Sekitar sebulan yang lalu seseorang menyurati saya dan mengatakan, “Saya menyukai gaya menulis Anda. Menurut saya sangat manis,” katanya. Sayangnya dia tidak menyebutkan tulisan mana yang dia maksud. Meskipun saya cenderung menganggap pujian sebagai ‘pil pahit bersalut selai manis’, tapi saya merasa gembira menerima surat itu dan menanggapinya sebagai sebuah tawaran persahabatan.
Anehnya, justru pada saat itulah saya mulai get tired menulis tema-tema yang manis dan romantis. Tulisan saya yang terakhir, yang mengejutkan saya, adalah mengenai kehidupan orang-orang yang mbau di hutan kayu putih di kampung halaman saya dimana kemiskinan membelit orang-orang dari generasi ke generasi.
Sekali saya pernah mengeluh pada teman seorang penulis senior tentang betapa mudahnya saya merasa bosan pada tulisan saya sendiri. Saya biasa menuliskan omong kosong berhalaman-halaman selama berjam-jam bahkan berhari-hari tapi kemudian ketika membaca ulang hasilnya saya merasa kecewa. Teman saya mengatakan itu karena saya sedang bosan dan need a pause. Dia menyarankan saya menulis sesuatu yang sifatnya berbeda dari apa yang sedang saya kerjakan. Sesuatu yang bisa dibaca anak-anak sekolah di dalam kelas seperti esai atau artikel. Sesuatu yang sangat serius. Atau sebaliknya sesuatu yang sangat tidak serius. Saya menyukai yang terakhir. Saya biasanya mengambil kertas surat dan menulis untuk teman-teman saya, menghibur mereka dengan hal-hal lucu yang saya alami atau saya pikirkan.
Saya bukan orang yang spesial. Kehidupan saya biasa-biasa saja. Tidak terlalu beruntung untuk mengalami kehidupan yang penuh cerita mengesankan. Kalau harus menulis autobiografi saya rasa bukunya tidak akan lebih tebal dari beberapa halaman saja. Tapi saya beruntung saya mengenal teman-teman yang memiliki kehidupan yang mengesankan itu. Dengan hak sebagai teman dan imajinasi sebagai medianya saya mendapatkan pelajaran istimewa dari kehidupan mereka. Perasaan mengalami pengalaman yang sama tanpa benar-benar mengalaminya.
Saya kira setiap penulis pernah menulis tentang kekasihnya, sahabatnya atau orang-orang yang dia kenal minimal sekali dalam proses kreatif mereka. Berteman dengan penulis bisa menyenangkan dan bisa tidak. Seorang penulis adalah seorang pengutip yang sempurna. Apa yang dia alami, dia dengar, dia baca, tersimpan di dalam alam bawah sadarnya dan ketika dibutuhkan muncul dalam teks aslinya dengan begitu saja di benaknya. Jika anda berteman dengan penulis jangan terkejut kalau dia ingat persis kata-kata yang anda ucapkan padanya sekian puluh tahun yang lalu dan menuliskannya dalam karyanya. Ini mungkin bisa menimbulkan perasaan yang tidak enak, karena kesan seseorang pada diri kita bisa jadi sangat berbeda dengan pandangan kita terhadap diri sendiri. Bagian menyenangkannya adalah dia mengabadikan persahabatan atau kisah cinta anda dan dia dalam sebuah karya seni. Apa yang lebih menyenangkan dibandingkan diabadikan dalam sebuah puisi?
Saya pribadi menetapkan standar moral yang ketat dalam hal ini. It is not a thing any Pramudhaningrat should do, make money out of the peculiarities of her friends. Saya tidak menyukai upaya menghinakan kehormatan orang lain dengan cara apapun. Betapapun menariknya, betapapun besarnya dorongan untuk menuliskan hal-hal ganjil yang ada dalam diri teman saya, saya selalu memilih untuk menyimpannya dalam hati saya sendiri. Kecuali kalau saya memang diijinkan untuk menuliskannya.
Mempertimbangkan hal itu, saya mulai mencoba metode baru. Menuliskan pengalaman saya yang tidak seberapa itu dengan memaksudkannya untuk menyampaikan nilai-nilai yang saya yakini. Hasilnya ternyata menjadi tulisan yang tidak bisa dikategorikan manis. Meskipun demikian saya melihatnya sebagai opsi yang bisa saya pilih. Kalau tidak bisa dibilang saya menjadi lebih dewasa maka mungkin saya hanya berubah menjadi lebih realistis saja. And I think it’s okay for now.