Ada saat-saat tertentu ketika saya benar-benar kehilangan kesabaran. Di saat-saat seperti itu kalau saya memukul sesuatu sampai hancur saya akan merasa lebih baik.
Sekali seminggu saya membantu seorang teman di kelas craft-nya. Biasanya sambil menunggu jemputan datang saya menghabiskan waktu di rumah –yang menyatu dengan studio- milik teman saya itu. Rumahnya cukup menyenangkan, namun ada hal yang mengganggu. Di sebelah rumah itu ada rumah yang disewakan per kamar, bukan hotel, hanya semacam kost. Di depan rumah itu ada bangku-bangku marmer ditata mengelilingi sebatang pohon almond. Pohon itu tua dan besar tapi tidak cukup rimbun untuk menyembunyikan orang-orang yang duduk di bangku marmer itu. Dari jendela ruang tamu rumah teman saya saya dapat melihat siapa yang tengah berada disana dan karena jalan di sekitar situ hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki atau sepeda maka tempat itu cukup sepi sehingga saya -yang meskipun sangat tidak suka menguping- tidak mampu mencegah telinga saya untuk mendengar percakapan yang terjadi disana. Ndilalah kersaning Allah, waktu saya berada disana selalu bersamaan waktunya dengan kunjungan seorang pria Perancis pada salah satu wanita yang tinggal di rumah itu. Mereka biasanya duduk berdua di salah satu bangku dan pria itu menyibukkan dirinya dengan merayu si wanita. Kelihatannya wanita itu menikmatinya karena dia terus menerus tertawa hampir setiap tiga menit sekali. Ada dua hal yang mengganggu saya yaitu kata-kata pria itu dan tawa si wanita. Saya tidak mendapat nilai A dalam mata pelajaran bahasa Perancis tapi saya menguasai cukup kosa kata untuk bisa mengetahui bahwa yang dikatakan pria itu hampir semuanya vulgar dan menunjukkan selera yang rendah. Sedangkan tawa si wanita itu mengingatkan saya pada tawa geisha. Biasanya saya menganggap mereka seperti dagelan gratisan yang biasa saya tertawai diam-diam. Tapi ketika perasaan saya tidak enak mereka membuat saya kehilangan kesabaran. Seperti kemarin, kalau biasanya saya menyimpan pendapat saya di dalam hati maka kemarin itu saya mengatakannya. Saya duduk di dekat jendela sambil merajut sementara teman saya bekerja di depan komputernya. Pria perancis itu mengatakan hal yang vulgar dan kami berdua mendengarnya dengan cukup jelas.
Saya : Menurutmu berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum wanita itu menyadari kalau laki-laki itu menyebalkan?
Teman saya : Kurasa dia tidak akan menyadarinya. Dia bodoh.
Saya : Tapi dia cantik.
Teman saya: Tentu saja. Dia membutuhkan itu untuk pekerjaannya.
Saya : Model?
Teman saya : Dan yang lain-lainnya juga.
Saya : Maksudmu?
Teman saya tertawa.
Laki-laki itu mengatakan kalimat vulgar lagi dan si wanita tertawa.
Saya : Di negaraku kalau seseorang mengatakan itu di tempat umum akan ada orang yang mendatangi mereka dan mengatakan kalau mereka tidak sopan (membayangkan ketua RT di rumah)
Teman saya : Ah, dua orang itu hanya sedang bermain sandiwara saja.
Saya : Kenapa?
Teman saya : Disini, bagi orang-orang tertentu, satu-satunya alasan kenapa dia mengatakan sesuatu adalah karena dia tidak akan melakukannya. Tahu maksudku? Hubungan mereka tidak serius. Kalau tidak mereka tidak akan bicara.
Wanita itu tertawa lagi.
Saya : Ayo kita melihat berita saja. Dia wanita yang secara instingtif tidak kusukai.
Alhamdulillah saya manusia biasa yang tidak punya kekuatan, seandainya Tuhan memberi saya sebiji sawi saja dari apa yang saya maksud dengan ‘kekuatan’ itu rasanya saya bisa memastikan bakal terjadi ‘sesuatu’ dengan para pengganggu itu. Dan tentu saja itu sangat tidak baik makanya saya bersyukur itu hanya ‘seandainya’. Tapi sungguh, membayangkan saya mengucapkan mantera stupefy pada laki-laki itu dan membuatnya terpental beberapa meter jauhnya membuat saya merasa sangat terhibur.
Well, there is no spark of vanity in me. And I lie