Everybody has his own foolishness.
Itu kata sahabat saya.
Barangkali hidup dimulai ketika seseorang menemukan kelemahan-kelemahannya dan sepertinya akan berakhir ketika dia dapat hidup berdamai dengan kelemahan-kelemahan itu atau entah bagaimana tidak terlalu mempermasalahkannya.
Beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan jauh dan seperti umumnya orang yang akan melakukan perjalanan jauh saya meninggalkan beberapa wasiat.
Apa anda bertanya bagaimana perasaan seseorang yang menulis wasiat dalam keadaan sehat, bahagia, dilimpahi banyak cinta dan tidak mengharapkan kematian akan mengunjunginya dalam waktu dekat? Bertanyalah pada saya. Rasanya seperti seorang tokoh anonim yang invisible –dan kebetulan adalah anda- yang datang mengunjungi rumah anda pada hari pemakaman anda, tinggal disana sampai malam ke empat puluh dan mendengarkan apa yang dibicarakan orang-orang tentang anda. Rasanya seperti itu, tidak kurang tidak lebih. Tiba-tiba anda akan ingat hal-hal konyol yang pernah anda lakukan. Itu bagian yang lucu. Bagian yang tidak lucunya adalah tiba-tiba anda diharuskan untuk berpikir mengenai dunia dimana anda tidak ada didalamnya sementara hal-hal yang lainnya: orang-orang yang anda cintai, rumah yang anda sukai, taman yang anda rawat, semuanya masih sama. Sebuah tusukan tajam akan anda rasakan bila sebelumnya adalah orang yang percaya sepenuhnya akan idiom I’m somebody. Dan sebuah luka sayatan yang tak kalah menyakitkannya walaupun anda –seperti saya- selalu mengatakan I’m nobody setiap kali ditanya tentang keakuan anda. Entah bagaimana anda akan terdorong untuk melihat kepada hal-hal tertentu yang anda miliki dan berpikir itu dapat menjadikan dunia seseorang menjadi lebih baik atau setidaknya berguna untuk mengenang anda.
Sebuah badai dahsyat yang tidak saya sangka sebelumnya, menulis surat wasiat itu, walaupun hanya berlangsung sesaat, bisa saya lakukan juga. Saat ini surat wasiat itu telah saya lenyapkan –karena saya telah kembali dalam keadaan hidup- saya terlalu malu untuk membacanya ulang. Tapi saya masih ingat kata per katanya dan kemungkinan akan menuliskan hal yang sama kalau saya benar-benar didatangi tanda-tanda kematian.
Kira-kira satu minggu setelah saya menuliskan surat wasiat itu saya didatangi teman lama. Teman lama itu bukan berwujud orang tapi penyakit. Penyakit yang terlihat sepele tapi saya secara aneh memiliki dugaan kalau saya akan meninggal karena penyakit itu pada suatu saat nanti. Penyakit itu memiliki gejala demam tinggi, mulut pahit, kehilangan kesadaran (mengigau) dan tidak punya tenaga sama sekali. Penyakit itu jarang saya alami, barangkali bisa dihitung dengan jari, biasanya hanya datang pada saat saya mengalami sesuatu yang luar biasa: setelah ujian, sedang merasa sangat takut atau sedang sangat menginginkan sesuatu. Keluarga saya biasanya menghubungkan penyakit saya itu dengan hal-hal takhayul karena penyakit itu datang dan pergi secara tiba-tiba dan pengobatan biasa tidak menolong sama sekali. Penyakit itu selalu diawali dengan mimpi, mimpi tentang hal yang sama berulang kali selama masa sakit dan baru akan sembuh setelah mengalami mimpi yang sama dengan sebuah penyelesaian. Misalnya penyakit yang terakhir itu saya bermimpi berada di sebuah pesta kebun. Orang-orang memakai baju indah berwarna putih di taman yang indah. Saya menggendong bayi yang saya sayangi. Saya meninggalkannya sebentar di ayunan untuk pergi mengambil sesuatu, mungkin minuman. Waktu saya kembali, dari jauh saya melihat seseorang yang tidak saya kenal mengambil bayi itu. Saya mengejarnya tapi orang itu menghilang di antara kerumunan orang-orang. Saya mencarinya kemana-mana sambil menangis. Saya memimpikan hal yang sama selama empat hari saya sakit. Di hari kelima saya bermimpi orang yang tidak dikenal itu datang mengembalikan bayi itu pada saya. Pagi harinya saya bangun dan kepala saya terasa sangat ringan. Saya dapat bangun seolah-olah penyakit itu dihapus begitu saja dari diri saya.
Kalau dipikir-pikir tidak ada hal yang terlalu istimewa yang terjadi pada saya akhir-akhir ini. Ujian desertasi pun sudah lama. Saya tidak sedang dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan dan juga tidak merasa sedang menginginkan sesuatu dengan begitu menggebunya. Tapi penyakit itu datang begitu saja. Mungkin kebodohan sayalah yang telah mengundangnya. Mengingat saya masih suka terheran-heran setiap kali saya melakukan kebodohan baru, saya mungkin adalah orang yang masih harus hidup untuk menemukan kebodohan-kebodohan selanjutnya.
Everybody has his own foolishness. And perhaps life is about how to face it.