Ketika menuliskan tulisan ini saya sedang berada di Skotlandia, sedang melakukan apa yang saya sebut ‘perjalanan untuk berdamai dengan duka cita’. Seorang teman baik saya baru saja meninggal. Saya datang untuk menghadiri pemakamannya.
Suatu hal yang bagus sekali bahwa air mata itu diciptakan berupa air yang bening, tidak meninggalkan bekas dan cepat mengering. Kalau tidak pasti akan tertinggal jejak yang jelas sekali di belakang saya.
Selama bertahun-tahun kami menjalin persahabatan yang mengharukan, dan karena dia terlahir sebagai seorang yang penuh kasih dan mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, saya rasa itu bukan sesuatu yang mustahil.
Dua tahun terakhir dia dinyatakan mengidap penyakit kanker paru-paru. Ironis sekali bahwa dia diketahui menderita penyakit itu justru setelah dia bisa melepaskan diri dari kebiasaaan merokoknya.
Ketika pertama kali kuliah saya dan dia mengambil beberapa kelas yang berbeda. Seperti semua orang yang lain dia mau tidak mau terdorong untuk melihat kepada saya karena penampilan saya yang berbeda. Saya biasa menghabiskan waktu di perpustakaan. Suatu hari dia membantu saya mengambilkan sebuah buku di rak yang terlalu tinggi untuk bisa saya gapai. Satu atau dua menit kemudian dia bertanya “Bagaimana rasanya menjadi begitu berbeda?” Selama seharian itu saya belum membuka mulut pada satu manusia pun dan kalaupun saya sibuk bercakap-cakap itu hanya berbicara dengan diri saya sendiri. Setengah tidak sadar saya menjawab “Bersemangat. Kau tahu, sebuah tanaman kecil yang tidak diketahui namanya harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri lebih dari yang lainnya supaya tidak hanya akan berakhir di dalam buku tua.” Dia tertawa terbahak-bahak dan berkata “Kalau begitu kamu itu termasuk dalam species apa?” Ada sorot jenaka di matanya. Dia mempunyai mata berwarna hijau air dengan bercak-bercak keemasan yang sangat indah. “Masih Homo sapiens sayangnya,” jawab saya. Sejak itu kami berteman.
Dia memiliki kualitas-kualitas pribadi yang saya kagumi. Dia jujur dan sangat tekun. Dia adalah jenis orang yang selalu mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Melihatnya sedang terhanyut dalam pekerjaannya seperti melihat pemandangan indah. Dia memiliki rasa keadilan yang tinggi. Dia tidak pernah akan diam saja jika melihat hal yang tidak benar sedang berlangsung di dekatnya. Dia mampu menemukan hal positif di dalam diri orang lain bahkan ketika orang tersebut tidak menyadarinya. Dari semuanya yang paling saya sukai adalah bahwa dia menyayangi saya. Dia memandang saya dengan penghargaan seorang teman. Pandangan itu tetap sama baik saya sedang memakai baju Channel atau baju dari kain murahan yang saya jahit sendiri, sedang memperlihatkan kekonyolan pikiran saya sendiri atau sedang melakukan presentasi penting, sedang menangis atau tertawa, caranya menghargai saya tidak berubah.
Setelah lulus dia mengajar di sebuah college di Edinburg dan baru kembali ke kampung halamannya setelah jatuh sakit. Dia tidak memiliki suami atau anak dan tidak begitu dekat dengan kerabatnya. Mungkin itu sebabnya saya sering berpikir dia pasti merasa kesepian. Karena saya suka menulis surat maka sekali seminggu saya menulis surat untuknya. Walaupun kehidupan saya ya cuma begitu-begitu saja tapi saya beruntung bisa menemukan hal-hal kecil yang lucu yang bisa saya tulis untuknya. Dia membalas surat saya dan hal itu menjadi kebiasaan kami selama bertahun-tahun. Surat itu adalah hal pertama yang saya rindukan darinya setelah dia tiada.
Dalam suratnya yang terakhir dia mengutip puisinya Shelley:
Dust to the dust! But the pure spirit shall flow
Back to the burning fountain whence it came,
A portion of the eternal.
Dia dimakamkan di bawah pohon spruce tua yang dirambati tanaman wisteria. Dan satu hal yang saya pikirkan adalah dari sana dia bisa melihat pemandangan ke arah lembah, hal yang sering dia lakukan dan sangat dia sukai.