Sekitar satu jam sebelum saya menulis tulisan ini, saya dengan marah meninggalkan sahabat saya di YM. Sudah cukup lama kami tidak mengobrol dan sebetulnya saya merasa agak kangen padanya. Bagi saya mengobrol dengannya mengungkapkan dengan tepat arti ungkapan ‘orang mengantuk disodori bantal’, tapi dia adalah seorang yang punya bakat alami untuk membuat orang merasa jengkel.
Topik pembicaraan kami hari itu entah kenapa adalah kekasih gelap. Dia tidak sedang menjalin hubungan yang tidak terhormat dengan wanita lain ataupun merencanakan akan menjalin hubungan semacam itu. Sama sekali bukan disitu letak masalahnya. Di luar sifat menjengkelkannya dia adalah orang yang will never put his toe out of line. Baginya ada hal-hal tertentu yang dia lebih baik mati daripada melakukannya. Tapi kenyataan bahwa dia berpikir kekasih gelap adalah sebuah godaan yang menarik, sama dengan anggapan saya terhadap kroket isi udang (belakangan saya ingin sekali makan kroket isi udang tapi tidak diijinkan karena sedang sakit tenggorokan) itulah yang menjadi masalah.
Saya suka memakai ide tentang kekasih gelap pada cerpen-cerpen yang saya tulis. Kalau menulis sebuah kisah cinta ketika semua hal berlangsung baik-baik saja, lalu dimana letak menariknya? Justru karena ada hasrat yang diperturutkan dan nilai yang dilanggar maka kisah cinta gelap-gelapan itu menjadi sebuah cerita yang dramatis, menghibur dan lucu. Tapi ini hanya salah satu teknik bagaimana membuat sebuah tulisan menarik perhatian pembaca. Dalam dunia nyata teknik ini rasanya tidak bisa diterima begitu saja.
Saya bertanya-tanya kenapa kebanyakan orang, bahkan seorang pria baik-baik seperti sahabat saya, menganggap kekasih gelap adalah ide yang menarik. Saya berpikir mungkin itu karena mereka adalah orang-orang yang trapped in comfort zone dan memerlukan hal-hal yang atraktif untuk keluar dari rutinitas yang menjemukan. Tapi benarkah hanya karena alasan itu?
Kebetulan saya baru saja melihat film Casablanca. Saya penggemar film-film klasik dan menontonnya setiap saya punya kesempatan. Ada sebuah lagu dalam film itu yang sangat saya suka. As time goes by… Lagu ini dinyanyikan oleh Frank Sinatra. Dalam liriknya ada baris ini
Moonlight and love songs
Never out of date.
Hearts full of passion
Jealousy and hate.
Woman needs man
And man must have his mate
That no one can deny.
It’s still the same old story
A fight for love and glory
A case of do or die.
The world will always welcome lovers
As time goes by.
Bagaimana cara kita mencintai kekasih kita itu sepenuhnya adalah urusan kita sendiri. Tak ada yang lebih konyol selain memperbandingkan antara cinta kita dengan cinta milik orang lain. Saya menganalogikannya seperti ini. Di kebun buah berjajar pohon-pohon apel, seseorang dari generasi lampau menanamnya bertahun-tahun lalu dan saya sungguh berterimakasih padanya. Setiap pohon memiliki buah yang berbeda jenisnya, ada yang merah dan sangat manis, ada yang hijau dan sangat harum, ada yang kuning semburat merah yang ukurannya sangat besar dan juicy. Saya suka semuanya. Seorang tetangga saya di desa juga memiliki pohon apel. Setiap musim panen dia biasa mengirimi saya buah apel dari pohon itu dalam keranjang piknik. Buahnya besar, teksturnya lembut dan manis. Saya tidak pernah kekurangan apel dari kebun saya sendiri tapi jika tetangga saya itu tidak mengirimi saya apel saya merindukannya. Jika ditanya kenapa begitu saya hanya bisa menjawab “I should have been able fully to satisfy my appetite for apples at home; but there is a certain odd kink in human nature by reason of which the flavour of the apples belonging to somebody else is always vastly superior to our own.”
Apakah cinta seorang kekasih gelap lebih menakjubkan dibanding kekasih biasa saya tidak tahu. Sebuah jawaban ‘iya’ tentunya akan menyakiti hati. Keberanian memperturutkan hasrat dan melanggar nilai-nilai tidaklah selalu merupakan penanda akan besarnya cinta. Namun jawaban ‘tidak’ rasanya juga akan mendapat tanggapan ‘memangnya kau tinggal di dunia yang mana?’ Cinta yang besar, hingga merebut tempat dan kedudukan pikiran, sangat dekat dengan kebodohan dan kegilaan. Dan kita tahu ada saat-saat tertentu ketika kebodohan dan kegilaan terasa sangat heroik.
Mencintai dengan sangat intens, atau menurut istilah sahabat saya ‘mencintai sampai pada taraf berharap seandainya bisa tidak mencintai siapapun’ adalah sebuah pengalaman pribadi yang sangat mendalam dimana kebodohan dan kegilaan bercampur dengan keindahan seperti adegan dalam drama. Kenyataan bahwa tidak semua orang mengalami drama itu adalah sebuah pemicu yang lain kenapa sosok kekasih, baik yang terang maupun yang gelap, menjadi seperti teman imajiner dari anak tunggal yang kesepian.
Saya tidak ingin menarik kesimpulan apa-apa dari tulisan ini kecuali bahwa rasa bosan bisa sangat berbahaya bila disandingkan dengan human nature, melankolia dan dialami sambil memandangi keluar jendela. Adapun tentang sahabat saya mungkin dia sedang mencoba menulis novel romantis. Rasanya lebih baik saya berpikir begitu daripada marah-marah tidak karuan.
“punya kekasih gelap lebih banyak tantangannya”
hmmm,begitukah??
lebih deg deg serrr gt kalo ketahuan??hahaa
idunno.
Yang pasti menyajikan kisah yang mengiris-iris hati adalah kepandaianmu
ceetrul, saya lebih fokus pada ‘ide’ karena seringkali,sebagaimana yg kita ketahui, kenyataan selalu tidak ada ‘apa-apanya’ dibanding ‘ide’ hahaha
ummu safa, aku akan menganggap itu sebagai pujian hehehe…