Mungkin karena saya seorang petani, yang dibesarkan di desa dan kebetulan bertempat tinggal di desa juga, saya merasa yakin saya dapat memperoleh makanan dengan menggali ke dalam tanah, memetik dari pohon dan mengumpulkan dari hewan-hewan yang saya pelihara. Keyakinan itu begitu kuatnya sehingga nyaris saja saya berpikir saya akan baik-baik saja tanpa hasil konvensi apapun yang disebut uang itu.
Secara harfiah saya tidak perlu mengeluarkan uang setiap hari jika saya berdiam diri saja di rumah. Saya dapat merebus telur dan minum susu untuk sarapan. Telur dan susu itu berasal dari ayam dan kambing yang saya pelihara. Siang hari saya dapat membuat sup tomat yang saya petik dari kebun. Malam hari saya bisa membakar ubi dan mengolesinya dengan mentega yang saya buat dari susu yang tersisa. Sesekali pada kesempatan khusus saya menangkap angsa atau kalkun untuk dimasak dagingnya. Mungkin ini bisa disebut keistimewaan khusus untuk petani.
Kenyataan bahwa ada saat-saat tertentu ketika pikiran ‘seandainya aku punya uang masalah ini akan bisa kuatasi dengan cepat’ ada di kepala saya adalah pukulan kenyataan yang dari dulu hingga sekarang selalu tidak dapat saya tanggung. Ketika seorang sahabat terkasih dijahati orang yang membuatnya terusir dari rumahnya sendiri dan harus memulai hidup baru di tempat yang asing, ketika dia, untuk pertama kalinya dalam belasan tahun kami bersahabat, meminta bantuan dan ketika saya, dengan semua usaha yang saya mampu, ternyata tidak bisa membantunya, saya merasa seperti tidak sanggup lagi menghadapi dunia ini.
Saya percaya setiap orang harus bertanggungjawab atas semua perbuatannya dan hidup dengan memangku tanggungjawab itu. Saya telah menyatakan bahwa saya mencintai dan menyayangi maka saya pun harus hidup dan bertindak sebagaimana seorang yang mencintai dan menyayangi. Saya pikir saya cukup berhasil melakukannya kecuali jika menyangkut masalah uang. Seseorang dapat mengharapkan saya duduk menemaninya melewati saat-saat yang menggelisahkan, atau berjalan kaki tiga mil untuk mengambilkan sesuatu, atau merajut baju hangat berbulan-bulan atau sesuatu semacam itu, jika seseorang memintanya dan memang benar-benar membutuhkannya pasti akan saya lakukan. Hanya uang saja rasanya yang membuat saya meragukan kemampuan saya. Saya seorang pekerja keras tapi sayangnya saya tidak memiliki bakat apapun yang berdaya jual. Bisa dibilang saya bahkan tidak akan bisa hidup kalau saya harus mengurus diri saya sendiri. Saya tidak pernah hidup kekurangan, sebagaimana yang saya gambarkan di bagian awal tadi, saya dapat hidup nyaman dengan kasih sayang Tuhan. Barangkali karena saya hidup dengan cara itu sehingga tidak tersisa sedikit pun tempat untuk apa yang mampu dinilai dengan ukuran nominal. Itu sekali waktu, ketika perasaan saya sedang tidak enak, membuat saya terpukul seakan-akan saya berkhayal tentang hal-hal yang indah lalu ada orang yang berkata ‘kau hanya memiliki khayalanmu saja’. Sebuah pukulan yang menjatuhkan saya ke tempat yang rendah.
Satu-satunya yang menyokong kehidupan manusia adalah rezeki dari Tuhan, bukan uang. Mungkin meyakini hal itu sebelum melibatkan diri terlalu jauh sebagai korban dari sebuah benda yang hanya merupakan sebuah hasil konvensi semata adalah satu-satunya penghiburan bagi saya.

ke sini lagi sob…
terima kasih sudah berkunjung
bagus ..
terima kasih
saya pembaca setia horison dan saya penggemar cerpen cerpen anda….
kalau boleh tau dimakan anda sekarang berdomisili?
Menyimak catatan ini, seperti menggambarkan sebuah perjalanan thareqot Mbak.. Semoga Tuhan selalu memberkatimu.. ^_^
amin. dan untukmu juga ^_^
terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya. saya senang sekali mengetahui anda menyukainya. saya tinggal di heidelberg, jerman