janji: sama-sama menggerakkan lidah tapi antara percakapan biasa dan janji terdapat perbedaan yang sangat besar.di akhir percakapan kau tinggal meminta maaf dan semua ucapan akan jadi seperti tidak serius. Tapi kalau kau sudah mengucapkan janjimu maka harus kau tepati meskipun harus mati.
Entah bagaimana prinsip-prinsip kecil seperti itu muncul dalam tingkah laku saya sehari-hari. Saya mencintai orang dengan sangat impulsif tapi ketika orang itu menyuruh saya berhenti mencintainya maka saya akan menjauh dan lama-lama berhenti mencintainya. Bila berjalan dan menemui jalanan menjadi sempit karena ada banyak orang disana maka saya akan memutar mencari jalan lain, akan sangat memalukan bagi saya berdesak-desakan dengan orang lain. Bila saya dan seorang teman sedang berkunjung ke rumah orang dan disuguhi kue yang sangat enak lalu setelah beberapa lama di meja tinggal sepotong kue saja maka sudah jelas saya tidak akan mengambilnya karena siapa tahu teman saya menginginkannya dan menginginkan apa yang diinginkan teman saya pastilah akan membuat saya merasa sangat malu. Dan kelakuan-kelakuan lain yang semacam itu. Beberapa menganggapnya sangat bodoh dan agak menyimpang dari kewarasan dan menasehati seharusnya saya tidak melakukannya tapi saya tetap saja melakukannya. Seperti sebuah reaksi alami. Sampai-sampai ada sebuah joke antara saya dan kekasih saya, kalau saya melakukan sesuatu dan tidak bisa menjawab pertanyaan tentang alasan saya melakukannya maka biasanya kekasih saya akan berkata ‘you don’t know why you do that. but your family pride does’.
Saya tidak berpikir bahwa itu buruk, meskipun saya tidak bisa mengelak kalau beberapa di antaranya sangat tidak praktis dan merepotkan. Dari semua kualitas atau kebodohan yang mungkin ada dalam diri saya barangkali pride is a stronger passion with me than love. Perhaps…